Aku bukanlah seorang perempuan yang dapat diandalkan. Perlu waktu yang panjang untuk menerima cinta yang datang. Penolakan dan penangguhan terus ku lakukan. Bukan karena aku sok jual mahal. Akan tetapi, kualitas diri adalah nomor satu bagiku. Mungkin, semua orang menganggapku sebagai perempuan yang pengecut. Takut akan cinta dan terlalu realistis. Tapi, semua itu ku lakukan untuk masa depanku dan masa depan keturunanku nanti.
Banyak orang menganggapku sebagai perempuan yang cuek, judes, dan sok cantik. Terselahlah, aku tak akan menganggap hal itu sebagai penghambat kesuksesanku. Aku tak menumpang hidup dari mereka dan mereka tak akan membuatku menjadi orang yang gagal hanya karena cemoohan dari mereka.
Aku tahu, pengetahuan agamaku masih dangkal. Untuk mengetahui kedudukan kalimat dalam Bahasa Arab pun seringkali mengalami kekeliruan. Rasa bahasa yang ku gunakan belum tentu benar dan mungkin masih bercampur dengan nafsu belaka. Karyaku pun belum satu pun yang dapat dibanggakan. Apalagi hafalanku masih sangat acak-acakan. Semuanya belum mencapai target yang diharapkan. Bagaimana bisa aku menjemput jodoh pada masa yang begitu jagung ini.
Wahai calon imam yang belum ku temukan jejakmu. Maafkan aku karena belum bisa membuka hatiku untuk mencarimu dan mengistikhorohkan namamu pada Tuhanku. Aku masih malu pada-Nya. Perjalananku masih panjang untuk sampai pada kata sempurna. Sifatku pun belum layak untuk dikatakan sebagai perempuan salihah. Aku di sini hanya bisa memperbaiki diri. Dan kau, di mana pun kau berada, ku harap kau juga melakukan hal yang sama. Mari kita bersama-sama mempersiapkan semuanya agar kelak kita bisa menjadi dua insan yang saling melengkapi kekurangan.
Mengikat dua hati menjadi satu ikatan yang sempurna bukanlah hal yang mudah. Diperlukan beberapa langkah agar semua yang dilakukan serasa sempurna. Kau pasti tahu hal itu. Oleh karena itu, bersabarlah dan memintalah pada Zat Yang Maha Pemurah, agar dirimu dan diriku dapat dipertemukan dalam keadaan yang sempurna dan nantinya kita dapat tertawa bersama.
Wahai calon imam yang tak tahu berada di mana. Ku harap kau tahu serpihan isi hatiku yang ku alunkan lewat sebuah coretan mungil ini. Salam. Aku yang menunggumu dengan memantaskan diri.
Oleh: Diah Nihayatul Azkia








Terimakasih 🙏