Kalau mendengar kata radikal, bayangan kita pasti akan langsung tertuju kepada terorisme, yang merupakan kelompok Islam yang suka melakukan pengeboman. Sekilas kata radikal terdengar sebagai suatu hal yang sesat, membahayakan merupakan suatu ancaman, dan oleh karena itu harus dihindari. Namun, apa yang akan terjadi kalau dikatakan bahwa dengan al-Qur’an, kita bisa belajar menjadi orang yang radikal. Sebenarnya, kalau kita tahu makna radikal yang sesungguhnya, maka hal itu merupkan sesuatu biasa-biasa saja.
Radikal, secara bahasa artinya seakar-akarnya. Berpikir radikal berarti berpikir mendalam sampai seakar-akarnya. Lalu mengapa kata radikal selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok sesat yang suka menteror? Begitu pula dengan kata fundamental. Kalau kita mendengar kata fundamental, kita pasti juga akan berpikiran bahwa itu merupakan suatu hal yang sesat. Padahal, fundamental sendiri artinya dasar, sumber; bukan suatu hal yang berkonotasi negative apalagi sesat.
Sebenarnya, kata radikal dan fundamentalis berawal dari kisah Galileo Galilei. Dia merupakan seorang ilmuwan yang mendukung teori heliosentris yang diusung oleh Colombus Copernicus. Teori itu menyatakan bahwa bumi merupakan pusat tata surya, dan bumi itu berbentuk bulat, bukan datar. Teori ini berlawanan dengan teori geosentris yang dipakai di gereja, yang menyatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi.
Karena bertentangan dengan teori geraja, Galileo langsung divonis hukuman mati oleh pihak gereja. Sebab, pada waktu itu gerejalah yang mempunyai kekuasaan mutlak. Jadi, siapa pun yang menentangnya, maka akan dengan mudah dijatuhi hukuman oleh pihak gereja. Tetapi karena Galileo meminta maaf kepada pihak geraja, dan pihak gereja pun memaafkannya, akhirnya hukumannya duturunkan menjadi hukuman penjara seumur hidup.
Karena para ilmuwan pada waktu itu sering dikucilkan oleh pihak gereja karena temuan-temuan mereka yang tidak sesuai dengan ajaran gereja, maka mereka bersepakat untuk memisahkan agama dengan negara (baca: politik). Mereka juga menganggap bahwa orang yang beragama itu orang yang radikal, sesat. Dan pengikutnya disebut sebagai fundamentalis, karena memakai dasar hukum dari agama, yaitu kitab suci.
Dalam konteks itu, mungkin benar kalau para ilmuwan menganggap bahwa ajaran gereja itu sesat. Hal itu karena, memang, banyak isi kandungan yang terdapat di dalam kitab injil (kitab menjadi pegangan orang gereja/Kristen) yang sudah diubah. Bahkan, lebih dari itu, mereka juga mengklaim bahwa ajaran agama itu sesat, termasuk agama Islam. Tetapi hal itu tidaklah tepat kalau dikaitkan dengan Islam. Sebab, kitab suci al-Qur’an, yang merupakan kitab orang Islam masih terjaga keasliannya dan tidak berubah sama sekali, bahkan sampai akhir zaman kelak.
Itulah sekilas kisah haru yang berada di balik kata radikal dan fundamental. Jadi, sebenarnya radikal dan fundamental itu bukanlah suatu hal yang sesat dan menyesatkan. Itulah sebabnya kita perlu belajar sejarah yang benar, agar para pemangku kepentingan tidak bisa memutarbalikkan fakta sejarah yang sebenarnya.
Sesuai judul saya di atas, maka tidaklah mengherankan kalau kita bisa belajar menjadi orang yang radikal, berpikir seakar-akarnya, dengan mempelajari al-Qur’an lewat metode i’rab al-Qur’an. Sebab, dengan mengartikan al-Qur’an dengan metode i’rab al-Qur’an, kita dituntut untuk menentukan mana subjek, predikat serta objeknya. Kalau kita salah dalam menentukannya, maka pemahaman ayat al-Qur’annya akan menjadi kacau. Dengan terbiasa berlatih I’rab al-Qur’an, maka kita akan menjadi orang yang jeli dan kritis, terutama soal rasa bahasa. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Oleh: Rojul al-Munir, Menteri Pendidikan Kabinet Militan Monash Institute







