Dampak Covid bagi Pedagang Kaki Lima

Oleh: Nisa Aulia Rohmah, Mahasiswa KKN MIT DR ke-12 UIN Walisongo Semarang kelompok 26

Tak bisa dipungkiri bahwa semenjak pandemi kita mengalami penurunan ekonomi dengan sangat drastis. Perusahaan perusahaan sampai sampai mem PHK karyawannya untuk mengatasi kerugian. Dampak itu juga dirasakan oleh pedagang kaki lima. Apalagi saat PPKM berlangsung, banyak kejadian tidak mengenakan hati terkait PKL yang ditutup dengan paksa sampai dihujani cairan disinfektan.

Pandemi masih berlangsung. Roda ekonomi juga kian menurun. Segala cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 diantaranya dengan menetapkan kebijakan PSBB sampai PPKM berlevel. Dampak bukan hanya terasa bagi kalangan atas, PKL pun terdampak dengan sangat besar. Kebanyakan, PKL adalah orang yang tak mengerti dan memiliki kemampuan mengakses Tekhnologi.

Pedagang kaki lima sudah seperti budaya di Indonesia. Tak ada PKL, Indonesia tampak tak memiliki ciri khas. Indonesia terkenal dengan kuliner jalannya. Ketika itu semua hilang, serasa ada yang hilang dari Indonesia. Namun apa boleh buat, ini demi kebaikan bersama.

Melihat para PKL yang diangkut paksa dagangannya oleh satpol PP, mengingatkan penulis terhadap teori yang ditulis oleh Abraham Maslow. Menurutnya, kalau mau menerapkan kebijakan, maka yang paling utama adalah memenuhi keperluan fisiologi nya seperti makan, minum, dll. Kalau itu tidak diperhatikan, maka sekeras apapun kebijakannya, tetap akan ada pelanggaran.

Melihat hal ini, penulis berharap kita bisa membantu sesama warga negara Indonesia. Terlebih PKL. Caranya adalah dengan membeli dagangan mereka dan membawanya pulang. Semoga kita bisa keluar dari situasi ini dengan segera.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *