Oleh : Nasruddin Leu Ata, Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo Semarang asal Cabang Yogyarkarta
Hari ini adalah hari ke-4 Latihan kader 2 HMI korkom walisongo Semarang. Dengan mengusul tema HMI back to pesantren, sebagai peserta awam yang belum memiliki pengalaman psikologi sebagai sabtri, nuansa pengkaderan berhasil dibingkai kedalam tata kelola pesantren yang semuanya dibutuhkan kebersamaan. traning ini sekaligus membuka kemungkin baru bahwa HMI belum mati atau tidak sama sekai, ia justru hidup dalam dimensi paling sunyi dari riak-riak politik periodek yang miskin penghayatan.
Organisasi yang diprakarsai Lafran Pane dan 14 mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta ini tak pernah luput dalam setiap agenda politik bangsa. Kelahiranya merupakan kehendak sejarah dengan menuai banyak polemik lantaran rivalitas politik, agama, dan ideologi. Terhitung dari agresi militer Belanda, pertarungan ideologi dengan mahasiswa komunis, hingga turut terlibat dalam drama asas tunggal Pancasila 1985. Kendati tidak melupakan atau pengabaian dimensi paling sublim dalam himpunan yaitu keislaman.
Dengan meneguhkan komitmen pengkaderan dengan semangat keislaman dan keindonesiaan. Latihan kader 2 kali ini mampu menghadirkan materi-materi traning yang tidak hanya soal keislaman tetapi juga soal kebangsaan dan peradaban. Pasca materi Ideopolstraktak dan pendalaman materi NDP, harapan-harapan akan perbaikan terus tumbuh kembali lewat penguatan ideologi dan bagimana membatini persoalan hari ini untuk selalu survive dalam segalah medan kendati dikepung dengan berbagai strotaip miring yang kian hari memagari tubuh publiknya. .
Persis di situ, tulisan ini merupakan pendalaman lebih lanjut dari kedua materi di atas. Maksudnya, belakang ini HMI selalu menjadi tranding topic dipelbagai platfrom media sosial, namun bukan karena prestasi melainkan pretensi. Persis ketika banyak kekeliruan yang kita lakukan ketika kita berbicra soal HMI yang berbuntut pada mekanisme pergantian kekuasaan. Disebut demikian karena problem kita hari ini tergambar dari kesibukan kita pada persoalan internal organisasi yang selalu diwarnai dengan konflik kepentingan dan ketertinggalan kita dalam membaca gerak laju perkembangan dunia.
Problem diatas bisa dilacak dari absenya kajian sejarah secara masif dan ideologis. Maksudnya, kebanyakan kita menjadikan sejarah sebatas materi Follow Up yang diceritakan hanya sebagai peristiwa persis pertanyaan itu hadir hanya soal kapan, dimana, dan siapa?
Sebagai organisasi Islam yang membawa misi pembaharuan, keberadaan HMI dengan persoalan stuktural dalam HMI hari ini tidak bisa lepas dari kontalasi politik nasional maupun internasional. Bahkan bisa dikatakan sejarah HMI merupakan perpanjangan tangan dari pertarungan kepentingan sosial, politik, ekonomi, dan wacana yang sedang bermain di dunia internasional. Sebagai akibat dari penanaman sikap peremehan dan pengabaian atas sejarah membuat kita melihat persoalan secara parsial dan sektoral, sehingga sulit menemukan akar persoalan yang sebenarnya.
Keterpecahan kita dalam himpunan besar ini membangkitkan ingatan kolektif kita tentang mekanisme kerja kekuasaan orde baru melalui struktur politik dan ideologi. Dalam struktur politik, HMI sulit hadir secara konsolidatif karena dibuat saling sikut secara internal, dan melalui rivalitas absurd soal ideologi HMI seolah dibuat berbeda antara siapa yang lebih pancasilais dan siapa yang lebih islamis.
Sebagai mahasiswa islam indonesia kita dibuat binggung oleh keterpecahan islam yang berlapis-lapis atas mekanisme beroperasinya kekuasaan divide and rule. Mekanisme ini mulai berlaku ketika berlangsungnya perang melawan terorisme yang dikampanyekan oleh Bush dan Blair sebagai buntut dari peyerangan menara kembar World Trade Center 11 September silam. Dalam konteks indonesia, turunannya adalah politik identitas.
Sementara dalam level mahasiswa mekanisme yang sama digunakan rezim sebagai upaya pegaburkan peran kaum muda sebagai basis perlawanan. Persis ketika kita dibuat sibuk oleh urusan internal masing-masing atas persoalan dualisme yang bukan hanya HMI, tetapi beberapa organisasi mahasiswa lainnya. Akibatnya, mahasiswa seakan bukan lagi tempat masyarakat mengungkapkan mimpinya atau dalam HMI yang oleh Jenral Sudirman disebut HMI merupakan harapan masyarakat Indonesia. sebaliknya, pendritrubusisan wacana pembubaran masif dikempanyekan dan didiskusikan dikhalayak luas.
Dibandingkan tahun 70an skema gerakan HMI hari ini cukup sulit membawa dampak yang signifikan, persis ketia ia hadir hanya sebagai iven. Maksudnya, mengapa soal HMI menjadi topik pembahasan hari ini justru karena ada persoalan dalam HMI? dengan kata lain, kenapa tunggu ada persoalan dalam HMI baru HMI itu dianggap hidup atau mati, ada atau pun tiada?
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Sebelum menjawab pertanyaa itu, pertama tulisan ini merusaha memberitahukan bagaimana pentinggnya memiliki pegangan sejarah yang kuat ditengah komplikasi kepentingan adidaya politik global. Barangkali melalui sejarah, saya maupun anda mampu merumuskan apa dan bagaimana mekanisme kerja kekuasaan, dengan itu kita mampu merumuskan jenis musuh seperti apa yang kita hadapi saat ini.
Bertahannya himpunan seusia sekarang karena ia mampu membaca kemungkinan tantangan dengan melakukan antisipasi secara berkala. Kenapa harus membangun pesimis, sedangakan berani berharap itu sendiri adalah optimisme pengkaderan. Saya percaya bahwa kita selalu punya mimpi guna melakukan perbaikan-perbaikan diruang lingkup organisasi tercinta ini.
Misalnya dengan melakukan perbaikan politik. Kendatpun demikian, memperbaiki politik mesti dimulai dari mengubah cara kita memahami kekuasaan. Maksudnya, terkadang kita memahami kekuasaan sebagai atribut tunggal, melekat pada pada insitusi atau lembaga, bahkan disematkan pada aktor tertentu.
Persis di situ cara kita memahami kekuasaan menetukan cara kita melakukan perjuangan politik. Artinya, ketika kita tidak menjadi bagian dari kategori di atas merasa tidak memiliki kekuasaan. Kita tidak berkuasa karena tidak punya jabatan, tidak punya status, tidak punya uang dan seterusnya. Akibatnya, perjuangan politik berhenti sebagai upaya perebutan kekuasaan yang dilakukan secara periodik
Padahal kekuasa bukan tentang dominasi seorang individu dengan individu-individu yang lain, atau dominasi satu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain. Kekuasan harus dilihat sebagai sesuatu yang hanya berfungsi dalam bentuk mata rantai hubungan-hubungan satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, hubungan itu sendiri yang membentuk kekuasaan.
Pada akhirnya, memperbaiki politik di mulai dari memahami cara kerja kekuasaan melalui hubungan kita antara satu dengan yang lainya. Dengan begitu kita merajut jejaring kesadaran bersama atas hubungan-hubungan sebagai satu kekuatan korektif. Kendati kekuatan itu tanpa keberadaan agenda bersama sering kali hanya sekedar kekuatan reaktif yang lekas padam begitu daur isue memudar.







