Akhir-akhir ini boy band terkenal Korea Selatan BTS tengah jadi perbincangan hangat di media. Mereka bekerja sama dengan McDonald’s meluncurkan produk makanan yang diberi nama BTS Meal. Menu tersebut dijual sejak Rabu (9/6) kemarin. Tak perlu waktu lama, ARMY atau sebutan untuk fans BTS langsung menyerbu seluruh gerai McD di Indonesia. Hal ini wajar karena BTS memiliki penggemar yang banyak di Indonesia. Yang akan kita bahas adalah mengenai perilaku fans fanatik yang rela melakukan apapun dan berkorban apapun demi idola Korea-nya. Selain melahirkan Inferiority kompleks, hal ini juga bisa mengikis nasionalisme.
Di dalam dunia per-Korea-an terdapat istilah Koreaboo. Itu adalah seseorang yang terobsesi dengan Korea (K-Pop atau budaya lainnya) sehingga mereka mencela budayanya sendiri dan menganggap ia bagian dari Korea. Biasanya mereka diidentikan dengan fans fanatik dan penggemar game league of legend.
Bahkan lebih dari itu, Koreaboo over fanatik dengan Korea sehingga menganggap negara sendiri jelek dan negara Korea nomor 1 di dunia. Dari nasab atau keturunan, mereka tak memilik darah orang Korea. Sikapnya yang memalukan, membuat siapapun merasa jengkel melihatnya.
Koreaboo pada dasarnya sama dengan istilah weeaboo (di Indonesia dikenal dengan sebutan Wibu) atau seseorang yang suka dengan budaya (anime dan lainnya) Jepang hingga merasuk ke dalam gaya hidupnya. Di Amerika, kata Koreaboo spesifik ditujukan pada orang orang yang menyukai K-pop. Meskipun tidak sepenuhnya orang yang menyukai K-pop adalah Koreaboo.
Hal senada juga disampaikan oleh para fans K-pop. Mereka menentang diri mereka disematkan dengan istilah Koreaboo. Bagi mereka, fans K-pop dan Koreaboo adalah dua hal yang berbeda. Perbedaannya terletak pada gaya hidup dan kefanatikan yang over, meskipun faktanya justru sebaliknya.
Hal berlebih lain dari para Koreaboo selain over fanatik adalah mereka mendewakan Negera Korea, membenci lahir dari negara asalnya, merasa dirinya adalah oppa dan menginginkan memiliki pasangan orang Korea, makan dan minum serta berpakaian ala ala Korea, sampai ada yang mengganggu privasi orang Korea di media sosial demi dirinya memiliki teman orang Korea. Berlebihan dan terlihat sangat tidak memiliki adab.
Di dalam dunia psikologi, ada penyakit berbahaya yang melanda orang yang berlebihan dalam menyikapi sesuatu seperti Koreaboo. Diantara penyakitnya adalah celebrity worship syndrome yaitu kondisi terobsesi dengan kehidupan pribadi para member K-Pop. Seperti penelitian dalam jurnal UIN Syarif Hidayatullah, lebih parah lagi menganggap bahwa sang idola mampu membantunya, menolongnya, membelanya sehingga mereka akan marah jika idolanya di jelek jelekan dan tak melihat kekurangan suatu apapun pada diri idolanya.
Menyikapi pemberitaan mengenai BTS Meal, ternyata hal tersebut merupakan salah satu indikasi terkena virus Koreaboo. Wajar jika fans biasa (normal) membeli album, makanan, aksesoris dll. Akan menjadi tidak wajar ketika membeli barang dengan jumlah banyak secara terus menerus tanpa memikirkan resiko keuangan. Tak peduli uang bulanan atau gajihan habis. Semua dibeli bukan karena kebutuhan melainkan karena gengsi dan ego.
Apakah masih terdengar wajar saja? Bagaimana dengan istilah psikologi lain yakni werther effect. Fenomena ini adalah salah satu hal bodoh yang dilakukan oleh manusia. Istilah ini digunakan untuk kasus seseorang yang bunuh diri karena ia depresi idolanya bunuh diri. Banyak kasus terjadi seperti kematian aktor Choi Jin-Sil yang meninggal akibat gantung diri, Ahn Jae-Hwan menghirup gas briket, dan yang paling membekas bagi masyarakat Indonesia adalah kematian salah satu personil boyband SHINee yang kemudian kematiannya ditiru oleh fansnya di Indonesia.
Fanatisme yang berlebihan pada Korea justru dapat mengakibatkan terkikisnya rasa cinta terhadap budaya lokal. Sehingga budaya lokal yang merupakan warisan nenek moyang dibiarkan dan diacuhkan, teralienasi sendiri oleh pewarisnya, terlupakan dan terinjak injak oleh budaya asing. Salah satunya adalah bangga dengan fashion dan budaya Korea dibandingkan dengan budaya daerahnya sendiri. Pudarnya cinta terhadap budaya lokal dapat dilihat juga dari cara berkomunikasi para remaja yang cenderung mencampur adukkan dengan bahasa Korea. Padahal bahasa adalah komponen terpenting untuk menyatukan keberagaman.
Sebenarnya, selama tidak bertentangan dengan norma menyukai K-pop sah sah saja. Namun, alangkah lebih baiknya jika memahami dan mempelajari budaya lokal sendiri yang tak kalah saing dengan budaya asing. Inilah pentingnya menanamkan sikap dan nilai nilai nasionalisme kepada para penerus bangsa. Perlu adanya peningkatan atau strategi agar pemuda Indonesia memiliki kecintaan kepada budayanya sendiri.







