Lanturan takbiran yang menggena di jagat dunia maya dan nyata menandakan berakhirnya bulan suci Ramadhan 1441 H dan datangnya hari raya Idul Fithri. Berlalunya Ramadhan tentu saja bukan berarti menjadikan semangat kita untuk menjalankan ritual dan amal sosial mengendur. Karena pada bulan ini, sebagaimana sabda Nabi: “Setiap amal anak adam dilipatgandakan pahalanya. Tiap satu kebaikan, dilipatkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat.” (HR Bukhari Muslim).
Di hadis lain, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain ibadah yang berdimensi individu seperti membaca Alquran, shalat malam dan sahur, bulan puasa juga memiliki dimensi sosial seperti zakat dan sedekah. Berkaitan dengan sedekah, kata Nabi Muhammad: “Barang siapa memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad). Dalam kesempatan lain, Nabi bersabda: Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).
Contoh sedekah dalam bentuk lain dari hadis Nabi di atas dalam konteks pandemi Covid-19 misalnya, adalah sedekah atau gotong royong mengentaskan kebutuhan masyarakat, terutama yang tidak mampu karena terdampak Covid-19, menyumbang alat pelindung kesehatan untuk garda terdepan penangan Covid-19 (para medis). Semangat berbagi dan menguatnya kepeduliaan sosial inilah yang harus terus dilanjutkan, meskipun Ramadhan telah berlalu.
Peduli di tengah pandemi menjadi kata kunci untuk meraih kesuksesan Ramadhan kali ini. Zakat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari puasa Ramadhan juga merupakan wahana pembelajaran diri agar kita peka dan peduli terhadap keadaan sekitar. Dimensi-dimensi ibadah sosial sebagai motivasi kita untuk terus melakukan amal kebaikan dengan menyisihkan rezeki yang kita miliki untuk diberikan kepada orang atau kelompok yang berhak sangatlah mulia dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Swt.
Jadi, mau tunggu apa lagi? Jor-joran dalam ibadah, gila-gilaan dalam bersedekah adalah langkah yang tepat di saat sebagian saudara kita banyak yang menjadi korban Covid-19 baik secara fisik maupun ekonomi. Jangan sia-siakan Ramadhan, Yuk Dulung Pahala dengan sedekah sebanyak-banyaknya!







