Kader Umat, Kader Bangsa
Demikian penggalan kalimat yang sering kali diucapkan oleh banyak kader HMI di berbagai kesempatan, namun jauh panggang dari api, HMI kekinian sedemikian sibuk dengan perkara sendiri, apalagi mau mengurusi persoalan umat dan persoalan bangsa?
Memang benar semenjak berdirinya organisasi kemahasiswaan tertua ini, HMI telah lama mengalami asam pahitnya perjuangan, telah merasakan pasang surutnya kemajuan, namun masa ini adalah masa surut terjauh dimana kita dipukul telak dari dalam batang tubuh organisasi sendiri, kader HMI yang jumlahnya sedemikian banyak itu mengalami semacam halusinasi berkepanjangan sehingga sulit membedakan masa panen dan masa paceklik, disetiap kegiatan kemahasiswaan kader-kader HMI begitu banyak menceritakan kembali akan kejayaan-kejayaan masa silam, tentang heroisme organisasi saat itu.
Tidak ada salahnya memang, namun sejarah jika tidak berbicara tentang masa depan maka hanya akan jadi bahan antik bagi para kurator, sejarah HMI harus progresif lagi revolusioner, jika HMI dengan segala keterbatasannya pada saat itu mampu melahirkan banyak peristiwa dan tokoh, maka HMI saat ini dengan segala keberadaannya harus mampu lebih dengan membaca semangat zaman dan memetakan kembali perjuangan.
Singkatan HMI yang seringkali juga disebut Harapan Masyarakat Indonesia harus terjewantahkan dalam setiap perjuangannya, kader-kader HMI harus turun merakyat dan mendengarkan langsung keinginan masyarakat bukannya patuh membabi buta atas kehendak senior, cenderung kepada kebenaran (hanief) bukan kepada mayoritas apalagi otoritas.
Lafran Pane sebagai pemrakarsa HMI dan banyak diamini pemikirannya dalam tubuh himpunan ternyata tidak diamini tingkah lakunya, kesahajaan Lafran Pane saat memberikan jabatan Ketua Umum PB HMI yang baru diembannya selama 6 bulan kepada M.S Mintaredja agar HMI lebih berkembang luas tidak diteruskan oleh generasi HMI era ini, banyak kader yang menggunakan segala cara untuk memenuhi birahi politiknya agar mencapai posisi-posisi struktural dalam organisasi sehingga perkataan “di HMI berteman lebih dari saudara” seakan pemanis yang tidak berarti apa-apa saat kontestasi perebutan struktur dari PB hingga Komisariat terjadi.
70 Tahun lebih HMI berdiri merupakan usia yang cukup untuk berbenah, untuk kembali menata perahu yang kita naiki, menutup lubang-lubangnya sehingga mampu dijadikan alat untuk mencapai tujuan bersama yakni masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Sekarang harusnya menjadi titik balik perjalanan HMI sehingga dapat memberikan suri tauladan yang baik bagaimana Himpunan Besar ini kembali dalam perannya memperbaiki kembali segala isinya agar dapat terus digunakan melayari dan menaklukan zaman.
Yakin Usaha Sampai. Salam hangat teruntuk saudara-saudaraku yang se-Himpun dan Secita denganku.