Umat muslim sedunia sebentar lagi akan menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, kebaikan, dilipat gandakan amalan ibadah menjadi beratus kali lipat disbanding ibadah di hari yang lain. Sehingga ini memberikan semangat bagi setiap muslim untuk berlomba lomba dengan kebaikan. Aktivitas membaca Al quran hampir ada dimana mana, di Masjid, Mushola, sekolah bahkan kantor kantor, selalu ada yang menyempatkan untuk membaca Al quran. Yang biasanya untuk bersenda gurau, semua memaksimalkan waktunya untuk membaca. Kegiatan ibadah di mushola maupun masjid juga semakin hingar bingar. Sholat lima waktu, bahkan sholat shubuh dan Isya yang biasanya sepi jamaah, jumlahnya sampai berjubel. Orang lebih banyak melakukan sholat jamaah di masjid dan mushola.Semua berlomba untuk mengejar berkah dan ridho dari Alloh SWT.

Sebentar lagi aktivitas kebaikan itu akan mulai hilang bahkan tidak membekas, seiring selesainya bulan Ramadhan. Para Sahabat banyak yang menangis ketika meninggalkan bulan Ramadhan, karena takut tahun depan tidak berjumpa lagi dengan Ramadhan. Bahkan saking sedihnya, berdoa agar di tahun depan bisa merasakan bulan Ramadhan ini lagi.Karena hanya di bulan Ramadhan inilah dihamparkan malam keberkahan dalam Lailatul Qodar, yang nilainya sama dengan ibadah 1000 bulan. Seemntara usia manusia umumnya dan rata rata adalah 6-70 an tahun.

Refleksi Ramadhan ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang sedang dan akan dibutuhkan oleh bangsa dan negara Indonesia saat ini. Sebagai negara yang sedang menghadapi cobaan luar biasa akibat dampak pandemic Covid, menghadapi sebuah realita semakin lemahnya perekonomian negara. Aktivitas bisnis dan perdagangan mengalami pelambatan, sehingga perputaran uang dimasyarakat tidak berjalan baik. Masyarakat terkena dampaknya, pemasukan berkurang, pengangguran terjadi dimana mana, pemutusan hubungan kerja banyak dilakukan oleh perusahaan perusahaan. Belum lagi problema di korupsinya bantuan sosial ( bansos ) masyarakat. Bantuan sosial yang semestinya di peruntukan untuk korban dampak pandemic malah di korupsi oleh Menteri Sosial. Sebuah gambaran absurd akan rendahnya moralitas pejabat di tengah krisis.

Baca Juga  APTISI Harus Belajar dari UNPAM, Bukan Mengadukan

Indek demokrasi Indonesia juga mengalami penurunan kualitas, yang menyebabkan berdampak bagi kelangsungan proses berbangsa dan bernegara yang baik . Adanya ketersumbatan aspirasi masyarakat, dengan banyaknya aktivitas aktivis yang di tangkap dengan jeratan Undang-Undang ITE, meskipun Presiden dalam hal ini meyuarakan kepada jajaran penegak hukum untuk tidak mudah menangkap orang dengan pasal ITE , namun dibeberapa tempat masih terjadi misperesepsi. Munculnya buzzer yang mendengungkan kebisingan politik , menambah kebisingan media sosial. Bukannya memberikan media edukasi yang baik , malah justru membelah masyarakat menjadi kubu yang saling diametrical. Sebuah ironi Ketika perhelatan pilpres dan pilgub sdh selesai.

 

Ujian Eksistensi Manusia

Manusia pada dasarnya adalah suci atau fitri. Menurut filsuf Heideger ,manusia adalah subyek dalam kehidupan di dunia, dia menyadari dirinya untuk bertindak dan melakukan sesuatu karena memahami mana yang benar dan salah. Di dalam Alquran disebutkan bahwa tujuan dari diciptakannya manusia adalah unutk beribadah kepada Alloh Swt dan menjadikan Khalifah di muka bumi ( QS. An nash ). Tidak lain dan tidak bukan segala aktivitas manusia di dunia, adalah dalam kerangka ibadah kepada Alloh Swt. Sehingga dengan demikian segala aktivitas juga di Gerakan dengan semangat untuk kebaikan dan memberikan kemanfaatan kepada manusia yang lain dan lingkungan.

Momentum idul fitri adalah mengembalikan jati diri manusia ke fitrahnya. Menjadi manusia yang suci dan khalifah di muka bumi. Memancarkan kebaikan kepada sesama, melindungi yang lemah serta membantu saudara yang belum beruntung. Momentum ini mestinya ditarik ke dalam spektrum yang lebih luas , berbangssa dan bernegara, yaitu memberikan suasana kebatinan yang membahagiaan dan menentramkan kepada sesama umat manusia yang lain, baik dalam satu pemeluk agama maupun kepada pemeluk agama yang berbeda.

Baca Juga  Berkerumun di Masa Pandemi sebagai Perbuatan Kriminal?

Di tengah suasana pandemi covid 19, maka manusia yang Kembali fitrah yang mewjud pada diri dan profesi masing masing, menjadi pengajar, menjadi mahasiswa, menjadi pejabat, menjadi rakyat, menjadi pedagang menjadi pembeli melangusngkan peran dan tugasnya dengan baik. Sehungga berkontribusi dengan kemajuan dan peradaban bangsa. Problem sosial kebangsaan yang muncul dengan fenomena korupsi yang merajalela, pelayanan birokrasi yang kurang professional, pejabat perwakilan rakyat yang sudah tidak aspiratif lagi menyuarakan suara rakyatanya, indek demokrasi yang semakin menurun kualitas demokrasinya, aparat hukum yang tidak menjalankan fungsi penegakan hukum dengan baik, kekuasaan kehakiman yang lebih kepada kuasa materi disbanding kuasa Nurani, telah menampar muka bangsa kita menjadi bangsa yang bermuka bopeng. Tentu ini lah yang menjadi sumber permasalahan , kenapa cita cita negara tidak tercapai.

Kembali ke fitrah manusia adalah jalan satu satunya mengembalikan marwah bangsa untuk menujudkan cita cita bangsa seperti termaktub dalam konstitusi kita yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa , ikut melaksanakan ketertiban dunia. Tujuan ini tercapai jika para pemangku kebijakan, apparat penegah hukum dan masyarakat nya baik ( Lawrence W Friedman: 2016 ). Moral dan sikap di dasarkan pada nilai nilai suci manusia. Maka kita semua harus berikrar dan meyakini kepada semua, untuk saling berlomba dalam kebaikan , dalam bingkai kemanfaatan dan berucap dan bertindak dalam keadilan sosial. Melalui semangat Idul fitri inilah eksistensi manusia di uji dan sekaligus sebagai ajang pembuktian nyata masa depan manusia dalam mengayomi peradabannya.

Baca Juga  Optimalisasi Generasi Muda dalam Mengisi Perubahan di Era Pandemi

Oleh: Dr. Moh. Taufik, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Cinta Surga Neraka (part2)

Previous article

Nglabur Umah; Tradisi Menjalang Lebaran yang Mulai Punah

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan