365 Hariku Melepasmu

Istimewa/Baladena.ID

Pada detik yang ku ketuk tanpa kantuk, ucapku berceletuk, akankan nadi berdetak dengan syukur yang senantiasa menapak?

Tuhan, asaku membumbung menjulang, kuterbangkan bersama angin yang hilir mudik berhembus menerpa biji cintaku yang bersemi dalam semayam kisah manis dan getir.

Pada putaran detik satu tahun silam, aku mengadu dalam peluh, bersama sesak nestapa yang bermula tegak hingga luruh.
Hariku kala itu menjelma menjadi awan hitam pekat yang mengerikan, mencekam, dan menikam.

Ku dengar kabar yang tak pernah ku ingini.
Aku, dengan sepenuh kesadaran menyaksikannya berbaring tanpa sapa, tanpa luka.
Ku lihat sesosok yang selama ini memelukku dalam dekap juga doa, tak lagi berjalan ke arahku saat ku injakkan kakiku di beranda rumah.

Di pagi yang begitu pilu, kala itu, saat kakiku menginjak daun pintu, ku saksikan keranda berbalut kain hijau bertuliskan “laa ilaaha illa Allah”..
Kakiku terhenyak dan terpaku seolah berada dalam rasa percaya dan ragu, benarkah hari itu tengah kualami detik itu?

Hatiku remuk lebam tanpa tolong, “ya, aku mengaku begitu lemah dan ngilu”. Tak lagi mampu ku ungkap dalam hias senyuman yang biasa ku suguhkan di depan mata-mata yang memandangku dengan segenap emosi yang lebur dalam balut tangis dan hela nafas. Mataku tak lagi mampu memandang satu persatu beberapa pasang mata yang tertuju padaku..

Kala itu, aku hanya melihat sesosok yang teramat ku kenal tengah tergolek lemah, tak bergerak, ia kala itu ia tengah berhias kain putih yang amat bersih.

Tak terasa tiba-tiba, tanpa mampu ku cegah, air di mataku sesegera mungkin turun tanpa ku mengerti bagaimana cara menghentikannya. “Ibu, kenapa kau tak bangun untuk mengusap air mataku?” kau hanya diam tanpa satu patah kata pun.

Lalu dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, kusanggupkan diri untuk merapal doa-doa yang mampu ku langitkan untukmu, sebelum kau di kebumikan.

Ibu, 1 tahun telah ku lalui tanpamu.
Maaf, atas segala harapmu yang belum seluruhnya mampu ku taklukkan..

Ibu, hari ini dengan segenap kesadaranku, aku ingin mengikat janji padamu, bahwa aku akan tetap berdiri dengan tangguh, sepertimu, tanpa banyak mengeluh dan tatap menatap dengan teduh.

Banyak hal yang hilang selepas kepergianmu, aku masih belajar mengisi kekosongan dan kehampaan itu, Ibu.
Semoga kesalahanku tak begitu mengecewakanmu, tersebab aku yangbtidak akan pernah mampu menggantikanmu..

Tenyata selama ini, tanpa ku sadari, kau adalah pendukung yang teramat radikal dan ambisius, dengan segala kemampuanmu, kau tak pernah menepikanku dalam kolong semestamu.

Darimu aku belajar, bahwa kata “mengerti” adalah sebuah isyarat mudah yang tak mudah dijalankan. Ibu, aku melihat dunia terkadang menipuku dan membuatku teramat kecewa. Namun, aku kembali mengingatmu, bahwa kau pernah mengajariku tentang “mengerti”.
Mengerti adalah sebuah cara menerima dan bersyukur, atas apa-apa yang menimpa diri.

Bahwa, patah dan tumbuh adalah sebuah proses yang mendewasakan. Menguatkan akar yang batang dan dahannya mulai menjulang dan membesar. Bahwa, seberapa pun angin mengombang-ambingkan, sang pohon harus tetap kokoh berdiri dan memberikan keteduhan serta menampung oksigen bagi penduduk bumi.

Denganmu aku mengerti bahwa memaafkan adalah cara terbaik untuk berdamai dengan masa lalu, termasuk memaafkan diri yang tidak selalu mampu memerankan skenario Tuhan dengan menawan dan paripurna. Memaafkan adalah cara untuk berikrar bahwa hari esok, sudah semestinya menjadi harapan dan ladang untuk menabur kebaikan yang terus membaik. Mengobati luka hingga pulih dan kembali dalam kemilau kepercayaan yang bersiap tegap memenangkan dunia.

Ibu, terima kasih telah mengizinkanku memeluk dan mengenalmu.
Ibu tak pernah ku nafikan cinta dan tulusmu, semoga kelak aku mampu untuk mengambil pelajaran dari pengangaimu yang teramat sempurna di mataku. Tanpa ragu ku sampaikan, “Aku mencintaimu”..
Semoga kebahagiaan selalu memelukmu, juga mengizinkanku untuk kembali memelukmu, saat waktuku telah sampai.
Juga doakan aku, semoga kelak mampu menjadi ibu yang paripurna untuk penerus generasi kita, pejuang dan pemimpin bangsa, negara, dan agama.

Dengan ini aku sepenuhnya memahami, bahwa perempuan yang bernama/ku sapa “ibu”, tak pernah hilang sedetikpun meski jasad telah di kebumikan.

Pilanggowok, 20 Juni 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *