Cerpen

Hadiah di Ulang Tahun Ka Marwah

0
Baladena.ID/Istimewa

Hawur Kuning, 20 july 1999, waktu ketika Rahma kali pertama menginjakan kaki di sebuah pondok salaf. Kala itu, ia masih berusia 15 tahun, dengan kulit kuning langsat dan perawakan yang sampayeun membuat dirinya terlihat mungil dan anggun. Rahma dengan kelahirannya asal Bandung memperlihatkan keteduhan hati pada setiap orang yang memandanginya. Sesuai dengan nama kota yang dijuluki kota kembang, ia pun terlihat seperti bunga yang kebanyakan orang suka.

Sore itu, ia diantarkan oleh kedua orang tua dan kakak perempuannya. Awalnya, Rahma menolak untuk mondok, karena ia takut belum bisa mandiri sepenuhnya. Ia pun tahu, jika sudah menjadi santri maka harus serba mandiri, bisa mengatur waktu sendiri, dan yang terpenting adalah harus bisa mengatur emosi. Sedangkan ia anak bungsu, jadi belum terbiasa untuk mandiri.

Meskipun beribu alasan ia sampaikan pada orang tuanya agar tidak jadi memasukannya ke dalam pesantren, al hasil sia-sia saja. Mau tidak mau, Rahma harus mengikuti perintah kedua orang tuanya. Sampai akhirya ia sampai di tempat yang ia sebut dengan penjara.

Mulai-lah, barang-barang yang sudah di kemas dari rumah untuk di pakai di pondok, diturunkan dari mobil dan ditempatkan di kamar santri baru. Khusus di kamar itu, barang-barang calon santri yang akan masuk disimpan dan dirapihkan. Ia pun bergegas memberi tulisan pada tas pribadinya, jaga-jaga agar tidak tertukar dengan barang calon santri yang lain.

Santri baru mulai berdatangan, kini halaman depan pondok dipenuhi dengan mobil dan motor yang membawa fariasi barang bawaan. Keluarga Rahma pun bergegas berpamitan pada Rois pondok, menitipkan buah hatinya agar bisa menuntut ilmu agama dengan baik. Sedangkan Rahma sedang berdiri di dekat mobil, berjaga-jaga jika seketika keluarganya pergi meninggalkannya.

Tak lama menunggu, kakak dan kedua orang tuanya muncul keluar dari ruag PIP (Pusat Inpormasi Pondok) menuju Rahma yang sedang berdiri menjaga mobil. Bapak dan Ibunya tersenyum dan mengusap pipi Rahma dengan lembut. Kakanya pun demikian, ia memeluk Rahma dengan berkata padanya,

Rahma, adik kakak yang manis, baik-baik di pondok ya, nanti kaka jenguk setiap satu bulan satu kali” begitu ucapnya, pada adik yang di sayang.

Rahma, Bapak sama Ibu pergi dulu ya, kamu yang betah belajarnya, taati perintah Ustadz dan Ustadzah, ya” ucap Pak Sapri pada buah hatinya.

Rahma hanya terdiam dan terlihat dari bola matanya berkaca-kaca. Ntah apa yang harus dia katakan, meskipun dia meronta-ronta ingin ikut pulang itu hanya sia-sia. Mau tidak mau Rahma harus  patuh pada apa yang diputuskan kedua orang tuanya.

Rahma juga malu, jika harus memaksa untuk pulang. Karena jika dipikir-pikir ini semua tidak akan terjadi jika ia menaati perintah kedua orang tuanya waktu itu.

Ya, waktu itu ketika ada pesta ulang tahun kakaknya, Marwah. Ketika Marwah mengadakan pesta ulang tahun yang ke 20. Bapak dan ibu Rahma berpesan pada Rahma agar tidak berbuat yang aneh-aneh karena tamu yang hadir bukan tamu-tamu biasa, tapi mereka berasal dari konglomerat, artinya sangat terhormat.

Baca Juga  Langkahku Bersamanya

Rahma, Ibu minta tolong. Kamu jangan buat yang aneh-aneh ya di pesta kakak” pesannya pada Rahma.

Iya, Bu. Tenang aja, Rahma gak bakal ngapa-ngapain ko. Tenang aja” jawabnya, dengan santai

Ok, Rahma. Ibu pegang janji Rahma, ya. Jika Rahma sampai tidak taat, maka Ibu sama Bapak sudah harus menyerahkan Rahma pada tempat yang bisa mendidik Rahma dengan ketat” sautnya kembali pada anak perempuannya

Ibu Sari memang berperang lembut dan penuh kasih, sehingga ia hampir tidak pernah memarahi anak-anaknya. Sekalipun ia marah, ia akan keluarkan marah itu dengan caranya sendiri (penuh pendidikan). Setelah menasehati Rahma, Bu Sari bergegas kembali menyambut tamu-tamu yang datang.

Mendengar tempat itu, Rahma seketika membayangkan sebuah tempat yang tidak nyaman untuk dihuni, banyak peraturan yang harus ditaati, sehingga tidak bebas untuk melakukan apa yang diinginkan.

Rahma dengan usia yang hanya terpaut 5 tahun saja dengan usia Kakaknya, Marwah. Ia masih suka main-main, belum terlalu memikirkan efek dari perbuatan yang ia lakukan. Waktu itu, Rahma masih duduk di bangku kelas 3 SMP.

Pesta dimulai, tamu-tamu semakin ramai. Ada yang datang sendirian, ada yang berpasangan dan ada juga yang membawa buah hatinya. Rahma bersikap sopan pada tamu-tamu yang datang. Terkecuali satu, dengan tamu berawajah kebule-bulean. Kulitnya putih dan berambut pirang. Mereka pun menggandeng anak laki-laki yang tingginya hampir setara dengan Rahma.

Anak laki-laki itu, tersenyum dan mengedipkan sebelah mata pada Rahma. Jelas Rahma tdak suka padanya. Menurut dia, itu sebuah prilaku yang tidak sopan. Dalam pikiran Rahma tepikir betapa sok ganteng sekali anak itu, memang dia siapa, dasar tidak sopan. Begitu grutu dalam pikirannya.

Seketika itu, Rahma langsung memalingkan muka padanya menunyjukan bahwa ia tidak suka atas sikapnya dalam bertamu. Rahma pergi untuk melihat-lihat hiasan di sekeliling pesta, memastikan bahwa semuanya  baik-baik saja. Ia pun mengontrol makanan yang disajikan agar benar-benar sudah siap dan tidak mengecewakan para tamu yang datang.

Rahma mengecek minuman dan makanan ringan, cemilan yang bisa langsung dilahap oleh para tamu. Di atas meja sudah ada Gemblong, jalabria, kue gurandil, bandros, ali agrem, kue cuhcur, angling, bangket, burayot, bugis, katimus, kremes, naga sari, emping malinjo, opak, apem putih, kue jojorong, misro, , gehu, ,es goyobod dan es cendol.

Semuanya sudah kumplit” Saut Rahma sembari meneput kedua telapak tangannya, seolah-olah sedang membuang debu yang ada di tangannya.

Keluarga Rahma sengaja menyediakan hidangan untuk para tamu, dengan nuansa adat sunda. Tujuannya adalah untuk tidak melupakan makanan tradisional dan tidak meninggalkan adat yang ada di suku sunda.

Baca Juga  Rindu yang Tak Berujung Temu

Tak lama kemudian, anak laki-laki itu datang berhenti di depannya. Membawakan sebuah cemilan untuk dimakan berdua dengan Rahma.

Hii,, kita bertemu lagi. Mau makan gurandil?” Tanya anak laki-laki itu pada Rahma.

Meskipun dia terlihat seperti bule, tapi darahnya adalah darah jawa. Kedua orang tuanya kelahiran asli jawa. Namun, karena merantau lama di luar negri dan mempunyai anak di sana. Hingga akhirnya mereka menetap lama di Sana. Biasanya, mereka mudik hanya 5 tahun sekali

makanan jawa adalah paforit Thales. lima tahun yang lalu, dia pernah diajak kedua orang tuanya untuk pulang ke jawa, alhasil dia sangat senang karena makanan Bandung unik-unik dan lezat. Salah satu makanan yang sering ia makan adalah gurandil.

Gurandil adalah makanan Khas Bandung yang terkenal enaknya. Keunikan tekstur dan rasa gurandil membuat orang yang mencicipinya ketgihan bukan main. Bahan dasar yang digunakan berupa tepung tapioka lebih dominan dibanding kue tradisional lainnya, tekstur gurandil lebih kenyal dan sedikit lengket.

Gurandil biasanya dibentuk bulatan kecil-kecil dan diberi pewarna makanan berupa merah, hijau atau putih. Gurandil mempunyai rasa yang tawar, sehingga ketika menikmati gurandil bisa dicampur dengan kelapa yang sudah ditaburi gula pasir atau bisa mencampuri gurandil dengan saus kinca, yaitu gua merah yang dicairkan.

tidak, terimakasih” jawab Rahma dengan wajah ketus

kenalin, nama ku Thales Locxandary. Bisa dipanggil Thales.” Ucapnya pada Rahma dengan mengulurkan tangan kanannya. “Maaf, ya. Tadi aku bersikap tidak sopan pada mu. Aku hanya ingin berkenalan dengan mu saja” ucapnya kembali pada Rahma.

Mendengar kata maaf dan alasan atas sikap yang tidak sopannya tadi. Rahma mulai membuka hati untuk memaafkannya. Karena ia tidak bermaksud besikap demikian pada Rahma, sehingga membuat Rahma marah. Apa salahnya, menerima maaf dan berteman dengannya.

hmmm, baik. Jangan diulangi ya, aku sangat tidak suka pada orang yang besikap demikian.” Jawabnya pada Thales. “Nama ku, Rahma Vianita. Biasa dipanggil Rahma.” Sambung Rahma pada Thales.

Mereka pun saling berjabat tangan, dan makan gurandil yang dibawa Thales. Tanpa dirasa, sudah saatnya pemotongan kue. Rahma dan Thales bergegas mendekati kue ulang tahun yang akan dipotong. Tibalah pada saat Ka Marwah memotong kue dan memberikan potongan kue pada Bapak dan Ibu, juga Rahma sebagai orang spesial ke 3 bagi Marwah.

Usai pemotongan kue, Rahma diajak Thales untuk makan hidangan paling enak menurut dia. Tangan Rahma diraihnya dan diseret mendekati makanan yang berfarian rasa. Mulai dari  lotek, siomay, Geco, balok menes dan galendo, ulekeuteuk leunca, Karedok, sup sayur bakso, ayam goreng bumbu lengkuas, bistik sapi kuah dan gepuk sapi. Tampilan bistik sapi kuah begitu menarik. Membuat lidah mereka mengeluarkan tetesan kecil di sudut bibirnya.

Baca Juga  Mata Batin Shila

Thales menarik tangan Rahma ke bawah kolong meja, tempat makanan di simpan.

suttt,,,,, kita akan makan di sini, ya”ucap Thales dengan menyodorkan jari telunjuknya pada bibir Rahma.

mengapa harus di sini? kan di atas juga bisa!” jawabnya, dengan nada sedikit tinggi dan menyingkirkan jari Thales dari bibirnya.

kalo kita makan di sini, kita bebas ambil banyak makanan, tanpa diketahui orang banyak” jawabnya kembal, meyakinkan  Rahma.

ihh,, kamu itu memang aneh, ya? Aku tidak akan ikut!. Kamu sendiri saja di sini aku akan keluar saja!” jawab Rahma denga memaksa.

ehh,, jangannn. Di sisni aja, Ma” sautnya, dengan penuh permohonan. Berharap Rahma akan berubah pikiran.

Ketika Rahma hendak keluar, tangannya dipegang kuat oleh Thales, sehingga dia kesusuahan untuk bisa keluar. Tapi Rahma tdak putus asa, ia terus memaksa agar bisa keluar dari kolong meja. Ketika usaha itu hampir berhasil dengan ia menarik badannya dengan sekuat tenaga, tiba-tiba meja tempat meyimpan makanan terangkat ke atas dan makanan pun jatuh ke bawah dengan wadah yang terbalik mencium tanah.

Mendengar suara ramai akibat barang tempat menyimpan makanan jatuh, para tamu berdatangan penasaran dengan apa yang terjadi. Tanpa terkecuali orang tua Rahma yang kaget bukan main, ketika didapatinya Rahma keluar dari kolong meja makanan.

Ibu dan bapaknya begitu kaget, melihat kenakalan anaknya. Marwah, kakaknya terlihat kecewa dengan tingkah adiknya. Ia hampir mengagalkan pesta istimewanya  Marwah pergi meninggalkan Rahma begitu saja. Ibu dan bapaknya langsung menyuruh Rahma untuk masuk kamar.

Rahma pun, tanpa kata-kata ia hanya mengangguk sambil tertunduk. Rahma tak pedulikan Thales yang msih berada di kolong meja. Rahma juga tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan siapa biang keladi dari kejadian ini. Ia hanya membemci Thales yang telah menyebabakan kekacauan ini dan Rahma menjadi tersangka utama.

Para tamu undangan dipersilahkan untuk duduk santai dan meminum minuman yang telah disediakan   dengan cemilan ringan yang sudah ada di meja.

Singkat cerita, pesta Marwah usai dilaksanakan. Bukan senang yang didapat Marwah, tapi rasa kecewa karena pestanya tidak berjalan dengan sempurna. Meskipun kado yang didapatnya lumayan banyak, ia tidak merasa ada gairah dari pesta yang ia laksanakan tadi.

Ibu dan Bapak rahma pun, tidak berkata sepatah kata pun. Mereka hanya membereskan sisa pesta dan kembali ke kamar untuk istarahat. Memang, malam itu waktu begitu larut. Jadi, tidak mungkin jika akan menyidang Rahma di tengah malam.

Bagaimana kelanjutannya? Simak terus dalam cerpen selanjutnya, ya

Lida Nasrul Amanah
Mahasiswa Program Beasiswa Bidikmisi Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang, Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) Korkom Walisongo Semarang Periode 2019-2020

    Diskriminasi Corona

    Previous article

    Sepi Enggan Menepi

    Next article