“Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik maka negara akan baik. Dan apabila perempuan rusak, maka negara akan rusak. Baiknya negara karena baiknya perempuan dan rusaknya negara karena rusaknya perempuan.”

Konsep perempuan sebagai tiang negara haruslah dipahami dengan baik karena apabila salah arti, perempuan akan merasa seolah ditekan menjadi sosok sempurna dalam semua aspek. Stigma tersebut tidak sepenuhnya salah karena pada kenyataannya perempuan memang memikul tanggung jawab besar sebagai madrasah pertama bagi anak. Dari rahim perempuanlah akan lahir para generasi penerus bangsa dan agama.

Tugas perempuan tidak cukup sampai titik itu saja. Perempuan memiliki intensitas bertemu dengan anak-anak lebih banyak dibandingkan laki-laki sehingga ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk membersamai dan mendidik sang anak. Semakin tinggi kualitas seorang perempuan (ibu), semakin tinggi kemungkinan ia bisa mencetak anak-anak seperti dirinya atau bahkan dengan kualitas lebih unggul.

Konsep perempuan sebagai tiang negara di atas disampaikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits. Ungkapan ini tentunya membawa kabar gembira bagi kaum perempuan. Dari sini saja bisa terlihat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi hak dan martabat perempuan. Padahal, di masa sebelum kedatangan Islam, perempuan mengalami diskriminasi yang luar biasa.

Pada masa itu, kekuatan dunia dibagi menjadi dua koloni besar;  wilayah timur dikuasai oleh Persia sedangkan wilayah barat dikuasai oleh Romawi. Di Persia, jika seorang suami meninggal dunia maka istri wajib dikuburkan bersama jasad suami walau dalam keadaan hidup-hidup. Di Jazirah Arab juga tidak kalah parah, wajah para orang tua akan berubah menjadi masam apabila bayi perempuan lahir di antara keluarga mereka. Mereka bahkan tidak segan-segan mengubur hidup-hidup bayi tersebut.

Baca Juga  Becak; antara Budaya dan Kebutuhan Transportasi Modern

Kelahiran Muhamad putra Abdullah sebagai nabi terakhir perlahan mengubah seluruh ketimpangan yang terjadi, baik di tanah Mekah maupun negeri lain, termasuk menempatkan perempuan ke derajat yang lebih mulia dibanding laki-laki. Bahkan Islam menjadikan perempuan shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

 الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ . رواه مسلم
Dunia adalah perhiasan, dan sebaik- baik perhiasan adalah wanita shalihah (HR. Muslim)

Tidak cukup sampai situ dalam hadits bahkan Rasulullah menyebutkan perempuan sebanyak tiga kali ketika ditanya siapakah manusia yang paling utama untuk dihormati. Untuk menjalankan misi menjadi sebaik-baik perhiasan, maka perempuan harus menempa diri untuk senantiasa menjadi mutiara dalam kerang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam menjunjung tinggi hak dan martabat perempuan dengan sangat menawan, mulai dari soal aurat, warisan, sosial, akhlak, sampai pernikahan. Saking banyaknya aturan yang membahas tentang perempuan, makin banyak pula bermunculan kitab-kitab fiqih wanita di dunia. Segala aturan yang ada tentu bukan bermaksud untuk mengekang pergerakan perempuan, namun justru untuk menjaga kehormatan mereka.

Baca Juga  Tirani Kampus Kita

Perempuan harus senantiasa mengembangkan kualitas diri dan menjaga kehormatannya dengan naungan iman dan ilmu. Kualitas dan kehormatan diibaratkan mutiara, sedangkan cangkang kerangnya ialah ketika perempuan senantiasa memagari diri dengan iman dan ilmu dari pengaruh buruk lingkungan atau masyarakat yang hanya berkedok baik untuk mengambil mutiara berharga milik perempuan tersebut.

Keimanan harus ditanamkan dengan kuat dalam diri untuk memperkuat prinsip perempuan dalam menjaga kehormatannya. Selain itu keimanan juga berfungsi untuk menuntun diri membedakan mana jalan yang harus ditapaki dan mana jalan yang harus dijauhi. Apalagi ketika seorang perempuan mulai berkecimpung dengan sosok laki-laki yang menyuguhkan sejuta pesona kepadanya.

Perempuan akan mudah menerima visualisasi tersebut dan menafsirkannya sebagai cinta ke dalam hati. Hal semacam ini begitu rawan akan liang dosa, apalagi jika tidak adanya bekal keimanan yang kuat, bisa jadi apa yang dikira cinta ternyata hanya nafsu belaka. Sebab, batas antara cinta dan nafsu hanyalah setipis kertas. Maka, ilmu harus hadir sebagai obor yang menerangi ketidakwarasan yang hadir akibat hitam putih antara cinta dan nafsu.

Adanya ilmu membimbing manusia untuk mensinergikan logika dan perasaan. Faktanya cinta tidak cukup dengan perasaan saja tapi harus dibarengi dengan logika yang waras. Jangan sampai dengan perasaan semu tersebut perempuan kehilangan logikanya sehingga menanggalkan kehormatannya.  Perempuan diciptakan dengan bayak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki,  hal itu lah yang membuat islam sedemikian ketatnya mengatur syariat untuk perempuan.

Naila Aulia
Aku Menulis karena pada dasarnya hidup adalah berbagi; ilmu, inspirasi, cerita, kasih dan cinta

    Hak Cuti Haid bagi Pekerja Perempuan dalam Undang-undang Ketenagakerjaan

    Previous article

    Aset Bangsa yang Tak Ternilai Harganya

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan