“Inggrisnya” Orang Indonesia

Seseorang tidak akan menyangkal pernyaatan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang krusial. Setiap orang pun tahu apabila bahasa Inggris menjadi bahasa internasional yang digunakan untuk berkomunikasi orang-orang di belahan bumi manapun.

Bahasa Inggris memang bukan satu-satunya bahasa yang terkenal. Di PBB, setidaknya masih ada beberapa bahasa yang diakui dan disandingkan dengan bahasa Inggris. Misalnya saja, bahasa Cina dan bahasa Prancis.  Kedua bahasa ini merupakan bahasa `tua`. Butuh ribuan kosakata agar PBB mau mengakui kedua bahasa ini menjadi bahasa resmi di PBB. Bukan hanya itu, struktur kalimat yang kompleks pun menjadi pertimbangan pula.

Berangkat dari pemahaman di atas, perlu kiranya ada pemahaman lebih dalam mengenai sebuah bahasa. `Bahasa` di sini tentu lebih ditekankan pada bahasa asing yang penggunaannya sebagai interaksi sosial internasional. Lebih khususnya, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Tidak seperti negara lain yang menjadikan bahasa Inggris sebagai first language atau mother tongue-nya, Indonesia bahkan tidak mengenal bahasa Inggris sebagai second language atau third language. Bahasa Inggris di tanah air hanya dikenal sebagai foreign language.

Karena bukan bahasa utama dalam komunikasi di Indonesia, pembelajaran terkait bahasa asing satu ini pun menjadi tidak optimal. Memang, interaksi orang-orang Indonesia kalangan bawah sudah pasti tidak menggunakan bahasa asing ini. Namun, menanggapi era pasar bebas internasional yang telah cukup lama berlangsung, bahasa Inggris menjadi aset lumayan penting.

Sayang, akibat pembelajaran bahasa Inggris yang asal, orang Indonesia cenderung melakukan berbagai kesalahan dalam bertutur bahasa Inggris. Sepele memang. Akan tetapi, jika hal sepele itu dibawa ke dunia internasional, tentu akan berakibat fatal. Bayangkan ketika ada warna negara Indonesia berlibur ke luar negeri atau mahasiswa Indonesia belajar di universitas kenamaan luar negeri melakukan mistake and error dalam bertutur bahasa asing, betapa malunya nama Indonesia.

Untuk mengatasi itu, orang Indonesia harus  memperhatikan beberapa hal dalam berbahasa Inggris yang baik dan benar. Dan salah satu hal paling urgent itu tidak lain adalah pronunciation (cara pengucapan).

Beberapa orang mungkin akan berpikir, buat apa sih belahar pronunciation? Bukannya asal mudeng, masalah kelar?

Well, just for your information, ada dua accent umum dalam bahasa Inggris: American dan British. Accent dan pronunciation di sini punya makna yang berbeda. Tidak bisa disamakan. Cara gampang memahami pronunciation adalah dipadankan dengan istilah makhroj(dalam pembacaan al-Qur`an). Sedangkan accent lebih kepada logat.

Pronunciation atau makhroj ini wajib diberi perhatian khusus karena hal ini berkaitan dengan pemahaman. Fasih tidaknya seseorang mengucapkan sebuah kata dalam bahasa Inggris dengan penekanan dan pemenggalan tertentu. It`s okay kalau memang conversation dengan sesama orang Indonesia, tapi lain cerita kalau berbicara dengan foreigner atau native speaker. Kalau tidak pronounce kata dengan jelas, foreigners dan native speakers sudah tentu akan kebingungan. Itu dikarenakan telinga mereka yang tidak terbiasa mendengar bahasa Inggrisnya orang Indonesia.

Kalau pronunciation berbicara soal pemahaman, accent atau logat lebih kepada gaya berbicara. Ingat, cara pengucapan huruf/ kata dengan cara/ gaya orang berbicara harap dibedakan. Berdasar ilmu Sociolinguistics, kalau bahasa Inggris punya UK dan US, Indonesia pun punya logat medok dan ngapak sebagai analogi.

Tengoklah ketika orang London dan orang Amerika tengah berbicara. Atau simpelnya, perbedaan cara berbicara tokoh-tokoh di film Harry Potter dengan tokoh-tokoh di film Avengers. Tentu ada perbedaan yang kentara.

Atau mungkin orang akan lebih mengenal BBC sebagai patokan British accent yang seolah sulit dan neko-neko. Padahal, accent paling clear sebenarnya adalah British accent. Itulah sebabnya, kebanyakan universitas di Indonesia lebih memilih English UK di perkuliahan dibandingkan English US.

Kebanyakan orang Indonesia sepertinya lebih paham akan logat American daripada logat British. Salah satu faktor penyebabnya adalah penyebaran. Produk lagu dan film yang masuk ke Indonesia lebih banyak berasal dari Amerika Serikat. Faktor penyebab yang lain, yaitu  adanya kosakata-kosakata yang berbeda antara British dan American (meski memiliki arti yang sama). Pun logat British yang punya penekanan-penekanan khusus pada akhir kata.

Sebagai penurut bukan asli bahasa Inggris, orang Indonesia memang tidak dituntut berbicara seperti native-like. Namun, bukan berarti orang Indonesia bisa bersikap masa bodoh dan tidak mau belajar berbahasa Inggris dengan benar. Mungkin dalam ilmu komunikasi, pronunciation tidak begitu diperhatikan. Asal paham, tidak jadi soal. Tapi, apa salahnya dengan mempelajari bahasa Inggris dan segala tetek-bengeknya?

Oleh: Algazella Sukmasari, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *