Kamu memilikiku, tetapi aku tdk memilikimu.
Aku lebih baik-baik saja mencintai walau tak terikat daripada mencintai tetapi mengharuskan ada ‘saling’.
Kamu ada saat dalam suka saja, tidak dengan duka.
Aku tidak menemukan keteduhan yang meneduhkan segala duka lara.
Berada di sisimu aku belum sepenuhnya tenang untuk menjadi diri sendiri.
Egomu terlalu kuat menutupi.
Saat itulah luruh segala keyakinanku untuk kau jadikan teman hidup sejati.
Menjadi obat penenang saat gelisah saja tidak bisa, apalagi yang lainnya. Itu hal sepele yang mungkin bagimu tak penting.
Kau bilang aku selalu menuntut, namun pada kenyataannya tanpa kau sadari kaulah yang sebenarnya penuntut.
Usahlah mengatakan bahwa aku saja yang salah, padahal kita sama-sama menjadi tersangka. Untuk kita: mendewasalah.
Delia Fasya







