Oleh: Mukharom, Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM) dan Mahsiswa Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik memiliki art, yaitu pulang ke kampung halaman. Misalnya seminggu menjelang lebaran sudah banyak orang yang mudik. Sementara pulang kampung memiliki arti kembali ke kempung halaman atau mudik. Mudik dan pulang kampung menjadi perdebatan setelah ada pernyataan dari Presiden Republik Indonesia. Namun demikian, dengan adanya pandemi Covid 19 yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Memasuki bulan Ramadhan saat ini dan sudah berlalu 11 hari, belum ada tanda-tanda Pemerintah mengeluarkan pengumuman mencabut status berakhirnya masa pandemi Covid 19. Permerintah jurstru mengeluarkan kebijakan larangan untuk mudik. Hal ini tertuang dalam Peratuaran menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020. Tujuannya adalah mengurangi penyebaran virus corona. Padahal, mudik sebagai tradisi masyarakat Indonesia menjelang Idul Fitri biasa dilakukan, sekarang menjadi sesuatu yang luar biasa karena ada larangan mudik. Jika kita telusuri makna lebih dalam tentang mudik, maka kita akan lebih dekat, tidak hanya dekan dengan keluarga, namun yang lebih utama dekat dengan Allah Swt.
Mudik adalah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halaman. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, menjelang lebaran misalnya. Tujuannya untuk bersilaturrahmi dengan sanak saudara dan terutama sowan kepada orang tua. Mudik merupakan sebuah tradisi negara berkembang yang mayoritas penduduknya muslim, seperti Indonesia dan Bangladesh.
Tahukah kita sejarah awal kata “mudik” di Indonesia? Sangat penting untuk mendapat penjelasan. Kata mudik berasal dari kata “udik” yang artinya selatan atau hulu. Sejarahnya adalah pada waktu itu, Jakarta memiliki wilayah bernama Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan lain sebagainya. Jakarta yang pada saat itu bernama Batavia, memiliki hasil bumi perkebunan seperti kebon jeruk, kebon kopi, kebon nanas, kemanggisan, duren kalibata, dan lain sebagainya. Kemudian para petani dan pedagang membawa hasil bumi melalui sungai, di stulah muncul istilah “milir-mudik” yang artinya bolak balik. Mudik menuju udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya dan dilakukan secara berulang kali. Istilah mudik kemudian familiar dan mengalami pergeseran makna sampai sekarang, dengan makna yang berbeda, yaitu kembali ke kampung halaman.
Tradisi mudik jika pelajari lebih dalam memiliki kandungan makna yang sangat mendalam, tidak hanya arti mudik pada umumnya yaitu pulang ke kampung halaman, tapi di balik semua itu ada makna yang sangat mendalam. Mudik mengajarkan kita arti dari sebuah sejarah, dan jangan melupakannya, sejarah di mana dilahirkan, tumbuh dan berkembang sampai dewasa. Fenomena sosial sebagai mahluk sosial, yaitu rindu kepada asal usulnya. Mudik pun memiliki sebuah nilai persatuan yang diwujudkan dalam bentuk silaturrahmi. Silaturahmi bukan merupakan tradisi akan tetapi merupakan bagian dari syariat. Hal ini sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw, bahwa silaturrahmi merupakan pertanda keimanan seorang hamba kepada Allah dan hari akhir, sebagaimana sabda beliau:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir; hendaklah ia bersilaturrahmi ” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Beliau juga menjanjikan bahwa di antara buah dari silaturrahmi adalah keluasan rizqi dan umur yang panjang, “ Barang siapa menginginkan diluaskan rizqinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik). Motivasi inilah yang menjadi dasar yang senantiasa terjaga setiap menjelang lebaran tiba, walaupun disisi yang lain teknologi komunikasi yang semakin canggih memudahkan kita untuk berkomunikasi, akan tetapi secara fisik tidak dapat dilakukan, maka silaturrahmi adalah solusinya yang dianjurkan agama dengan berkunjung secara langsung, bertatap muka, saling memberikan nasihat dan lain sebagainya. Dengan demikian persaudaraan dapat terjalin dengan baik, persatuan pun dapat terwujud.
Dalam makna agama Islam, mudik diartikan sebagai kembali pada ampunan Allah. Sesuai dengan Al Qur’an Surat Ali Imran Ayat 133 yang artinya “ Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa ”. Dorongan kuat inilah yang membuat pemudik dengan bersusah payah menempuh perjalanan ke kampung, dengan tujuan saling memaafkan, karena bagi yang berpuasa telah mendapatkan ampunan Allah, sedangkan kesalahan sesama manusia dengan cara bertemu secara langsung guna mengikrarkan kesalahannya dengan saling meminta dimaafkan. Makna yang lain adalah terdapat pada Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 156, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un artinya “ Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali ”. Permasalahannnya adalah apakah kita sudah siap dengan bekal mudik yang sesungguhnya? Bekalnya adalah iman, ilmu dan amal shaleh.
Semoga momentum Idul Fitri 1441 H bisa kita manfaatkan dengan baik, dengan mempersiapkan secara lahir dan batin untuk mudik ke kampung halaman dengan niat ibadah, memupuk silaturrahmi, bekalnya jangan lupa, kesehatannya dijaga dan berdo’a selamat sampai tujuan, berbahagia bersama keluarga. Jika situasi normal, artinya tidak ada pandemi corora. Namun, setelah Pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik, maka demi keselamatan diri dan keluarga sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
Mudik yang sesungguhnya adalah mudiknya kita kepada Allah Swt, yang harus kita persiapkan sebagai bekal kita kelak jika dipanggil menghadapNya, bekal iman, ilmu dan amal shaleh yang senantiasa terjaga dan terpelihara. Kondisi saat ini belum terlambat, jika kita menyadarinya, oleh karena itu, bersemangatlah untuk beribadah baik ritual maupun sosial dalam mengamalkannya. Semoga kita istiqamah dalam kebaikan, karena bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa, maka kesungguhan kita dalam mengisi hari-hari dengan beribadah harus menjadi hal yang utama, sehingga derajat taqwa akan diperoleh. Karena tujuan puasa adalah bertambahnya ketaqwaan kepasa Allah Swt.





