Sebuah PenTiGraf (Cerpen Tiga Paragraf)
Ace, dia adalah anjing kecilku. Dalmatian kecil yang baru saja kuadopsi pekan lalu. Dari tangan sang ibu, welas asih besar bagi Ace yang selalu membenahi kosong lambung kecilnya itu. Ya, tong sampah raksasa itu lah sang ibu. Terkadang, manusia berlagak tak acuh, dan angkuh, membiarkan sinisnya melilau Ace, lantas membuang muka, tak peduli. Ace juga sering bercerita tentang truk besar yang hampir setiap pekan membesuk ibu, lalu memberikan berkantung-kantung makanan lezat di dalamnya, seperti duri salmon, bercakkan susu basi, sampai pada belatung-belatung gemuk yang sibuk menggelayut pada sepotong pastry busuk. Sempat kumenaruh simpati padanya. Kuangkat tubuh kuyunya, tatkala bersumpah untuk selalu hidup bersama Ace.
“Hei! Aku menyanyangimu, kawan,” pagi yang ajaib. Baru saja Ace mengucapkan rangkaian kata indah itu. Mantel panjangku belum terkena sempurna, namun kedua tanganku sangat ingin untuk mengelus-elus lehernya, kepalanya, dan menggaruki tubuhnya. Tandas, air mata ini hampir dibuatnya keluar. Dia kegirangan, tapi tak menyalak. Tak mengapa. Anjing pintar tak perlu berisik, justru cerita heroik lainnya yang ingin kudengar sepulangnya aku dari tempat kerjaku nanti. Aku takut, seandainya bosku memarahiku karena terlambat dalam kelas pagi ini. Kubiarkan dia di dalam, menjaga kamar agar tetap aman. Karena kelas seniku pagi ini tak mungkin untuk ditinggalkan. Bukankah tugas harianku hanya sekadar menyibukkan anjing-anjing lainnya yang selalu mengenakan kostum seragam menjenuhkan itu?
Tak kusangka, hari ini aku terlambat lagi. Bos memarahiku habis-habisan, anjing-anjing di kelas menyalak keras, sambil melemparkan pernak-pernik kesenian, pensil, bahkan gunting kecil sekalipun. Aku takut, aku menangis, tetapi mereka malah meringis. Lihatlah, Tuhan! Aku butuh tangan penolongmu yang tulus. Sekonyong-konyong, dari kejauhan terdengar pekikkan kencang. Tidak asing, bahkan tak pernah menjadi asing. Lantas kubuka saja jendela itu. Ini lantai dua puluh, tetapi mataku dapat melihat jelas sosok Ace di bawah sana. Inikah panggilan Tuhan? Tanpa pikir panjang, kulangsung melompat, membiarkan dinamis pawana ini melambungkanku. Sampai semuanya sirna, gelap, hitam, layaknya ruang hampa di penghujung semesta yang raya. Apa ini? Air mataku hampir saja menyeruak untuk kesekian kalinya. Tunggu, bukankah itu Ace? Dia berlari ke arahku, melompat, dan mendekap kepadaku tiba-tiba. Hangat merangkam peluk kami. Ia menyalak. Dengar? Ace kembali normal! Memang kau anjing ajaibku, Ace. Jadi, bukankah kita akan terus hidup bersama, Ace?
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia







