Hubungan antara Indonesia dan Malaysia mencakup berbagai aspek, termasuk peningkatan kerja sama kedua negara sebagai langkah strategi yang perlu dibangun melalui berbagai cara. Salah satu wujud dari hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia adalah kerja sama dalam meningkatkan perdagangan dan investasi, pengiriman tenaga kerja, serta terkait pendidikan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Faktor kemudahan bermigrasi dan terbatasnya lapangan pekerjaan di dalam negeri menjadi alasan banyak Warga Negara Indonesia (WNI) memilih bekerja di luar negeri (Novia, 2023). Minimnya sarana pendidikan memaksa anak-anak PMI, serta tuntutan perekonomian membuat anak harus bekerja membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika anak-anak PMI di Malaysia sulit mendapatkan Pendidikan disebabkan halangan dokumen yang tidak memadai.
Anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan kelompok yang sangat rentan dalam hal pemenuhan hak-hak dasar, terutama hak atas pendidikan yang layak dan berkualitas. Sebagaimana diatur dalam Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang telah diratifikasi oleh Indonesia, setiap anak berhak mendapatkan akses pendidikan tanpa diskriminasi, terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, maupun lokasi geografisnya. Namun, realitas yang dihadapi anak-anak PMI di luar negeri, khususnya di Malaysia, sering kali jauh dari ideal. Mereka kerap menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan akses fasilitas pendidikan, perbedaan bahasa, kondisi ekonomi keluarga yang sulit, hingga minimnya dukungan sosial. Kondisi ini membuat hak mereka atas pendidikan yang layak sering kali terabaikan, padahal pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik dan sebagai jalan menuju pembebasan dari siklus kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Akses pendidikan merupakan barang mewah bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Sebab, mereka tak punya dokumen kependudukan karena pernikahan pekerja migran tidak diakui Pemerintah Malaysia. Pemerintah Indonesia pun membangun Sekolah Indonesia hingga sanggar belajar/Bimbingan, agar mereka bisa mendapat akses pendidikan sekaligus jalan pulang ke Tanah Air.
Dalam konteks ini, Sanggar Bimbingan At-Tanzil Malaysia hadir sebagai sebuah oase pendidikan yang sangat penting bagi anak-anak PMI. Sanggar ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah ruang yang memberikan perlindungan, penguatan, dan pemberdayaan bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan. Melalui berbagai program pembelajaran yang terstruktur dan lingkungan yang kondusif, sanggar ini berupaya memenuhi hak-hak pendidikan anak anak dengan memberikan mereka kesempatan belajar yang bermakna dan relevan dengan kebutuhan mereka. Sanggar Bimbingan At-Tanzil juga berperan sebagai wadah yang menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk menggapai masa depan yang lebih cerah dan berdaya.
Optimalisasi peran Sanggar Bimbingan At-Tanzil semakin diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (PKN) IAI Al-Khairat. Kehadiran mahasiswa PKN tidak sekadar sebagai pendidik biasa, melainkan sebagai agen transformasi yang membawa inovasi dan semangat segar dalam proses pembelajaran anak-anak. Dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan partisipatif, mahasiswa mampu menghadirkan metode pengajaran yang lebih dinamis dan relevan, sehingga memantik gairah belajar dan pengembangan potensi anak-anak secara optimal.
Lebih dari itu, interaksi langsung dengan mahasiswa PKN menjadi sumber inspirasi yang membangkitkan semangat juang dan rasa percaya diri anak-anak PMI. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai fasilitator ilmu, tetapi juga sebagai sosok motivator yang menyalakan harapan—mendorong anak-anak untuk percaya bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan dan jalan menuju masa depan yang penuh peluang. Dengan energi positif ini, anak-anak PMI didorong untuk aktif berpartisipasi, bermimpi besar, dan mewujudkan potensi terbaiknya di tengah tantangan yang mereka hadapi.
Keberadaan Sanggar Bimbingan At-Tanzil sebagai pusat pendidikan alternatif bagi anak-anak PMI di Malaysia tidak hanya memberikan solusi atas keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga menjadi simbol nyata komitmen bersama dalam memenuhi hak-hak dasar anak migran. Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Malaysia, upaya ini mencerminkan bentuk kerja sama lintas sektor yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan tenaga kerja, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Pendidikan yang diterima anak-anak PMI di sanggar ini diharapkan mampu menjadi fondasi kuat untuk membentuk generasi masa depan yang lebih mandiri, berdaya saing, dan mampu berkontribusi positif baik di negara asal maupun di negara tempat mereka tinggal.
Lebih jauh, keterlibatan mahasiswa PKN IAI Al-Khairat Pamekasan dalam Sanggar Bimbingan At-Tanzil menjadi jembatan penting dalam memperkuat kualitas pendidikan dan pemberdayaan anak-anak PMI. Melalui interaksi yang intens dan pendekatan yang inovatif, mahasiswa tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai motivasi, kreativitas, dan semangat belajar yang tinggi.
Hal ini sangat penting mengingat kondisi psikososial anak-anak PMI yang sering kali mengalami tekanan akibat situasi keluarga dan lingkungan yang penuh ketidakpastian. Dengan demikian, peran mahasiswa PKN menjadi katalisator perubahan positif yang dapat mengangkat kualitas hidup dan harapan masa depan anak-anak.
Selain itu, program pendidikan di sanggar ini juga membuka ruang dialog dan advokasi terkait perlindungan hak anak. Melalui pendidikan, anak-anak diajarkan untuk mengenali hak-hak mereka dan bagaimana memperjuangkannya secara konstruktif. Kesadaran ini sangat krusial agar mereka tidak mudah terjebak dalam kondisi eksploitasi atau diskriminasi yang sering dialami oleh kelompok rentan. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas migran, diharapkan upaya pemenuhan hak pendidikan anak PMI dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Mahasiswa PKN IAI Al-Khairat Pamekasan tidak hanya berkontribusi dalam aspek akademik, tetapi juga memainkan peran krusial dalam membentuk karakter dan mentalitas anak-anak PMI agar lebih percaya diri dan resilien menghadapi tantangan hidup. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional dan sosial, sehingga mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi komunitasnya dan bangsa secara luas.
*Oleh: Rohaili, mahasiswa IAI al-Khairat Pamekasan.






