Bertamu dalam Do’a

Purnama yang ku temu dalam hening malam itu, aku melihat tetes-tetes yang menitih dalam hamparan sajadahku.

Malam itu, betapa setiap kata berpusar dalam memoriku beserta rasa sesak yang terisak pilu. Aku menatap lekat kedua jemariku, mungkinkah pantas ku mengadu pada-Nya yang selalu terlalai dalam deru..

Oh Tuhan, sungguh kumpulan emosi yang kini merasukiku tak mampu ku bius. Terasa mencekam dan menikam.

Aku sungguh merindukannya.
Padanya, sosok yang selalu mengusap kepalaku sejak buaian hingga kepergian.

Seketika, potongan-potongan ingatan masa kecilku berlarian, tentang aku dan dia. Padanya yang selalu membujukku untuk makan. Padanya yang selalu terjaga saat ku terbaring lemah dalam demam. Padanya yang tak pernah membenci meski ku teramat sering menciderai.

Tuhan, aku tak lagi bisa memeluknya dalam nyata. Engkau dengan kuasa-Mu, telah memintanya pulang pada-Mu. Sedang aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima dan berbahagia, karena ia telah menemuimu, yang selama ini ia rindu.

Hirup udara malam itu, begitu menusuk dan menyelinap dalam setiap rongga paruku. Aku merindu, namun ku tetap berupaya mengenal-Mu. Kususupi setiap tetes dengan untain kalimat-Mu, ku rapal sebaik demi sebait aksara yang mampu ku lupakan.

Dengan segenap kekuatan yang ku miliki, aku berupaya tangguh. Kembali mebuka mata dan menengok setiap karunia-Mu yang tiada tanding. Tuhan, ku sematkan syukur dalam tangis.

Ibu, maafkanlah anakmu ini, selama kau hidup, belum sempat ku membahagaiakanmu, tapi ku tak lagi bisa memintamu kembali. Hanya doa yang sanggup ku dengungkan dalam bait kalam di sepertiga malamku.

Terkadang, air mataku jatuh tanpa sadar. Ketika melihat teman sebayaku dengan leluasa memeluk ibunya. Saat ia ditanya kapan pulang? Atau keribetannya dalam menyiapkan makanan untuk setiap tamu yang datang.

Oh, Tuhan. Mungkin aku teramat cengeng, tidak Tuhan, Kau adalah sebaik-baik pengatur skenario.

Namun, sejujurnya, aku sempat menghujat-Mu, merasa kau tak adil, Tuhan. Semoga kau berkenan memaafkanku. Dengan pikirku yang teramat sempit kala itu, aku merasa duniaku seolah runtuh saat ia kau panggil. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mengerti, Dia pergi untuk merayakan kemenangan, jadi harusnya aku pun turut bahagia. Meski dunia telah memisahkan, setidaknya cintaku tak akan berhenti untuknya. Tersebab aliran darahnya masih mengalir dalam diriku. Juga kasih dan kebaikannya yang telah membuatku mampu menghirup udaramu hari ini.

Aku pun tahu, melihatnya tidak lagi kesakitan, setidaknya membuatku lega dan mengerti, bahwa cinta sarat akan perjuangan dan pengorbanan.

Hatiku remuk, tatkala melihatnya terbaring dengan lemah, beberapa kali aku melihat tangannya lebam tersebab suntikan jarum yang sering menancap di tubuhnya. Namun aku selalu melihat cinta di matanya, ia selalu tersenyum padaku dan berkata, “jangan menangis, jangan jadi anak yang cengeng, Ibu baik-baik saja.”

Dengan semua itu Aku pun belajar untuk menjadi perempuan yang tabah, semoga kasihnya selalu hangat terpatri dalam jiwa.

Terima kasih, Tuhan. Kini aku tahu, rindu tak harus temu. Rindu ini harus kubalut dalam cinta yang murni. Tak lagi berharap kedatangan dan pelukannya.

Ibu, aku akan selalu bertamu, pada pusaramu dan dalam setiap tempat yang bisa untukku mengadu dan berdoa untukmu.

Bilik kecilku, 26 Mei 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *