Dampak Bahasa Kasar Terhadap Perasaan Seseorang

Oleh: Frans Setyo Nugroho, Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN Salatiga

Dalam kehidupan sehari-hari manusia saling hidup beriringan dan tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kita memerlukan komunikasi. Komunikasi adalah proses pertukaran informasi, ide, pikiran, atau perasaan antara dua pihak atau lebih melalui berbagai media, baik secara verbal (lisan) maupun nonverbal (isyarat, tulisan, atau simbol). Tujuan utama komunikasi adalah untuk menciptakan pemahaman bersama antara pihak-pihak yang terlibat.

Komunikasi tidak hanya sekedar berbicara, namun harus mengetahui bahasa yang baik dan mudah dipahami, serta tidak menyinggung perasaan seseorang. Di era sekarang sering kali kita jumpai orang-orang yang dengan percaya diri mengucapkan bahasa kasar atau bahasa yang tidak sopan, terutama pada kalangan anak-anak muda.

Bahasa kasar merujuk kepada kata-kata atau ungkapan yang tidak sopan, kurang menyenangkan, atau menghina. Ia biasanya digunakan untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau ketidakpuasan. Penggunaan bahasa kasar boleh menyebabkan salah faham, melukai perasaan orang lain, dan merusakkan hubungan. Namun ada juga yang menggunakan bahasa kasar karena reflek ketika bercanda.

Bacaan Lainnya

Perasaan seseorang berbeda-beda, ada yang mudah diambil hati dan ada juga yang acuh. Perasaan acuh terhadap bahasa kasar biasanya orang yang mempunyai rasa sabar begitu besar atau bisa jadi orang yang juga terbiasa mengucapkan kata kata jelek tersebut. Berbicara kasar juga sudah dilarang didalam surah An-Nisā : 148 yaitu, Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Oleh karena itu kita harus mampu menjaga lisan kita, jangan sampai kebiasaan berkata buruk atau kasar tertanam pada diri kita. Seseorang yang mampu meluapkan amarah dengan melontarkan bahasa yang tidah senonoh biasanya akan memiliki rasa penyesalan apabila seseorang yang diajak bicara sakit hati yang terlalu mendalam. Namun ada juga yang abai dengan segala perkataan kotornya itu.

Dengan berbicara yang tidak baik sama halnya melanggar ketentuan Allah, hukuman melanggar ketentuan adalah dosa. Suatu kesalahan yang belum mendapatkan maaf dari yang bersangkutan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Ada banyak cara untuk melatih diri atau lisan kita agar tidak terbiasa berkata kasar atau tidak sopan, yang Pertama, selalu ingat Allah dengan banyak-banyak mengucap Istighfar. Kedua, Sadari kebiasaan yang ada, perhatikan situasi apa saja yang biasanya memicu Anda berkata kasar.

Ketiga, ganti dengan kata yang lebih positif. Ketika merasa ingin berkata kasar, coba ganti dengan kata lain yang lebih netral atau positif. Keempat, berlatih mengendalikan emosi. Kata kasar sering muncul saat emosi tidak terkendali. Latih diri untuk tetap tenang saat marah atau frustrasi.

Kelima, bergaul dengan lingkungan yang positif. Jika Anda sering mendengar atau berada di lingkungan yang menggunakan kata kasar, cobalah lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berbicara dengan sopan. Keenam, kenali dampak negatif kata kasar. Pahami bahwa kata kasar bisa melukai orang lain atau membuat hubungan menjadi buruk. Ketujuh, perkuat niat dengan doa atau komitmen spiritual.

Kedelapan, minta bantuan orang terdekat. Beri tahu teman atau keluarga bahwa Anda sedang melatih diri untuk tidak berkata kasar. Kesembilan, pantau perkembangan diri. Catat kemajuan yang Anda alami, misalnya dengan menulis jurnal harian dan evaluasi apakah ada peningkatan, dan apresiasi diri jika berhasil mengurangi kebiasaan tersebut.

Oleh karena itu, kita harus menjaga dan melatih kesabaran dan lisan agar tidak melukai pesaraan seseorsng. Dengan menjaga lisan, kita sudah berhasil menjaga hati atau perasaan seseorang dan menjadi orang yang dipandang baik wibawa dan gaya bicaranya serta sopan santunnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *