Transformasi Kaderisasi Pesantren di Era Desrupsi

Disadari atau tidak, peradaban manusia telah berangsur berubah. Realita kehidupan manusia telah masuk era revolusi teknologi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan antarsesama. Dalam skala ruang lingkup dan kompleksitasnya, transformasi yang sedang terjadi sekarang mengalami pergeseran gaya hidup dari nyata ke dunia maya.

Kemajuan teknologi digital telah mendukung fenomena tersebut. Kemunculan internet di dalamnya membawa perubahan yang berarti bagi kehidupan manusia. Terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan, semua perangkat sekarang hampir sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Cukup dengan satu sentuhan layar handphone dapat memberikan berbagai informasi di dalamnya.

Jika dulu masyarakat rela berhari-hari berjalan kaki menuju tempat pengajian dan yang diisi oleh ustadz kondang, kini mereka tidak perlu repot dan capek seperti itu. Cukup menggunakan handphone, seseorang akan mendapatkan model pengajian yang diinginkan. Kondisi ini menggiring umat Islam agar segera menyesuaikan diri dalam menghadapi era modern yang semakin berkembang, khususnya dalam hal ini, pesantren dan santri.

Hasil penelitian PTMI UIN Jakarta, 54 % generasi saat ini selalu mencari informasi terkait agama dan lainnya melalui internet. Dalam pencarian informasi tersebut, generasi milenial tidak lagi monoton terpaku kepada organisasi Islam tertentu. Generasi milenial saat ini lebih merujuk kepada pribadi seseorang yang menurutnya cocok atau menarik dalam mentransfer informasi kepadanya.

Bacaan Lainnya

Meninjau hal di atas sebagai upaya mewujudkan dakwah digital, tentu harus ada subjek yang memiliki kemampuan keislaman dan teknologi yang mumpuni. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam harus mengambill tanggung jawab untuk melahirkan da’i-da’i milenial. Sudah saatnya pesantren melakukan transformasi pembelajaran dalam proses kaderisasi kepada para santri. Untuk mewujudkan hal tersebut, pesantren harus memastikan santri memiliki tiga kecerdasan sebagai kemampuan untuk melahirkan da’i-da’i professional di era desrupsi.

Pertama, kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan ini sudah menjadi kemampuan utama bagi orang yang tinggal di pesantren. Kultur pembelajaran di pesantren yang memberikan materi-materi keislaman menjadi upaya mendapatkan kecerdasan ini. Dengan pemahaman keagamaan tersebut dan lingkungan islami pesantren, para santri akan terbiasa mengerjakan perintah-perintah yang ada dalam ajaran agamanya, sehingga terbentuk pribadi santri yang religius.

Kecerdasan spiritual dibutuhkan para da’i karena mereka dituntut untuk menyampaikan materi-materi keislaman, tetapi tidak hanya itu saja. Kontribusi kecerdasan ini di era desrupsi akan membuat dakwah para da’i tidak sebatas formalitas saja. Dakwah formalitas yang hanya melahirkan kabura maqtan: Dia menyeru untuk berbuat baik, tetapi dia tidak melakukannya. Dia menyeru untuk tidak melakukan kemungkaran, tetapi dia malah melakukannya.

Kedua, kecerdasan emosional (Emosional Quotient). Emosional dibutuhkan untuk memastikan informasi yang disampaikan benar-benar sampai kepada generasi millenial. Kultur pesantren yang memberikan kesempatan kepada para santrinya untuk maju di depan umum dapat menjadi upaya dalam menumbuhkan kecerdasan emosional. Kebiasaan santri yang bergaul dengan masyrakat sekitar juga dapat membentuk kemampuan ini.

Namun ada hal yang harus menjadi perhatian para da’i di era desrupsi ini. Dakwah Islam yang memerintahkan untuk menyeruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran tidak akan selalu berjala mulus. Pasti akan ada orang yang tidak menyukai kegiatan tersebut. Untuk itu, kemampuan emosional dibutuhkan untuk memperkokoh mental para da’i. Para da’i harus memiliki kemampuan bersikap “bodoh amat,” dipuji dan dicaci tetap bersikap biasa-biasa saja.

Ketiga, kecerdasanan intelektual (Intellgence Quotient).  Ini menjadi faktor pendukung penuh untuk melahirkan da’i milenial. Intelegensia yang dimaksudkan adalah kemampuan untuk melek teknologi. Jika zaman dulu, santri diajari khithabah agar dapat berbicara di masyarakat, kini santri juga perlu memiliki skill dalam bidang tulis menulis, sinematografi, membuat video pendek atau caption menarik untuk merespon isu-isu terkini.

Kemampuan-kemampun di atat merupakan upaya dalam menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran (amr makruf, nafi munkar) di era desrupsi. Kaidah dakwah, “khatibunnas ‘ala qodri uqulihim” yang artinya “bicaralah kamu kepada manusia sesuai dengan kadar akal/pikiran mereka” mengandung makna agar dakwah harus menyesuaikan dengan keadaan orang yang didakwahi.

Berkaca kepada strategi dakwah yang dilakukan oleh para walisongo dulu, media wayang dijadikan sebagai solusi atau alternatif dalam menyampaikan pesan-pesan risalah nabi. Pada masa itu, wayang merupakan sesuatu yang disukai oleh masyarakat. Pun saat ini, media dakwah harus merambah di Youtube, Snapchat, Instagram, Twitter, Facebook, Telegram dan media-media sosial lainnya yang banyak digandrungi oleh masyarakat zaman sekarang.

Media dakwah dengan basis teknologi mutlak dibutuhkan. Sebab, realita masyarakat millenial lebih suka mengakses ceramah, tausyiah dan materi dakwah melalui media sosial. Selain mudah, bisa juga dilakukan dimana pun dan kapan pun mereka menginginkannya. Tanpa disadari, perlahan tapi pasti media sosial telah banyak memberi pengaruh besar dalam pemahaman agama di masyarakat terutama anak muda zaman now.

Untuk itu, pesantren sebagai lembaga pengembangan dakwah, tidak lagi hanya bertumpu pada cara lama seperti ceramah sebagai teknik dominan dalam menyampaikan materi dakwah dan pembelajaran. Pesantren harus melakukan tranformasi pembelajaran dalam mengkader para santri untuk menjadi pendakwa sesuai dengan keinginan zaman.

Santri sudah harus mengubah mindset lamanya. Monoton dengan metode lama tanpa menghiraukan perkembangan zaman yang akan menjadikan aktivitas dakwah merosot dan tertinggal. Pesantren sebagai tempat tinggal para santri harus mendukung perubahan mindset tersebut. Sebab, tempat tinggal dan lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi pola pikir manusia. Wa Allahu A’lam bi al-Shawaab.

Kodrat Alamsyah, Alumni Pondok Pesantren Hubulo Gorontalo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *