KURIKULUM MERDEKA, SEBERAPA EFEKTIF?

Sepeninjauan saya beberapa bulan ke belakang, selaku pelajar SMA, dalam angkatan perdana yang menerapkan sistem pendidikan bertajuk Kurikulum Merdeka, sebetulnya menyimpan banyak sekali benefit.

Di tengah zaman yang dikecamukkan oleh pancaroba, baik isu WW3 yang merembet dari segi ekonomi dan merebaknya negative ideologies, meledaknya inflasi, dan disruption of paradigms yang cenderung menempatkan paham-paham yang bersimpangan dengan kebenaran. Pola pikir pemuda harus diselamatkan, sehubung dengan masa depan dunia ada terangkam dalam tangan-tangan muda mereka. Salah satu jalan pendekatan yang efektif adalah dengan fine educational system, sistem pendidikan yang baik. Dengan pendidikan yang baik, maka akan tercipta insan yang berbudi baik pula, sebagaimana mestinya manusia tercipta.

Dalam proses mendidik insan manusia menjadi budi pekerti dan “manusia” yang baik, kita memerlukan satu hal krusial, yakni metodologi, cara mendidik manusia, dan remaja adalah tahap di mana manusia mengalami perubahan hormon yang menyebabkan beberapa perubahan pada diri manusia, fisik maupun psikisnya. Nah, salah satu dari perubahan hormon tersebut, adalah menyebabkan rasa ingin tahu dan mencoba pada diri remaja begitu tinggi. Mereka akan penasaran dan kepo terhadap segala hal baru dan tak sabar untuk mencoba.

Di samping itu, sistem pendidikan di negara kita belum sepaham dan memerhatikan betul terkait hal itu, dan malah mematikan rasa ingin tahu para remaja dengan silabus yang bersifat made the students boxes, mematenkan standar untuk semua siswa yang bahkan belum tentu mereka menerima standar tersebut. Mereka dipaksa, sehingga ketidaksukaan mereka dalam belajar muncul seketika. Padahal ketidaksukaan itu meredam keingintahuan mereka.

Sebagai contoh umum, mayoritas guru-guru di Indonesia mengklaim siswanya pintar jika ia dapat berhitung dengan cepat dan tepat, sebut saja matematikawan. Sedangkan masih banyak remaja yang memendam banyak sekali bakat dan minat dalam diri mereka, seperti olahraga, menulis, bahasa asing, sosiologi, memasak, dan lain sebagainya. Generalisasi guru ini merupakan kesalahan fatal, dan jika berkelanjutan, maka sedikit demi sedikit akan berpengaruh kepada kepercayaan diri dan kesehatan mental para pelajar yang kurang dapat memahami matematika secara cepat.

Indonesia tertinggal 250 tahun, dari negara-negara adidaya lainnya dalam segi pendidikan. Hal ini menjadi problem utama yang menyebabkan Indonesia termasuk dalam peringkat ke-62 di antara 70an negara dalam aspek literasi, sedangkan literasi adalah jembatan bagi ilmu pengetahuan. Mayoritas sumber-sumber ilmu terkandung dalam bacaan dan berlimpah jumlahnya. Jika generasi muda saat ini saja tidak dibekali dengan minat baca yang mumpuni, kapan majunya Indonesia?

Masalah ini tidak terlepas dari asal muasal pendidikan di Indonesia yang dibawa oleh bangsa Belanda, tepatnya sejak tahun 1901, saat kolonial masih menduduki Indonesia. Mereka mendirikan sekolah-sekolah misionaris dengan salah satu motifnya, yaitu untuk menciptakan kaderisasi yang baik dalam kepengurusan politik etis mereka. Tentu, dengan doktrin khusus yang telah mereka rancang, sehingga pola pikir pribumi dapat dimanfaatkan oleh mereka sebagai sumber daya tambahan.

Sampai pada saat ini, bangsa kita masih saja menggunakan puing reruntuhan kolonial untuk membangun rencana pelajaran. Dengan basic dan kaki-kaki yang sama, namun dengan isi yang mengalami berbagai amandemen oleh pemerintah. Lantas apa langkah kita selanjutnya?

Oleh karena itu, di pertengahan tahun 2022, Kurikulum Merdeka diterapkan serentak oleh Mendikbudristek, Pak Nadiem Makarim, dalam skala nasional. Menurut saya, Kurikulum Merdeka ini adalah salah satu metode yang efisien untuk mengakselerasi para pemuda dalam meraih “kemanusiaan” yang realistis. Dalam penerapannya yang mengoptimalkan literasi dan numerasi sebagai modal belajar, diharapkan akan menjembatani para pemuda dalam meraih keberhasilan mereka dalam menuntut ilmu dan berpola pikir secara merdeka.

Yang bagus, belum tentu mutakhir. Evaluasi dan pembenahan wajib diberlakukan dalam berbagai aspek. Terutama cara dalam menegakkan salah satu tonggak utama dari Kurikulum Merdeka tersebut, yakni literasi. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang memberikan siswa waktu membaca dan menulis selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai tidak terlalu efektif. Dikarenakan kurang adanya penyuluhan terkait literasi secara konsisten, keuntungan dan kemudahan apa yang diperoleh dari berliterasi, serta pengawasan yang berkelanjutan dari pihak guru saat seperempat jam literasi itu sendiri.

