Filosofi Lebaran Ketupat yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Lebaran kecil merujuk ritual yang dirayakan pasca puasa, tepatnya pada setiap tanggal 8 Syawal. Dalam bahasa populernya, lebaran kecil dikenal dengan istilah lebaran ketupat (kupatan).

‘Ritual’ lebaran kecil ini, oleh sebagian besar umat Islam Indonesia–terutama di wilayah pulau Jawa, dianggap sebagai pelengkap lebaran Idul Fitri. Sehingga, tanpa adanya lebaran ketupat akan menjadi hampa, alias seolah ada yang kurang.

Ketupat merupakan suatu bentuk makanan khas yang dilapisi oleh janur. Janur merupakan identitas dari orang yang berada di daerah pesisir. Konon, lebaran ketupat ini sudah ada semenjak abad ke-15 Masehi, ketika kerajaan Demak dipimpin oleh Raden Patah. Pada saat itu, lebaran ketupat ini telah menjadi simbol datangnya hari raya Islam. Selanjutnya, penyebaran lebaran ketupat diteruskan oleh Sunan Kalijaga melalui dakwah-dakwahnya.

Jatining Nur merupakan kepanjangan dari “Janur” yang menjelaskan bahwa manusia harus kembali ke fitrah.

Membersihkan kotoran yang masih terbelenggu di dalam hati, dan memulai lagi hati yang suci serta menghindari perbuatan yang munkar.

Filosofi Kupat

Ketupat sendiri di ambil dari kata “Kupat” yang merupakan parafrase dari “Ngaku Lepat” dan “Laku Papat.”

Ngaku Lepat merupakan sebuah pengakuan bersalah. Lazimnya dipraktekkan dalam bentuk sungkem anak terhadap orang tuanya. Hal ini bermakna bahwa anak tidak boleh angkuh dan harus selalu mengingat orang tuanya karena jasa-jasanya sangat besar bagi kehidupan anaknya.

Namun, secara kontekstual, ngaku lepat ini ditujukan kepada siapa saja, utamanya orang dekat yang sering berinteraksi. Dengan kata lain, Ngaku Lepat ini tidak hanya diberlakukan oleh anak terhadap orang tuanya. Tetapi juga dapat terhadap teman, saudara, kekasih, orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, atau siapapun yang pernah di sakitinya. Demikianlah filosofi ketupat.

Makna Laku Papat

Sementara untuk istilah “Laku Papat”, terdapat “Lebaran” yang artinya selesai atau usai bulan ramadhannya, “Luberan”, yang artinya betapa melimpahnya harta dan harus membagikannya terhadap orang yang membutuhkan karena berbagi itu indah.

“Leburan” yang berarti saling memaafkan karena melebur satu sama lain, dan yang terakhir ada “Laburan” yang memiliki arti putih seperti kapur.

Ketupat memang sengaja di buat dengan empat sudut karena memiliki nilai filosofis. Makna empat sudut itu menandakan bahwa jika melihat suatu permasalahan jangan hanya melihat dari satu perspektif, tetapi harus melihat dari berbagai pandangan agar lebih komperehensif. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa empat sudut menandakan walaupun terdapat empat arah yaitu selatan, utara, barat, dan timur, menjadi orang muslim jangan melupakan arah kiblat.

Halal Bihalal dan Momentum Rekonsiliasi di Era Pandemi Covid-19

Sesungguhnya makna filosofis dari ketupat sangatlah dalam karena sudah mencakup makna dari lebaran itu sendiri. Biasanya lebaran kecil ini di rayakan di seputar Jawa. Tetapi, mungkin juga masyarakat di luar Jawa merayakannya dengan nama yang berbeda tetapi esensinya sama.

Jika suatu budaya tidak dilestarikan, maka akan tenggelam berjalannya waktu karena sudah tidak ada yang patut dipertahankan lagi. Ketupat ini merupakan budaya yang harus dilestarikan karena sudah berjalan lama dan mengandung makna yang begitu dalam. Mungkin, mayoritas orang ketika melihat ketupat hanya sampai kulitnya saja dan belum sampai kepada akarnya.

Maka dari itu, perlu memahami historis dan filosofis ketupat itu sendiri agar tidak menimbulkan rasa bosan. Menjunjung tinggi budaya merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap leluhur karena sudah susah payah mencari dan mengimplementasikannya ke dalam masyarakat.

Menjadi generasi millennial yang pandai harusnya mau belajar dari pembuatan ketupat hingga memahami maknanya serta menyebarkan api kebahagiaannya. Selamat hari raya idul fitri ke 1441 H.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Mantuppp mantup, wajib baca nih biar tau sejarahnya dan ngga cuma ikut-ikutan ngerayain wkwk