Dalam ilmu filsafat kedudukan perempuan cenderung sepele dan dipinggirkan dari sejarah panjang pergumulan filsafat dunia. Di antara dari padangan para filsuf dunia. Aristoteles menyebutkan jika perempuan sederajat dengan budak atau hamba sahaya. Perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan yang sepadan dengan laki-laki dalam kemapanan gagasan. Berbicara tentang perempuan, maka secara tidak langsung kita akan membicarakan tentang ideologi kita dalam memahami perempuan.
Sering kali disalah persepsikan makna perempuan sebagai sebuah ideologi. Ideologi laki-laki tentang perempuan yang cenderung misogonis menimbulkan perlakuan deskriminatif terhadap perempuan. Bahkan, seorang perempuan dianggap hanya sebagai pelengkap bagi kehidupan laki-laki secara materiil. Dari sanalah ketidakadilan terhadap kaum perempuan mulai bermunculan. Bahkan banyak orang memiliki stigma jika perempuan identik dengan kasur, sumur, dan dapur. Hingga tidak memerlukan pendidikan tinggi dan seakan-akan tidak pantas merangsek maju ke ranah publik.
Al- Ummu madrasah al- aula ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kata-kata mutiara tersebut tidak lagi asing di telinga. Lalu, bagaimana dengan adanya deskrimininatif yang menimpa kaum perempuan? Siapa yanga akan menjadi sekolah pertama bagi penerus bangsa ini jika bukan seorang perempauan? Apakah seorang laki-laki akan siap menjadi madrasah bagi anak-anaknya setelah lelah mengais rezeki? Saya rasa tidak akan sempat meluangkan waktu untuk mengajarkan huruf demi huruf merangkainya menjadi kata hingga menjadi suatu kalimat yang indah terucap manis di bibir Sang Buah Hati.
Lalu, apa kabar dengan penerus Bangsa yang cerdas, intelektual, idealis, kritis, optimis, dialektis jika ia saja terlahir dari rahim yang sama sekali tak memiliki kemampuan dalam mendidik? Tidak ada yang cerdas tanpa belajar, begitu pula perempuan. Jika ranah geraknya saja dibatasi, bagaimana nasib negeri ini? tanpa adanya penerus Bangsa yang berkualitas jika seorang perempuan hanya memiliki keahlian kasur, sumur, dan dapur?
Untuk itulah, sangat penting di zaman digital ini seorang perempuan untuk mendapatkan hak yang sama. Hak yang sama dalam arti berpendidikan, berorganisasi, menjadi sosok pemimipin suatu organisasi atau instansi, idealis, kritis, dialektis, pendapatnya dapat diterima publik. Karena untuk menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya tidak cukup jika hanya bermodalkan keahliah kasur, sumur, dan dapur.
Sejarah mencatat perihal gagalnya perjuangan kaum perempuan dalam mencapai kesetaraan dan keadilan yang dilakukan sejak dahulu untuk mengangkat harkat serta martabat kaum perempuan untuk menduduki posisi sejajar dengan kaum laki-laki. Meskipun, kekuasaan tertinggi di Negeri ini pernah dipegang oleh seorang perempuan, yaitu presiden Megawati Soekarno Putri dan banyak kaum perempuan yang menjabat sebagai wakil rakyat. Akan tetapi realitanya ketidakadilan gender masih belum mampu teratasi sebagaimana yang diharapkan. Tetap saja termarjinalkan dan tertinggal dalam segala aspek, baik dalam bidang hukum, ekonomi, maupun politik.
Padahal, kaum perempuan memperjuangkan kesetaraan dan keadilan haknya demi menciptakan generasi Bangsa yang berkualitas untuk anak-anaknya kelak. Agar nasib Negeri ini tau arah harus kemana dibawanya. Tanpa mengurangi sedikitpun hormat kepada kaum laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Tidak pernah terselibak niat untuk mengungguli derajat kaum laki-laki. Sebab, kodrat seorang perempuan ketika masih memiliki seorang suami maka ia akan tetap menjadikan suaminya sebagai tumpuan dan dimana ia harus menjadi makmum serta mengabdi lahir dan batin kepada suaminya.
Dan untuk menjadi seorang perempuan yang dimana adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak tidaklah mudah. Sebab, ia harus ikhlas dalam melayani suaminya lahir batin agar tidak jajan di luar, mengandung sembilan bulan lamanya, mengabaikan kantuknya tengah malam demi menenagkan bayi mungilnya, membimbing anaknya hingga tumbuh dewasa, mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa dibayar alias gratis. Padahal, pekerjaan pembantu saja dibayar dengan harga yang bisa dibilang lumayan. Masihkah pantas seorang perempuan menjadi korban deskriminasi?