Terlebih, jika diberlangsungkan secara daring. Sebetulnya sah dan sudah cukup efektif jika sekolah-sekolah sudah mulai agile dengan arus perkembangan teknologi. Namun sebagaimana yang kita semua tahu, bahwasanya aplikasi Tiktok terdapat di hampir seluruh handphone pelajar baik pria maupun wanita. Jika kita bandingkan dengan beberapa menit GLS online, dengan pengawasan dan cara yang kurang tepat, maka Tiktok menjadi peralihan tercepat, dan scrolling adalah kegiatan tercepat dan menarik yang dapat mereka lakukan, daripada harus membaca beragam artikel dengan teks bejibun yang looks boring, apalagi jika harus menyimpulkannya. It doesn’t work anymore.

Bisa karena terbiasa bukan? Oleh karena itu pembiasaan untuk berliterasi ini perlu diprioritaskan dan dikembangkan. Literasi tidak melulu soal membaca dan menulis yang terkesan membosankan di mata siswa. Namun, literasi adalah proses untuk memaknai sesuatu, dalam konteks ini, segala sesuatu itu pasti memiliki makna. Bisa saja dalam menggambar, melukis, memotret, merekam, dan lain sebagainya. Guru-guru diharapkan dapat mengemas kembali sesi literasi tersebut dengan hal-hal yang menarik minat siswa, sehingga menciptakan chemistry antara pelajar dan literasi di sana. Seperti memberikan ice breaking, FGD (Focus Group Discussion), presentasi, dan bedah buku dengan teknis yang seru.

Pun literasi juga membutuhkan jam terbang yang lebih. Tidak cukup jika hanya seperempat jam dalam sehari. Bagaimana bisa semua pelajar dengan latar belakang dan cara belajar yang berbeda-beda dapat menguasai literasi dalam waktu yang sesingkat itu? Sekali lagi, literasi tidak selalu hanya beralaskan dengan kegiatan membaca dan menulis. Selagi pelukis, fotografer, dan videografer dan pelaku karya lainnya yang dapat menjelaskan makna yang terkandung dalam karyanya, maka literasi dapat disebut berhasil. Struktur berpikir mereka mulai terbangun.

Salah satu target dari Kurikulum Merdeka ini, adalah memastikan seluruh siswa dapat menuliskan sebuah karya tulis dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang juga berisikan solusi terhadap masalah sosial yang terdapat di Indonesia. Hal ini juga mendatangkan manfaat berupa bantuan ide yang bersifat problem solver kepada para pemerintah, sehingga mereka dapat melakukan check and re-check, lalu membenahi kembali permasalahan tersebut atas landasan karya tulis yang tersedia dan keberagaman hayati dan fasilitas yang komplit terkandung di Indonesia.

Sebagai contoh, salah satu dari beberapa Gagasan Tulis Ilmiah (GTI) yang pernah saya baca, prakarsa tiga orang siswi dari SMA Cendikia Muda Bandung, tentang keuntungan dalam mengintegrasikan Pumped Hydro Storage dengan usaha agrikultur berupa sistem penanaman berbasis aeroponik. Dengan melirik kepada faktor geografis Daerah Cisokan yang cocok untuk menanam kentang, faktor sosial yang mayoritas masyarakat Desa Sukarama yang bermatapencaharian sebagai petani, juga degan faktor spasial dengan ketersediaan lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Polemik di atas dapat menjadi acuan untuk menerapkan gagasan tersebut.

Dengan memanfaatkan cara kerja PHS yang menggunakan dua reservoir yang berbeda baik dari segi kontur maupun volume masing-masing reservoir tersebut dengan sistem aeroponik yang membutuhkan air untuk menciptakan sprinkel berisikan nutrisi tumbuhan, sehingga timbul sebuah kerjasama di sana. Di mana PHS sebagai supplier air untuk aeroponik, sedangkan air yang sudah dikonsumsi akan dialirkan kembali ke tempat semula, sehingga tak perlu takut akan penyurutan reservoir bawah secara signifikan.

Hal ini dapat menjadi sebuah lapangan pekerjaan baru yang inovatif dan efisien bagi para masyarakat Desa Sukarama. Karena dengan sistem aeroponik yang tidak memerlukan space yang terlalu banyak, sehingga lahan-lahan sekitar dapat dimanfaatkan untuk mendirikan bisnis lainnya. Pun dengan sistem aeroponik ini memiliki nilai tambah dalam ketahanan hama dan durasi panen yang terbilang cukup cepat.

Kesimpulannya, Kurikulum Merdeka benar-benar memerdekakan pola pikir manusia. Bahkan sepanjang sejarah Indonesia, Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang paling efektif dan adaptif dengan perkembangan zaman. Dengan doktrin merdeka yang tercanangkan dalam akal sehat para pemuda, diharapkan bangsa Indonesia dapat melesat, even through off the moon dalam segala aspek di tangan-tangan pembaharuan para pemuda bangsa.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *