Kalimat terkenal dari Imam Malik Rahimahullah untuk seorang pemuda Quraiys yang disampaikan oleh Imam Darul Hijrah, yaitu “Pelajarilah adab, sebelum mempelajari suatu ilmu”(Nawawi, 2022) menjadi titik pondasi setiap ulama dalam menyampaikan ceramahnya bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Bahkan banyak orang menginterpretasi kalimat tersebut dengan pemikiran untuk apa berilmu tetapi tidak mempunyai adab yang baik? Maka, doktrin bagi orang yang hanya memahaminya secara mentah akan berfikir bahwa tidak apa-apa seseorang tidak memiliki ilmu, yang terpenting memiliki adab yang baik.
Pengertian Mendasar Ilmu dan Adab
Kesalahpahaman akan kalimat tersebut menyebabkan generasi muda mengalami tingkat penurunan keinginan dalam menuntut suatu ilmu. Pemahaman ini menjadi salah karena ilmu dan adab sesungguhnya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bagaikan dua keping mata uang yang tidak mungkin terpisahkan seperti yang dikatakan oleh Dr. Muhammad Nasih, seorang dosen ilmu politik di Universitas Indonesia sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Monasmuda Institute dalam buku berjudul “Abana: Menempuh Jalan Sunyi Menuju Qur’anik Habit”. Mari kita uraikan, kenapa adab dan ilmu harus berbanding lurus? tidak ada tingkatan lebih tinggi atau rendah antar keduanya.
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui, sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai Idroku syai’ bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki)(Adib, 2011). Kata sesuatu disini mencakup segala hal, termasuk mempelajari ilmu tentang adab itu sendiri. Bagaimana seseorang akan faham dengan adab yang baik, jika ilmu saja tidak punya? Pada hakikatnya, ilmu adalah titik utama dalam kehidupan karena setiap sesuatu membutuhkan ilmu. Dari seluruh aspek kehidupan, tidak ada satu titikpun yang tidak dijabarkan dengan ilmu. Seperti manusia hidup, bernafas, berbicara, berhubungan dengan orang lain, dan semua hal yang dilakukan oleh manusia bahkan sengaja atau tidak sengaja dipelajari dalam suatu ilmu.
Sedangkan adab adalah penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar (Zulfarizal & Ch, 2021) menjelaskan :
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
“Adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).
Sering kita jumpai mengenai perdebatan para ulama tentang mana yang lebih penting antara ilmu dan adab. Lebih banyak ulama berpendapat bahwa, adab lebih tinggi dari ilmu, maka yang lebih penting untuk dipelajari adalah adab. Adab bagi beberapa ulama adalah aspek terpenting dalam kehidupan beragama karena menyangkut dengan akhlak seseorang.
Perintah Untuk Menuntut Ilmu serta Memiliki Adab
Di kalangan santri Nusantara, sikap adab yang baik biasanya tidak luput dari kehidupan sehari-hari santri. Contohnya, santri yang mencium tangan kyai dengan alasan agar mendapat barakah dari Allah SWT melalui adab yang baik terhadap guru. Tentu saja, memuliakan guru sudah menjadi kewajiban murid yang sudah dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab terdahulu. Tapi bukan berarti adab menjadi sesuatu yang lebih penting daripada ilmu. Karena kedua komponen ini adalah titik kesempurnaan hidup manusia.
Banyak sekali dalil-dalil, baik yang bersumber dari hadist Rasulullah SAW, maupun perkataan ulama-ulama besar tentang pentingnya memiliki adab. Tetapi perintah untuk menuntut ilmu serta tingginya derajat seorang penuntut ilmu juga sudah dijelaskan dalam al-quran.
Jika merujuk pada hadist nabi, yaitu “Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162, ia berkata: “hasan shahih”). Tentu akhlak merupakan kunci utama untuk menjadi orang yang bertakwa. Lantas apakah ilmu patut ditinggalkan, jika seseorang sudah memiliki akhlak yang baik? Apakah ilmu menjadi tidak penting jika seseorang belum beradab yang baik? Lalu bagaimana dengan hadist nabi Muhammad saw yang berbunyi “Tidurnya orang alim lebih baik dari pada ibadahnya orang bodoh.”
Jika semua orang mengutamakan akhlak dengan memahami kata “barakah kyai” dalam menuntut ilmu, lantas siapakah yang akan menjadi tiang agama ini? Karena sesungguhnya, tiang agama adalah orang-orang berilmu. Karena bagi syaiton, lebih berat menghadapi orang-orang yang berilmu terutama ilmu agama, daripada menghadapi ahli ibadah tanpa memiliki ilmu.
Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Keduanya
Dengan berbagai perbedaan pendapat ulama, mengenai lebih penting ilmu atau adab? Maka penulis ingin menyampaikan perbedaan pendapat dua Kyai besar mengenai pendanganya dalam masalah tersebut. Sesungguhnya, sumber ilmu para ulama itu sama, yaitu Al qur’an dan hadist namun, pemahamanlah yang mebedakan padangan mereka.
Salah seorang kyai kondang di Indonesia yang akrab disapa Gus Baha, dalam ceramah beliau menyampaikan lebih tinggi ilmu daripada adab. Adab adalah perlakuan baik, sedangkan kata baik itu memiliki makna abstrak dan tidak pasti. Sesuatu dipandang baik karena itu berlaku untuk orang-orang sholeh, jika untuk orang-orang fasik justru berkebalikannya. Beliau mencontohkan dengan menepati janji, memang menepati janji adalah perbuatan baik, termasuk adab. Tentu menepati janji dalam konteks kebaikan menjadi sebuah adab tetapi jika menepati janji dalam konteks keburukan, apakah masih tetap dikategorikan menjadi adab? Jika seorang PSK sudah menerima bayaran tetapi belum melayani kliennya, kemudian dia berjanji akan melayani laki-laki ini diwaktu lain, apakah PSK ini bisa dibilang beradab jika menepati janjinya? Yang justru menimbulkan dosa zina. Lalu apakah PSK dinamakan tidak memiliki adab jika dia tidak menepati janjinya? Padahal tidak menepati janji adalah hal yang harus dilakukan untuk menghindari perbuatan zina.
Sama halnya dengan berbohong, jika dilakukan untuk kebaikan maka bukan berarti berbohong menjadikan sesorang tidak memiliki adab. Karena sesungguhnya adab memiliki konteks tertentu dalam mengaktualisasikannya. Dengan berbagai latar budaya Indonesia yang menpunyai tradisi dan adat berbeda di pandangan masyarakat. Misalnya seperti di Jawa, meludah di depan orang lain adalah suatu penghinaan, justru di afrika meludah di depan orang lain adalah sebuah penghormatan. Maka apakah kedua negara dengan dua latar yang berbeda ini dapat dikategorikan dengan manusia-manusia tanpa adab? Tentu tidak, karena itu adalah budaya dan kepercayaan mereka.
Maka untuk memahami semua itu diperlukan suatu ilmu. Anda bisa dikatakan beradab dalam semua konteks jika anda memahaminya dengan baik dan terperinci. Menggunakan budaya yang sesuai dengan daerah tersebut. Disinilah letak pentingnya ilmu dibanding adab, apabila anda menguasai ilmunya, maka adab pasti ada didalamnya.
Berbeda dengan pendapat Gus Baha, seorang kyai pendiri Rumah Perkaderan dan Tahfidz Al-Qur’an Monasmuda Institute yang akrab disapa Abah Nasih mengatakan bahwa, ilmu dan adab adalah dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Abu Zakariya An Anbari rahimahullah (Ma’arifah & Rohmat, 2022) mengatakan:
“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”
Keduanya harus menyatu dalam diri manusia untuk mencapai titik kesempurnaan. Jika santri-santri didoktrin untuk lebih mementingkan adab, mereka akan lalai untuk menuntut ilmu, maka generasi penerus akan mengalami kemerosotan dalam bidang intelektual. Jika santri didoktrin dengan mementingkan ilmu pengetahuan tanpa adab juga akan sangat berbahaya karena generasi penerus akan mengalami kemiskinan moral. Maka keduanya harus selaras. Menyatu dalam raga sehingga bisa mewujudkan insan yang merdeka secara intelektual dan spiritual.





