Umat Islam besok akan memasuki bulan Ramadhan 1444 H, bertepatan 23 Maret 2023. Waktu begitu cepat berlalu seperti lari maraton. Barangkali ada yang merasa baru kemarin berpuasa sebulan, kini sudah mau puasa kembali.
Dipertemukan kembali dengan Ramadhan tentu patut disyukuri, alhmadulillah. Sebab tidak sedikit yang Ramadhan kemarin masih dipertemukan, tetapi kini tidak bertemu kembali karena lebih dahulu dipanggil Allah Swt. Karena itu, sudah sepatutnya Ramadhan ini harus diisi dengan peningkatan kuantitas maupun kualitas ibadah.
Bagi umat Islam, Ramadhan mempunyai kedudukan dan makna yang sangat penting yang membedakannya dengan bulan-bulan yang lain. Umat Islam seantero jagad akan menyambutnya dengan suka cita. Banyak keistimewaan ritual dan historis terjadi pada bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, Allah Swt. menggariskan ibadah-ibadah yang tidak diwajibkan pada bulan-bulan lain. Misalnya puasa, seperti difirmankan oleh Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”, dan malam harinya disunnah shalat tarwih, dan memperbanyak aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah.
Wahyu al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam pertama kali turun pada bulan Ramadlan (Q.S. al Baqarah: 185). Lailatul Qadar yang kebaikannya melebihi seribu malam di luar lailatul qadar juga hanya terjadi di bulan Ramadlan (Q.S: al Qadar: 1-5). Umat Islam pertama kali memperoleh kemenangan dalam perang badar juga terjadi pada bulan Ramadlan. Bahkan menurut sejarah nasional Indonesia, bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah pun terjadi pada bulan suci Ramadlan.
Wajar apabila banyak label yang sering digunakan untuk menyebut bulan Ramadhan. Ramadhan sering disebut dengan Syahrul Ibadah (bulan ibadah) karena di bulan ini terhampar kesempatan beribadah yang luas dengan imbalan pahala yang lebih besar daripada bulan-bulan selain Ramadhan. Sehingga semangat beribadah umat Islam di bulan Ramadhan cenderung mengalami eskalasi.
Bulan Ramadhan juga dikenal dengan Syahrul Jihad (bulan perjuangan). Dikatakan demikian karena di bulan Ramadhan umat Islam dihadapkan pada sebuah perjuangan yang sangat besar, yaitu perjuangan dalam mengendalikan diri dari hawa nafsu yang diperbolehkan, yaitu nafsu makan dan minum serta aktivitas seksual di siang hari. Karena itulah, Ramadhan juga dikenal dengan Syahrus Shiyam (bulan puasa) yang makna harfiahnya adalah menahan, yaitu menahan diri dari yang sebelumnya diperbolahkan maupun tidak diperbolehkan.
Agar umat Islam bisa memaksimalkan amal dalam bulan Ramadhan nanti, ada tiga aspek yang perlu dipersiapkan, yaitu ruhiyah, jasadiyah, dan fikriyah. Untuk mempersiapkan ruhiyah/mental, dapat melakukan beberapa hal, yaitu: Pertama, berdoa agar Allah swt. memberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, bisa melaksanakan ibadah secara maksimal, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani).
Kedua, bersyukurlah kepada Allah Swt. atas karunia Ramadan dipertemukan kembali dengan Ramadhan. Imam Nawawi dalam kitab Adzkar berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
Ketiga, bergembira dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
Sedangkan untuk mempersiapkan jasadiyah, dilakukan dengan menjaga fisik dan lingkungan. Oleh karena itu, diajurkan untuk mandi, dan membersihkan lingkungan seperti rumah, masjid, dll. Selain itu, juga sangat baik merancang agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Sebab, Ramadhan sangat singkat. Isi dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Kemudian mempersiapkan fikriyah atau intelektual dapat dengan memperbanyak membaca buku-buku atau tulisan-tulisan tetang amalan puasa. Dapat pula dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sebab seorang muslim wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasanya benar dan diterima oleh Allah Swt.
Dengan mempersiapkan ketiga hal di atas, Insya Allah bisa menyambut Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan selalu mendekatkan diri. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka.
*Dikutip dari berbagai sumber.
Oleh: Dr. Al Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal





