Oleh: Laely Alfiyatun Nasroh, S.Pd.I, Banjarnegara.
Tidak ada kesia-sian yang telah diatur oleh Tuhan untuk kehidupan alam semesta. Termasuk pada saat ini, ketika manusia dihadapkan dengan kedatangan virus yang menggemparkan dunia, yaitu virus Covid-19. Tuhan telah merencanakan ubo rampe yang menyertai kedatangan virus tersebut, diantara ubo rampe tersebut adalah terpeliharanya kembali bumi.
Kenapa bisa demikian? Ketika kita melihat dampak yang terjadi dalam kehidupan manusia akibat kedatangan covid-19, maka kita akan melihat bagaimana rutinitas yang terjadi pada aktifitas keseharian, kantor banyak yang mengatur jadwal untuk meminimalisirkan pertemuan dengan orang lain, dengan mengalihkan pekerjaan kantor untuk dikerjakan di rumah, aktifitas sekolah yang biasanya dilangsungkan secara tatap muka. Sekarang dilangsungkan secara daring, ibu-ibu yang biasanya menghabiskan waktu untuk kepasar sekarang banyak yang mengurangi aktifitas mereka di pasar dan memilih untuk berbelanja di tempat yang tidak terlalu ramai, banyak pula yang bekerja di perusahaan atau sejenisnya dibagi sift kerja, sehingga memungkin orang memiliki waktu lebih banyak di rumah.
Dari bayaknya waktu yang tersedia di rumah, banyak orang yang memanfaatkan rizki berupa waktu luang tersebut untuk hal-hal yang positif, diantaranya adalah dengan memulai bercocok tanam, banyak jenis tanaman yang menjadi pilihan masing-masing orang dan tentunya berbeda-beda satu dengan lainnya, ada yang memilih tanaman sayuran hidroponik, ada yang menanam pohon kayu, jenis rimpang-rimpangan, aneka macam bunga dan berbagai jenis tanaman lainnya, hal ini tentunya berakibat baik untuk bumi kita, karena semakin banyak tumbuhan yang ditanam di atas bumi ini, maka akan semakin banyak pasokan oksigen untuk udara yang kita hirup.
Tak hanya itu banyak yang menjadi produktif dengan menanam dan menghasilkan uang dari tanaman yang telah ditanam, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu dari desa Geni Langit, Kabupaten Magetan Jawa Timur, banyak yang produktif menanam sayuran hidroponik, seperti sawi, tomat, daun bawang, cabai, bunga kol, kubis, ditanam dalam ratusan polybag disekitar rumah mereka, “Mulainya sejak virus corona itu, karena kemarin banyak desa yang lockdown sehinga tidak bisa kemana mana,” ungkap Ibu Lasmini salah seorang warga desa Geni Langit. Hingga kini banyak ibu-ibu di desa tersebut menanam sayuran dengan media hidroponik, hingga desa tersebut menghasilkan omset 18 juta dalam rentang sekitar 3 bulan, hingga dilirik oleh pemerintah daerah (kompas.com).
Selain itu, ketika kita melihat apa yang dilakukan orang-orang disekitar kita tidak jauh berbeda. Yaitu banyak aktifitas menanam yang dilakukan sejak pandemi. Pekarangan yang tadinya kosong, kini berubah banyak ditumbuhi macam tanaman, halaman yang tadinya gersang, sekarang mulai bermunculan aneka macam tanaman hias yang sedap dipandang mata. Tidak ada kata terlambat dalam menanam. Karena menanam adalah sebuah proses yang hasilnya tidak bisa langsung kita petik/ rasakan hari itu juga, tapi proses menumbuhkan dan menghidupkan tumbuhan dalam tempo tertentu baru bisa kita rasakan hasilnya.
Entah itu sayuran yang hasilnya bisa kita masak, buah-buahan yang hasilnya bisa kita petik, tanaman hias akan indah apabila terawat dan tanaman mampu bertahan hidup di lingkungan tersebut. semua butuh proses dan perawatan dari mulai menanam sampai waktu yang tak terbatas, hingga tanaman tersebut bisa bertumbuh dan berkembang biak.
Banyak hal yang bisa kita lakukan, ketika kita bisa memanfaatkan waktu dengan baik, tergantung kemauan kita menjalankan diri sebaik-baiknya untuk suatu hal yang bermanfaat atau untuk hal yang bersifat sia-sia, jika kita melakukan suatu kebaikan maka kebaikan juga yang akan kembali kepada diri kita, siapa yang menanam dia juga akan menuai, selamat memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat untuk diri maupun bumi kita.





