“Andai kamu tau apa arti hampa, kamu tak akan berani menatap walau hanya dengan satu mata”
Universitas Diwangkara…
Jika kebanyakan manusia lebih menyukai kesunyian untuk menenangkan hati, maka Shila kebalikannya, gadis itu tidak terlalu menyukai kesunyian. Andai mereka tau siapa saja penghuni tak terlihat dalam kesunyian itu, pastilah mereka akan segera berlari bak keledai tertusuk palu.
Seperti sekarang ini, awalnya Shila berniat untuk membaca buku di perpustakaan. Namun, karena di sana cukup sunyi oleh populasi manusia dan terlalu ramai oleh populasi hantu, ia akhirnya mengalah dan memutuskan untuk membaca buku di taman belakang.
Adegan membaca buku awalnya berjalan lancar, angin sepoi-sepoi berpadu dengan suara gesekan dedaunan menjadi simphony sempurna untuk menemani aktifitas Shila. Hingga aura dingin mencekam menyapa bulu kuduk Shila, setetes darah tiba-tiba menodai buku yang sedang dibacanya.
Shila menatap malas pria berwajah pucat dengan kepala yang nyaris terlepas dari pangkalnya itu. Hantu itu mengenakan setelan jas mahal, darah segar berlumuran segar di sekujur tubuhnya. ‘Pasti pendatang baru’ batin Shila dalam hati.
Sontak ia memutar bola mata malas, adegan seperti ini bukan lagi hal biasa baginya. Mungkin hampir semua hantu di kampus ini sudah Shila absen satu persatu namanya. Tiap kali ada penghuni baru yang ingin menetap di sini, pasti para hantu senior akan mengantarkannya pada Shila agar meminta izin terlebih dahulu padanya. Apa sebab? Sebab gadis itu pernah berjasa dalam mengusir genderuwo hitam di gedung kampus tersebut yang dulu seringkali menculik para manusia dan kerapkali membuat kekacauan terhadap hantu yang lain. Sejak itu, Shila dinobatkan sebagai pahlawan para hantu penghuni universitas Dhiwangkara.
“Ahh..khhuuu.. Ri..no..” ucap si kepala buntung dengan suara nyaris seperti keledai gila. Buruk. Sangat.
Bahkan ia bisa melihat kawanan lebah yang awalnya mengerumuni rumpunan mawar di sebelah bangku Shila, melarikan diri secepat kilat. ‘Pasti efek suara jelek si kepala buntung’, tebak Shila.
Shila membalas ucapan hantu Rino dengan senyuman paksaan, sambil mengrenyit heran melihat penampilan hantu baru itu. Si hantu kembali membuka mulut untuk mengutarakan maksudnya pada Shila. Tak tahan mendengar suara buruk Rino, Shila langsung menyela, “Kamu mau izin?”
Rino mencoba menganggukkan kepalanya yang rapuh. Naas, kepala kesayangannya itu malah menggelinding ke ujung sepatu Shila. ‘Sial’ umpat Shila dalam hati. Andai mata batinnya itu baru saja muncul 1 tahun ini pasti ia sudah mati terkena serangan jantung melihat adegan semacam ini.
“Kamu boleh tinggal disini, dengan 1 syarat,” ucap Shila to the point.
“Sebelum saya lanjutkan, mohon pakai dengan benar kepalamu.”
Rino segera meraih kepalanya dan memakainya dengan baik. Ia segera mengambil posisi duduk di samping Rino dengan mata memohon.
“Pertama, hiduplah dengan baik dan jangan ganggu manusia di sini. Jika aku sampai mendengar keluhan mereka tentangmu, aku akan membakarmu tanpa ampun”
Ucapan Shila dibalas secara antusias oleh Rino. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Rino, “Ulurkan tangan kananmu, ini simbolis kesepakatan kita,” ujar Shila.
Rino menganguk seraya mengulurkan tangannya pada Shila, Shila menyambut tangan dingin Rino, seketika cahaya merah menghiasi kedua tangan mereka. ‘Mati penasaran’, ucap Shila dalam hati. Simbolis yang Shila lakukan ini memang memiliki dua tujuan; Pertama, untuk mengetahui sebab kematian hantu, jika cahaya biru yang muncul berarti ia mati baik-baik, dan jika merah berarti ia mati terbunuh. Kedua, untuk mengikat hantu pada perintah Shila, sekuat apapun hantu jika sudah terikat seperti ini dengan Shila maka mau tidak mau ia harus menurut pada Shila jika tidak mau dibakar olehnya.
Shila mengangukkan kepala takzim sambil melambaikan tangannya, isyarat agar Rino segera enyah dari hadapannya. Sekejap asap hitam menguar dari tubuh Rino, disusul dengan tubuhnya yang perlahan menghilang.
Shila menatap langit dengan tatapan putus asa. ‘Sampaikapan kutukan ini akan menghantuiku?’ keluhnya dalam hati. Bagi manusia dengan kemampuan seperti Rere, pasti akan memandang dunia dengan pandangan yang berbeda. Shila bukan hanya sekedar memiliki indra keenam saja, namun ia juga bisa merasakan dan menyaksikan pelepasan ruh seseorang dari dunia (alias kematian). Betapa setiap hari ia harus menyaksikan kematian para manusia, tangisan pilu para roh yang masih memiliki tanggungan di dunia, hingga senyuman para roh yang meninggalkan jasad mereka dengan tenang.
Konon, kemampuan itu merupakan kutukan yang diwariskan oleh Dharma, kakek Shila. Dulu mendiang kakeknya itu merupakan penganut pesugihan dengan sekutu jin jahat yang suka bersemayam di kegelapan. Jin itu sepakat untuk membantu Dharma, dengan syarat ia tidak boleh memiliki keturunan perempuan. Namun, nyatanya Dharma melanggar janji tersebut dengan lahirnya Shila. Demi melindungi Shila, Dharma memilih untuk memutuskan persekutuannya dengan jin itu dengan cara membakar sang jin. Karena merasa sakit hati, jin akhirnya mengutuk Shila dengan cara membuka mata batinnya.
***
Teman sekelas Shila nampak bersemangat menyambut dosen baru mereka. Bisik-bisik tetangga, dosen baru ini merupakan lulusan universitas ternama di Korea dan yang peling penting ia tampan dan masih lajang. Para peremuan sibuk memoles wajah dan bibir mereka dengan antusias. Shila mulai membuat coretan abstrak di atas meja, ‘menjijikkan’ bisik Shila dalam hati sembari membuat lukisan abstrak di atas sketch booknya.
“Indah,” puji Rino.
Sontak Shila menoleh ke arah sumber suara di sebelahnya. Shila menyipitkan matanya melihat sosok pria yang kini tengah duduk manis di sisinya, “Hantu buntung?”, terka Shila sedikit terheran. Pasalnya, penampilan Rino kini berbeda 90 derajat dari penampilan Rino saat pertama kali bertemu dengan Shila beberapa jam yang lalu.
“Tidak usah terpesona begitu padaku,” ucap Rino sambil mengedipkan matanya pada Shila.
Shila tersenyum miring menanggapi ucapan Rino, “Siapa yang mendandanimu?,” tanya Shila.
“Hantu Jessi”
Shila menganguk, ia tidak bisa banyak bicara dengan Rino karena hal itu pasti akan membuat teman-teman sekelas menganggapnya sinting.
“Kamu bosan?,” tanya Rino. Shila menjawabnya dengan anggukan, kemudian Rino menawarkan diri untuk bernyanyi. Aku Rino, dulu semasa hidupnya ia menjadi most wanted di sekolahnya berkat suara dan otak emasnya. Rino nampak bersemangat menceritakan masa-masa SMA nya kepada Shila, Shila nampak bahagia melihat hantu pendatang baru itu nampak bahagia mengenang asa hidupnya dulu.
“Selamat pagi semua, saya Mike dosen kalian yang baru,” sapa dosen baru itu dengan ramah. Sontak seisi kelas yang didominasi kaum hawa itu menjadi ricuh. Bahkan di antara mereka ada yang berkedip manja sembari menaikkan sedikit rok mereka untuk menggoda Mike.
Shila nampak tidak mempedulikan kedatangan Mike, dan memilih mendengarkan curahan hati Rino. Shila nampak tercekat ketika merasakan hawa dingin mencekam, asap hitam mulai menyapa pandangannya. Ia kemudia menoleh ke arah Rino, pria itu kembali ke wujud buruk rupanya, bahkan sepasang tanduk dan taring mulai menghiasi wajahnya. Rino menatap tajam ke arah Mike, aura dendam makin terasa dari diri Rino.
Nampaknya Mike memiliki hubungan buruk di masa lalu Rino, sehingga membuat keadaan Rino seperti ini. Rino mulai beranjak hendak mendekati Mike dengan tatapan membunuh. Mengetahui hal itu, Shila segera berdiri seraya menggenggam tangan Rino kuat-kuat, menyalurkan aura positif padanya. Gerakan Shila yang terbilang tiba-tiba itu mengundang perhatian sejumlah mahasiswa. “Saya izin ke kamar mandi, pak,” ucap Shila tenang. Tanpa meunggu jawaban Mike, Shila beranjak meninggalkan kelas.
“Ih, dasar nggak sopan, baru juga Mr. Mike ngajakin kenalan, udah main izin ke kamar mandi aja,” ujar Tiara, si make up menor dengan ketus.
***
Rino menyandarkan punggungnya ke tembok sambil memejamkan mata, Shila mengusap pundak Rino agar ia semakin tenang. Perlahan, wajah Rino berubah menjadi lebih baik. Rino menarik Shila menuju penjual terangbulan di dekt gerbang kampus, Rino menatap memohon pada Shila. Shila yang paham maksud Rino segera mengiyakan kemauannya, ia membeli sebungkus siomay lengkap dengan saus pedasnya. Usai itu, mereka beranjak ke taman belakang.
Rino menghirup dalam siomay dalam genggaman Shila, “Baru kali ini, aku lihat suka siomay, biasanya kemenyan, bangkai, bunga,” ucap Shila sambil menjitak kepala Rino. “Hey, aku masih arwah penasaran, belum hantu, dan.. jangan sampai sih,” jawab Rino sambil mengedikkan bahu santai.
Rino tersenyum pada Shila, “Ini makanan kesukaanku, sekaligus makanan terakhir yang kumakan sebelum mati.” Pandangan Rino berubah sendu, entah mengapa Shila ikut merasakan kesedihan Rino.
“Terima kasih telah mencegahku untuk membunuh Mike, jika saja kamu terlambat, pasti aku benar-benar berubah menjadi hantu jahat.”
Rino menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Shila, ia nampak berusaha keras berdamai dengan masa lalunya. “Apa Mike pembunuhmu?,” tanya Shila. Rino mengangukkan kepalanya pelan, “Sekaligus kakak angkatku”. Shila nampak terkejut mendengar pengakuan Rino. Pria itu mulai meneritakan masa lalu kelamnya pada Shila.
Rino meninggal 1 minggu lalu, ketika ia hendak meresmikan restoran cabangnya yang ke tujuh.
Rino berhutang jasa pada keluarga Mike, keluarganyalah yang telah mengadopsinya pada usia 9 tahun dari panti asuhan dan memberikan kehidupan serba kecukupan pada Rino. Kebahagiaan Rino bertambah dengan hadirnya Mike sebagai kakak angkatnya, Rino menjadikan Mike sebagai panutannya. Bagimana tidak? Mike yang saat itu masih berusia 12 tahun sudah sukses menjadi penulis komik. Kesuksesan Mike lah yang membuat Rino semakin bersemangat untuk menyamai kesuksesannya. Sejak kecil Rino memang ahli dalam tataboga, siomay menjadi makanan favoritnya, akhirnya ia memutar ide agar bia menyulap makanna pinggiran irtu menjadi makanna kelas atas. Alhasil lahirlah restoran sosiomay yang tak pernah sepi pengunjung. Omzet penjualannya tak pernah di bawah 100 juta perbulannya. Hingga akhir hayat Rino, ia sudah berhasil mendirikan 7 cabang restoran di beberapa kota besar di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu keduanya meraih kesuksesan masing-masing. Mike sebagai penulis juga dosen, dan Rino sebagai fotografer sekaligus pendiri sosiomay.
Sayangnya, kesuksesan Rino terbilang melejit jauh di atas Mike sehingga membuat Mike iri hati padanya. Belum lagi Sarah, perempuan yang sudah lama Mike incar malah jatuh cinta pada Rino. Walaupun Rino sama sekali tidak menaruh hati pada Sarah, namun tingkah Sarah yang blak-blakan menyatakan cinta pada Rino di hadapan keluarganya membuat dendam Mike semakin membara dan berujung pada pembunuhan sadis.
Malam itu tepatnya saat Mike dan Rino menghadiri pesta ulangtahun Sarah, gadis itu terang-terangan menyatakan cintanya pada Rino. Mike yang terkurung emosi segera pergi meninggalkan lokasi dengan rencana busuk di otaknya. Mike kira Rino akan menerima cinta Sarah karena selama ini ia kira Rino juga sama-sama mencintai Sarah.
Padahal, setelah kepergian Mike, Rino dengan penuh rasa sopan menolak halus cinta Sarah. Sarah yang penuh pengertian khirnya bisa menerima penolakan itu walau dengan hati yang hancur. Setelah itu, Rino mencari Mike untuk menjelaskan semuanya, ia tau Mike sudah lama mencintai Sarah. Rino tak bisa membayangkan betapa sakitnya Mike melihat kejadian barusan. Namun, sayang sampai fajar datang, Rino sama sekali tidak bisa menemukan Mike. Rino akhirnya hanya bisa pasrah dan mengirimkan penjelasannya lewat pesan suara kepada Mike, semoga Mike mengerti.
Esoknya sebelum Rino menghadari agenda peresmian restoran, Mike menelponnya agar menemuinya di taman belakang rumah, “Ada hal pentig yang mau kusampaikan,” ucap Mike waktu itu. Dengan segera, Rino beranjak ke sana, naas baru satu langkah memasuki taman, Mike menebas kepala Rino dengan golok hingga nyaris terputus. Untuk menutupi kedoknya, ia membayar sejumlah preman agar mengobrak-abrik kediaman mereka agar terkesan seperti perampokan. Mike bahkan mencakar-cakar wajahnya sendiri, dan sekit menyayat lengannya agar semakin memperkuat kesan perampokan. Tak lupa ia menyembunyikan rekaman CCTV taman, dan hanya menyisakan CCTV ruang tengah yang menanmpakkan aksi para perampok.
Kepada kedua orangtuanya dan polisi, Mike berakting sangat rapi, ia menangis sejadi-jadinya sambil menceritakan adegan perampokan yang menewaskan adiknya itu.
Setelah Rino dimakamkan, Mike tertawa puas di kamarnya. Ia merutuki kebodohan para polisi yang mempercayai kebohongannya begitu saja. Arwah Rino memandang tak percaya perbuatan kakakknya itu, pria yang selama ini ia agungkan setinggi langit ternyata malah menyimpan dendam kepadanya, bahkan pembunuhnya.
***
Shila kembali menggenggam tangan Rino usai ia menceritakan masa lalunya. Aura dendam kembali menguasai Rino usai mengingat kembali kisah lamanya. Nyatanya genggaman Shila mampu menghapus aura aura itu perlahan.
“Tunggu sebentar,” ujar Shila pada Rino. Gadis itu berlari menuju lokernya untuk mengambil gitar kecilnya. Setelah itu, ia berlari kecil menghampiri Rino yang nampak menunggunya dengan sabar.
“Aku nggitar, kamu nyanyi ya,” ucap Shila dengan mata berbinar. Ia ingin menghibur Rino, ia teringat bahwa Rino punya suara emas dulu, itu artinya ia jago bernyanyikan? Siapa tau dengan ini, rasa sedihnya makin berkurang.
Rino tersenyum sembari menyanyikan lagu Letto berjudul, “Embun Pagi”.
“Ingatkah engkau kepada, angin yang berhembus mesra, yang menemanimu sebelum cahaya,,
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra yang mnemanimu, cinta,,”
Rino tak hentinya memandang Shila takjub, jemari gemulainya dengan petikan gitarnya seakanmenjadi perpaduan yang pas untuk dipuji. Wajah teduh Shila semakin bercahaya saat ini. Entah kapan terakhir kali Rino merasa senyaman ini, yang jelas jika ia boleh meminta, ia ingin merasakan hal seperti ini lebih lama lagi, bahkan selamanya. Shila tersnyum pada Rino di penghujung lagu, Shila memuji suara indah Rino.
Pagi ini mereka menghabiskan waktu bersama dengan peni=uh kebahagiaan, Rino bercerita banyak mengenai pengalamannya sambil sesekali menggoda gadis mungil itu.
Tanpa sadar, sepasang mata mengintai aktifitas mereka berdua sedari tadi. Ada tatapan bahagia bercampur penyesalan di sana.
***
Semakin lama, Rino semakin dekat dengan Shila. Rino banyak membantu Shila dalam mengerjakan tugasnya juga membagi pengetahuannya seputar dunia fotografi, kebetulan Shila juga menyukai hal itu. Bahkan Rino mulai lupa akan tujuan balas dendamnya pada Mike, ia terlalu hanyut dalam pesona Shila.
“Rino, lihat! Aku menemukan banyak fotomu di google,” pekik Shila ketika mereka sedang duduk bersama di sebuah taman dekat kompleks ruamh Shila. Rino menghamiri Shila sambil tersenyum lebar, ”Sekarang kamu percaya kalau aku populer?”. Shila menganguk antusias.
“Shila, tunggu sebentar, aku mau menunjukkan sesuatu padamu,” ujar Rino yang dibalas angukan Shila. Rino hendak mengambil gitar dari hantu Jessi, ia ingin memamerkan bakat barunya pada Shila.
Baru beberapa detik Rino pergi, terasa seseorang memegang pundanya, “cepat sekali Rino,” gumam Shila. Baru sekejap Shila menoleh, kesadaran Shila mulai hilang, orang itu membekap Shila dan membawanya pergi. Tak lupa ia meninggalkan surat di sana.’ Semoga Rino mengerti’ ucap orang itu sambil berlalu membawa Shila.
Rino yang baru saja datang, langsung panik mencari keberadaan gadis tercintanya itu. Ketika ia hendak beranjak mencari Shila lebih jauh lagi, ia menemukan sebuah surat ancaman yang ditujukan padanya.
Untuk adikku termanis,
“Kesayanganmu ada padaku, jemput dia di guang restoranmu ang terakhir sekarang juga sebelumm ia berubah menjadi arwah sepertimu”
-Mike-
Amarah Rino memuncak, berani-beraninya Mike mencari masalah dengannya bahkan setelah nama almarhum terselipkan dalam namanya. Dan bagaimana Mike bisa tau kebersamaannya dengan Shila selama ini?
‘Aaarghh’, Rino memekik frustasi, ia mengutuk laknat mantan kakakknya itu. Ia tak boleh melukai Shila, barang seujung kuku saja.
***
Shila membuka mata perlahan, nampak di sana Mike yang sedang memegang pisau sambil menyeringai sinis. Ditatapnya gadis yang belakangan ini menjadi sumber adik arwahnya itu. “Kenapa anda menculikku, Mr?” tanya Shila sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Mike hanya diam menaggapi pertanyaan Shila. Ia tersenyum menghampiri Shila. Dinginnya pisau kini beradu dengan pipi Shila yang basah oleh air mata. Lagi-lagi Mike hanya diam.
Tiba-tiba angin kencang datang berhembus, dan,,,
Wusshhh.. BRAKK…
Pintu gudang terbuka dengan amat kencangnya. Tubuh Mike terdorong keras ke belakang hingga membentur tembok. Di sana, terlihat sosok Rino yang nampak mengerikan, asap hitam mengelilinginya memperkuat kesan mencekam. Tangan Rino terulur panjang melepaskan ikatan tali di kaki dan tangan Shila.
Mike bertepuk tangan melihat aksi heroik Rino. Rino semakin mruka melihat respon Mike, ia beranjak mendekati Shila untuk mengamankannya.
Sekejap tubuh Shila berpindah ke pelukannya, “Kamu baik-baik saja,” tanya Rino cemas, wajahnya perlahan berubah normal. Shila hanya bisa menganguk lemah, ia tak punya tenaga untuk berkata-kata barang sepatah. “Rino, kakakmu bersimpuh,” ucap Shila.
Rino terhenyak dan menoleh ke bawah, dilihatnya Mike yang kini bersimuh di bawah kakinya. “Aku mengaku salah adikku, aku salah, hukum aku. Waktu itu aku dibutakan oleh rasa iri padamu. Dengan bodohnya aku membunuh orang yang sangat tulus menyayangiku begitu saja. Dimana hatiku?,” ucap Mike sambil menangis tersedu.
“Jika kamu bertanya mengapa aku bisa mengetahui keberadaanmu, maka jawabannya satu. Aku sama seperti Shila, kami memiliki kemampuan yang sama. Maka itu, dulu tiap kali ada pemakaman, aku selalu menghindar, aku tak sanggup melihat airmata para arwah yang meninggalkan jasadnya penuh penyesalan. Karena itu juga, setelah aku membunuhmu, aku selalu mengenakan kacamata hitam untuk menyamarkan sosokmu. Betapa rasa penyesalan itu makin terasa ketika aku melihatmu tersenyum ceria pada Shila saat kelasku waktu itu. Aku… Merindukanmu, Aku salah Rino, Aku salah, aku bodoh.”
Shila menatap Rino dalam, pria itu nampak rapuh dengan airmatanya yang mengalir. Shila menggenggam erat tanagn Rino berharap hal itu mampu menguatkannya. Rino menatap Rino dengan tatapan bertanya, “Damaikan logika dan hatimu, maka kamu akan tau jawabannya,” ucap Shila sembari tersenyum tulus pada Rino.
Tiba-tiba Mike mengangkat pisau ke arah lehernya, “Aku mau membalas semua pebuatanku padamu, Rino. Kau terbunuh dengan pisau, maka akupun begitu. Maaf, Rino, maaf,” ucap Mike sarat sebelum tajamnya pisau menebas lehernya.
Dan hap,,, Shila berteriak histeris melihat adegan bunuh diri di hadapnnya. Kepala Mike jatuh menggelinding tepat di hadapan Shila, mata Mike masih terbuka dengan lidah terjulr. Rinopun nampak terkejut.
Seketika arwah Mike keluar dari jasadnya, dengan tubuh terbakar dan baju hitam compang-camping. Tidak ada keindahan sma sekali darinya. “Maaf,” ucap arwah Mike sekali lagi dengan penuh sesal. Rino segera memeluk kakaknya itu, sungguh sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya ia masih menyayangi pria itu. Iri dengkilah yang menjadi awal segala petaka antara adik dan kakak itu. Mereka berpelukan erat, segala sesal dan haru melebur menjadi satu. “Apakah pelukan ini sekaligus maaf bagiku?,” tanya Mike seraya melepaskan pelukannya. Rino menganguk takzim dan memeluk kembali Mike. Adegan dramatis itu tak berlangsung lama, karena kemudian muncullah sosok bertubuh besar berjubah hitam dengan rantai api ditangannya, ia segera merantai Mike dengan rantai panas itu. Mike tersenyum kepada Rino sebelum akhirnya diseret paksa oleh sosok yang kami yakini sebagai pencabut penjemput para pendosa. Meskipun kata maaf telah Mike dapatkan, namun tetap saja dosa adalah dosa, pembunuhannya dulu harus ia pertanggungjawabkan pada tuhan. Belum lagi aksi bunuh diri yang barusan ia lakukan, menambah berat beban dosa Mike.
Perlahan Rino merasakan tubuhnya mengeluarkan cahaya terang, pakaiannya berubah menjadi setelah serba putih yang sangat indah. Namun, tubuhnya berangsur-angsur menghilang, ‘Inilah waktu kepergianmu, Rino. Selamat! Kamu berhasil berdamai dengan dendammu, sehingga kamu bisa berpulang dengan tenang,’ seru sebuah suara yng hanya bisa Rino dengar. Ia segera berbalik menghadap Shila yang kini memndangnya nanar, sepertinya Shila memahami apa yang terjadi pada Rino. Gadis itu tersenyum tulus pada Rino.
Rino menggenggam tangan Shila perlaha, kini banyangan Rino sudah sangat tipus, nyaris tak terlihat, “Selamat tinggal mata bulat! Jangan pernah bersedih ya! Aku akan terus mengawasimu di surga sana. Awas saja jika aku melihatmu bersedih. Terima kasih, karena telah mengajariku banyak hal, termasuk cinta,” usai mengucap pidato singkat itu, tubuh Rino benar-benar memudar. Shila menggenggam tangannya menahan pedih di hatinya. Hari ini Shila mengenal arti kata sesal. Namun satu, yang membuatnya senang, cintanya berbalas.







