Tidak sedikit santri yang sudah luntur jiwa santrinya ketika sudah
tidak nyantri disebuah pesantren. Banyak anggapan bahwa dirinya tidak
lagi terikat oleh peraturan sebuah lembaga pengkajian. Sehingga
membuatnya lepas dari tatanan budaya yang dilakukannya selama
nyantri. Pudarnya konsistenitas dalam diri santri yang sudar tertanam
sejak nyantri.
Terdapat beberapa santri yang keluar dari pesantren memilih
langsung berumah tangga dan mempunyai keturunan, padahal mereka
memiliki bekal ilmu yang bisa digunakan untuk memajukan dirinya
sendiri atau lebih lebih orang lain.Namun, pada kenyataannya mereka
memilih untuk menikah. Dan ketika sudah berumah tangga mereka
melupakan kebiasaannya ketika nyantri, karena sudah sibuk dengan
urusan rumah tangganya, semisal telat bangun sholat subuh berjamaah
karena kecapekan seharian mencari nafkah dan lelah mengurusi rumah
tangga.
Seharusnya Santri mengimplementasikan ilmu yang didapatnya
dan selalu istiqomah menjalankan budaya yang telah dikerjakannya
selama beberapa tahun di Pesantren dan mampu membawa budaya
tersebut dimanapun santri itu berada.
Sepantasnya santri menjadi seseorang yang dapat membawa
perubahan pada bangsa ini, yang mampu memberi pengaruh yang
sangat kuat dalam memperbaiki masalah yang telah terjadi di Indonesia
ini. Bukan malah lepas tangan begitu saja dengan pasrah dalam
anggapan yang salah selama ini. Anggapan bahwa santri cukup dengan
bekal ilmu agama untuk berumah tangga.
Karena, dalam kehidupan era sekarang ini banyak tantangan yang
harus dihadapi untuk tetap menjaga keutuhan dan kesatuan dalam
bidang agama dan nasionalis. Oleh karena itu, santri tetap harus ikut
dalam melawan dan terutama mencegah pertentangan yang akan
terjadi.
"Para santri membentengi Indonesia dari berbagai ancaman
selama beradab-abad, dari serbuan kolonial, agresi militer hingga
ancaman terhadap ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa," kata
Munawir Aziz, penulis buku ‘Pahlawan Santri, Tulang Punggung
Pergerakan Nasional’ dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom,
Sabtu (7/5/2016).
Dalam kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa santri memiliki
peran penting bagi kesejahteraan dan kedamaian bangsa dari berbagai
macam ancaman pihak pihak yang ingin menghancurkan bangsa ini.
Dan lebih lebih mengadu domba antar umat beragama.
Bagaimanapun juga, santri telah ikut andil sejak dulu semasa
penjajahan yang dilakukan pihak pihak asing yang sangat tidak patut
untuk ditolerin. Kiai dan santri telah memberi tenaga bahkan nyawanya
untuk kemerdekaan bangsa ini. Pada tanggal 22 Oktober 1945 telah
dikenang sebagai hari terlaksanannya resolusi jihad yang digelorakan
oleh Hadratus Syaikh Hasyim As’ari. Sehingga saat ini ditetapkan sebagai
hari santri nasional.
Jiwa Santri Harus Tetap Melekat
Sebagai seorang yang sudah memiliki bekal dan basic agama yang
cukup, santri harus tetap menjaga apa saja yang telah menjadi
kebiasaannya dan jiwa kesantriannya selama di Pesantren tetap terjaga
meskipun sudah tidak lagi dalam lingkup suatu kelembagaan pesantren.
Karena santri harus tetap meneruskan perjuangan yang sejak dulu telah
diperjuangkan mati matian.
Tidak hanya jiwa konsisten yang harus dipertahankan dan dijaga.
Santri juga harus menghilangkan sifat nerimo ing pandum, maksutnya
hanya diam dan pasrah dengan pemberian dari Allah. Sikap stagnan dan
tidak berinovasi juga harus dipunahkan dari fikiran santri.





