Mencangkul Bumi dan Langit

Tidak semua yang kita impikan bisa segera terwujudkan. Tidak semua yang kita cita-citakan mampu dicapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Apa pun yang kita miliki saat ini.

Entah itu memiliki privilege berupa networking yang luas, gelar yang berderet-deret, modal uang, intelektualitas, aset di mana-mana, dan semacamnya, itu semua tidak menjamin daftar target hidup bisa secara simsalabim abrakadabra tercapai.

Tidak hanya itu, kita tidak bisa mengandalkan ikhtiar yang menurut kita sudah sangat optimal. Sebab, sekali lagi, modal sosial, intelektual, dan ikhtiar, itu sama sekali tidak menjamin kesuksesan hidup. Tidak ada yang menjamin kita bisa dengan gampangnya menggengam dunia.

Barangkali, kita lupa bahwa ada faktor X yang menjadi penentunya. Di balik kemudahan dan kelancaran dalam mencapai cita-cita, ada tangan tak nampak yang mungkin kerap kali kita abaikan. Lebih jelasnya lagi, kita lupa bahwa ada Tuhan yang menentukan jalan hidup kita.

Ada kekuasaan dan kehendak Tuhan yang memang mutlak mengatur gerak-gerik dan jalan hidup kita. Maka tak heran, jika sebagian dari kita senantiasa dirundung kekecewaan demi kekecewaan mana kala yang didambakan meleset dari perkiraan. Apa yang diharapkan berbanding terbalik dengan kenyataan. Dalam hal ini, saya pun berpikir, faktor apa sebenarnya yang membuat seseorang belum atau bahkan tidak bisa meraih impiannya ketika semua modal ada padanya.

Perlahan, saya mulai menemukan titik terang dari jawaban tersebut. Usut punya usut, ternyata semua makhluk di dunia ini, termasuk kita sebagai manusia, telah dijatah rezekinya. Selain itu, kita pun hanya bisa berusaha. Yang menentukan tetap Tuhan yang Maha Kuasa. Barangkali, selama ini, kita telah menuhankan ikhtiar kita sendiri. Seolah-olah rumus hidup sukses itu sekadar bekerja keras siang-malam. Padahal, sudah banyak terpampang dengan jelas di hadapan kita, betapa banyak orang-orang yang berusaha dengan maksimal, tapi hidupnya begitu-begitu saja. Ada sebagian orang yang tidak mampu keluar dari jerat kemiskinan. Ada yang untuk sekadar memenuhi kebutuhan primernya saja susahnya minta ampun. Dalam hal ini, mungkin ada sebagian dari kita yang berpikir terkait keadilan Tuhan. Mengapa ada yang kerjanya santai tapi kekayaannya melimpah ruah, anaknya bisa kuliah sampai ke luar negeri, asetnya di mana-mana, mobilnya gonta-ganti, dan semacamnya.

Rasa-rasanya, kita tidak boleh mengambil kesimpulan secara serampangan. Sebab, kita sendiri tidak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Bisa jadi, orang yang kita anggap kerjanya santai itu, ternyata sosok yang sangat dekat dengan Tuhan. Siangnya dia “mencangkul” buminya Allah alias berikhtiar menjemput rezeki. Malamnya dia bangun untuk sholat Tahajjud, berdzikir, dan membaca Al-Quran untuk mendekatkan diri kepada Penguasa alam semesta. Atau dengan kata lain malamnya “mencangkul langit”. Orang tersebut memadukan antara ikhtiar bumi dan langit. Secara kasat mata mungkin keseharianya bekerja secara biasa saja.

Tapi, kita tidak tahu bagaimana dia membangun koneksi dengan Rabb-nya di waktu kebanyakan dari kita terlelap dalam tidur. Bisa juga orang tersebut memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Kedermawanannya tidak diragukan. Ringan tangan membantu orang-orang yang kesusahan. Sedekah yang dikeluarkan itulah yang menarik rezekinya. Menyebabkan datangnya rahmat dan karunia dari Allah.

Sementara itu, kita yang mungkin selalu diliputi kesukaran demi kesukaran, merasa tidak ada perubahan dalam hidup. Seakan-akan semua pintu rezeki tertutup. Seolah-olah langit runtuh ketika cobaan demi cobaan menghampiri. Padahal, kalau kita renungi lagi, bisa jadi kita selama ini terlalu jauh dengan Allah sebagai pengatur dan pengendali jalan hidup kita. Kita terlalu angkuh untuk sekadar menganggkat tangan dan berdoa memohon diberikan keluasan rezeki dan kekuatan menghadapi terjangan badai masalah.

Belum lagi, kita terlalu meremehkan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah yang harusnya totalitas mengabdi kepada-Nya. Bukan hanya pontang-panting menjemput rezeki tapi di sisi lain melupakan Sang Pemberi dan Pembagi rezeki.

Kita hanya mengandalkan logika dalam bekerja. Di sisi lain, melupakan Tuhan sebagai faktor penentu. Pantas saja hati kita merasa gersang dan gelisah ketika impian tak terwujudkan. Sebab, kita sendiri begitu arogannya mengentengkan kewajiban sebagai seorang hamba. Bahkan, persoalan ringan menjadi berat untuk dipikul sebab sudah terlalu jauh dengan Tuhan, Ambisi terhadap dunia benar-benar melenakan. Meninabobokkan kita. Bahkan sampai bisa membutakan mata hati kita.

Lalu, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika hubugan dengan Allah sudah baik, kerjanya optimal, sedekahnya rajin, tapi hidupnya begitu-begitu saja. Tidak ada progress.

Ketika problematika hidup terus menerus menghampiri kita, maka jangan pernah ada sedikit pun terbesit dalam hati buruk sangka kepada Allah. Sebab, lagi-lagi, kita harus meyakini betul bahwa rencana Allah terhadap hidup kita itu jauh lebih indah dan sempurna. Allah lah yang mengetahui apa-apa yang terbaik dalam hidup kita. Doa-doa yang kita panjatkan hanyalah menunggu waktu kapan akan dikabulkan. Tugas kita hanyalah bersabar dan berhuznuzan Kepada-nya. Berlapang dada ketika ujian bertubi-tubi menghinggapi. Bisa saja, itu cara Allah untuk menguji kita.

Bisa jadi, ujian tersebut juga menjadi cara Allah untuk mengangkat derajat kita, baik itu di dunia maupun di akhirat. Selain itu, ketika segala permintaan kita kepada Allah tidak kunjung terkabul, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan skenario yang yang jauh lebih indah dari rencana kita. Bahkan, kita sendiri bisa takjub dan tak pernah menduganya. Saya pribadi, sungguh-sungguh percaya, di situlah, salah satu bentuk nyata kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa.

Jadi, kesimpulan dari tulisan ini adalah jangan pernah putus harapan ketika beragam masalah hidup terus berdatangan. Bergantunglah selalu kepada Allah. Kita memiliki Allah yang Maha Besar. Semua masalah besar akan menjadi kecil jika kita yakin bahwa kita memiliki Allah yang Maha Besar yang mampu menghilangkan segala jenis masalah kita dalam sekejap. Sekarang, mungkin, sudah waktunya kita bermuhasabah. Periksa dulu sejauh mana hubungan kita dengan Allah. Jika masih agak jauh, maka mendekatlah.

Solusi utamanya untuk memecahkan persoalan hidup yaitu dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Jangan pernah menuhankan ikhtiar, intelektualitas, jaringan, dan semacamnya. Yang yang mengatur jalan hidup kita adalah Allah. Dialah yang mengetahui masa depan kita. Biarkan Allah membukakan dan menunjukkan solusi atas beragam persoalan hidup kita. Tapi, yang perlu menjadi catatan lagi, jangan pernah meninggalkan ikhtiar layaknya orang-orang pada umumnya dalam bekerja. Siang nyangkul bumi, malam nyangkul langit. Insya Allah, dengan begitu, hidup kita akan terasa ringan, mudah, dan lapang. Sukses di dunia dan akhirat. Amin.

*Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *