Dinda, Bangkitlah!

Dinda, jangan down begitu. Jangan pernah berhenti, apalagi menyerah pasrah. Ini adalah momentum yang tepat untuk kau belajar dengan lebih baik lagi.

Menyadari kekurangan pada diri sendiri memang agak sulit, tetapi di depan guru kita, kita akan selalu ditunjukkan itu dan menurutku itu sangat menyenangkan.

Karena perhatian, apalagi yang berupa hardikan, dari guru kepada kita itu sangat mahal harganya, meski mungkin sejenak itu terasa pahit dan menyakitkan.

Ayoo belajar dengan lebih baik lagi. Bukankah kau yang bilang, ada banyak cita-cita yang telah kau tuliskan dan perlahan-lahan kau berjalan menuju itu.

Anggap saja ini latihan dalam perjuangan. Sebelum benar-benar datang perjuangan besar di masa depan.

Bukankah, lebih baik kita bermandikan keringat saat latihan daripada bersimbah darah tanda kalah di medan pertempuran?

Tak ada yang lain, kecuali bersabar. Sabar dalam Lisan al-Arab yang pernah aku jelaskan.

Dan jangan khawatir, aku akan menemanimu dari belakang. Menjadi suportermu yang paling militan. Kalau aku tak mampu, setidaknya dalam doa-doaku. Doa di penghujung malamku.

Ini tentang usaha mewujudkan angan dan impian. Aku percaya, ada sebuah kejutan yang telah Allah siapkan. Bersama air mata yang menjadi saksi perihnya perjuangan.

Dinda, bangkitlah. Kita buktikan kepada dunia, kalau kau bisa. Hijau Hitam kita akan senantiasa berakibar di langit asmara kita. Bersama hembusan badai harapan yang kita cipta. Menyentuh rombongan burung pemangsa cinta. Tuhan bersama kita, Dinda.

💚🖤

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *