MENDUDUKKAN PERGULATAN BARAT, TIMUR, DAN ISLAM

Belum lama ini sekuel dari film Dune yang disutradarai oleh Denis Villeneuve tayang di bioskop. Hype dari film ini sangat tinggi mengingat pendahulunya di tahun 2021 mendapatkan kesuksesan komersial yang besar dan berhasil memborong piala dari berbagai kategori bergengsi di perhelatan Academy Awards. Tampaknya tahun ini film yang diproduksi oleh Warner Bros akan mendulang kesuksesan yang sama melihat respon positif yang diterimanya, ditambah jajaran cast yang sudah wara-wiri di berbagai film terkenal lainnya.

Film ini sendiri adalah adaptasi dari novel fiksi ilmiah berjudul serupa karangan Frank Herbert yang digadang-gadang terinspirasi oleh magnum opus seorang sosisologi muslim terkemuka, Ibnu Khaldun, berjudul Muqaddimah. Novelnya pun banyak mengutip dan mengadopsi berbagai hal yang berbau Timur Tengah, spesifiknya Islam. Mulai dari istilah-istilah sepertui Mu’addib, Lisan al-ghaib, sampai kata-kata yang sangat melekat dengan islam seperti jihad, maula, syuhada, dan lain-lain. Tidak hanya pemakaian istilah, dune juga mengadopsi niqab yang identik dengan pakaian Muslimah. Bahkan Paul Atreides, sang tokoh utama franchise ini digambarkan sebagai perwujudan Imam Mahdi dalam agama Islam.

Meski begitu, novel Dune dikenal cenderung cherry picking dalam mencomot budaya timur tengah. Ditambah filmnya sendiri adalah hasil produksi Warner Bros yang dikenal sebagai salah satu donatur Zionis yang menduduki Palestina. Anya taylor jonson, salah satu aktris di film ini juga tak lepas dari kritik karena penampilannya di salah satu premier yang terkesan menunjukkan kemunafikan barat terhadap Islam. Pasalnya ia mengenakan pakaian yang sangat mirip dengan hijab-nya orang islam. Hijab yang selama ini dicitrakan barat sebagai simbol pengekangan kebebasan wanita justru berubah jadi komoditas fashion yang modis dan keren ketika mereka yang memakainya.

Fenomena Dune beserta pro kontra yang meliputinya sedikit mengingatkan penulis kepada salah satu buku Goenawan Moehammad bertajuk “Dari sinai sampai Al Gazali”. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana barat senantiasa mengidentifikasikan timur sebagai objek atau ‘yang lain’, sebuah kontras yang memukau bagi Eropa yang sudah letih. Penggambaran Timur sebagai ‘barang temuan barat’ ini pun melahirkan anggapan bahwa timur perlu-demi kepentingan mereka- untuk dijinakkan dan diekaplor, sehingga tegaklah kolonialisme selama berabad-abad di berbagai wilayah timur, dan banyak diantaranya adalah negara-negara muslim. Selama itu dunia timur hidup dalam bayang-bayang hegemoni barat yang perkasa.

Arthur James Balfour, seorang negarawan berkebangsaan Inggris yang punya andil besar dalam berdirinya negara zionis di Palestina dikenal pernah mengeluarkan statement yang menunjukkan bagaimana barat, khususnya negara-negara Eropa memandang negara-negara timur. Sebagaimana dikutip oleh Edward Said dalam bukunya, Orientalisme, balfour berpendapat bahwa timur tidak mampu memerintah dirinya sendiri. Timur, khususnya Islam, mungkin punya sejarah gemilang yang panjang. Akan tetapi itu dulu. Pun masa keemasan itu diisi oleh pemerintahan yang otoriter. Hanya baratlah yang mampu memimpin dengan paripurna.

Dialog antara timur dan barat memang penuh dengan ketegangan. Kolonialisme yang berakhir tak berhenti di situ saja. Pergulatan keduanya berlanjut dengan istilah yang berbeda, yaitu globalisasi. Mode, trend, kultur, dan nilai-nilai timur diatur oleh barat. Islam sendiri mendapat tantangan baru, gazwul fikr. Perlawanan dan perjuangan bukan lagi dengan senjata, tapi dengan ide, gagasan, dan pengetahuan. Modernisme dan postmodernisme membawa benalu yang berbagai lini. Konsumerisme, kapitalisme, dan segala isme disumpalkan ke dalam duskursus ketimuran yang diaggap ketinggalan zaman.

Pada tahun 1992, Samuel Huntington, ilmuan politik asal Amerika Serikat mengeluarkan karyanya yang terkenal bertajuk “the clash of civilization and the remarking of world order”. Pasca perang dingin, Huntington percaya bahwa perang di masa depan bukan lagi perang antar negara, namun antar kebudayaan. Dan yang paling berpotensi menonjol adalah perseteruan antara barat dan Islam. Islam dianggap sebagai ancaman supremasi barat, makanya kebangkitannya harus diwanti-wanti.

Singkat cerita, pada pukul 10 pagi, tanggal 11 September 2001, dunia digemparkan dengan tumbangnya Menara kembar WTC yang menjadi kebanggan dan simbol pergerakan ekonomi Amerika selama bertahun-tahun akibat dua pesawat komersil yang menghantamnya. Tak butuh waktu lama, disimpulkanlah bahwa pelakunya adalah kelompok al-qaeda dan Osama bin Laden sebagai otaknya. Setelah peristiwa mengerikan itu, puluhan buku, ratusan artikel, berbagai jurnal ditulis mengenai Islam dan terorisme. Bahkan presiden Amerika ketika itu, George W Bush berkata bahwa barat kini menghadapi yang namanya perang salib baru (new crusade) dan Islam adalah musuh global. Teori Huntington terbukti benar. Islamophobia pun menjamur di seluruh dunia.

Kalau kita bertanya, apa yang membuat barat sebegitu takutnya akan Islam, kita akan sama-sama tidak sepakat kalau alasannya terdapat pada pemeluknya. Pasalnya kita sama-sama melihat bagaimana kaum muslimin khususnya zaman sekarang sama sekali tidak punya modal untuk melawan westernisasi. Orang Islam adalah kaum yang mudah diprovokasi, suka percaya takhayul, malas membaca, tidak kompetitif, miskin, dan lain-lain. Lantas apa yang menakutkan dari islam tak lain adalah ajarannya.

Naasnya, ajaran Islam yang dipahami oleh pemeluknya adalah ajaran-ajaran yang sengaja didistorsi dan diselewengkan sehingga tak heran kalau banyak umat Islam yang tidak paham akan agamanya sendiri. Padahal spirit dari ajaran itulah yang menguatkan umat inis selama berabad-abad. Dari masa nabi di Jazirah Arab sampai leluhur kita di Nusantara. Mirisnya lagi, kita sengaja dijauhkan dari kisah-kisah hebat itu. Kita tentu senang gema sholawat berkumandang di penjuru negeri. Akan tetapi, tanpa menggeneralisasi yang ikut sholawat tidak kenal siapa yang dia sholawati.

Oleh: MUHAMMAD SYAIFUL REZA, Mahasiswa Jurusan lmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo 2023.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *