Jenjang intelektual biasanya berhubungan erat dengan kualitas formal seseorang dalam menempuh pendidikan serta pencapaian belajarnya dalam dunia pendidikan. Tak heran jika hal itu terkadang menjadi patokan setiap instansi atau lembaga saat menyodorkan form pendaftaran kepada para pelamar.
Masyarakat umum mengenal kata intelektual sebagai istilah yang menggambarkan kepintaran, wawasan, kecerdasan serta kemampuan mempelajari banyak hal dan memecahkan suatu problematika. Jika berbicara dalam dunia kemahasiswaan, mahasiswa berintelektual tinggi digambarkan dengan mahasiswa yang pintar, nilai cumlaude, tidak banyak ulah dan bahkan pandangan ini meluas hingga mempersoalkan pakaian, wajah serta fisiknya.
Seorang pakar analisis Adrew Crider mengatakan bahwa intelektual itu bagaikan listrik, mudah diukur tapi mustahil untuk didefenisikan. Kalimat ini banyak benarnya. Tes intelegensi sudah dibuat sejak sekitar delapan dekade yang lalu, akan tetapi sejauh ini belum ada defenisi intelektual yang dapat diterima secara universal.
Perjalanan panjang sejarah intelektual manusia telah banyak ditulis di buku-buku sejarah di masa lampau sehingga banyak tokoh mampu melahirkan berbagai penemuan serta pemikiran yang sedikit banyak telah digunakan, dimodifikasi, disempurnakan atau bahkan dimusnahkan seiring dengan perputaran rotasi bumi.
Maka dari itu, kita bisa melihat bahwa kegiatan berpikir merupakan salah satu kegiatan manusia yang sudah teraplikasikan sejak dahulu. Itulah mengapa intelektual menjadi patokan seberapa luas wawasannya serta seberapa canggih gagasan seseorang.
Perbedaan sudut pandang sering kali menjadi permasalahan yang komplek di masyarakat. Seperti gambaran meme yang masyhur di kiriman gambar Whatsapp, angka enam yang bisa dilihat sebagai angka sembilan jika berbeda sudut pandang yang melihat.
Namun dewasa ini problematika perbedaan yang berujung pada perseteruan akan terus berlanjut sebab ketiadaan patokan dan dasar yang kuat untuk mengatasinya. Alhasil, setiap orang atau kelompok yang mendasarkan pikirannya hanya pada satu sudut pandang dan akan menganggap yang lain salah.
Kelompok ini sering disebut dengan kelompok aliran fanatik. Seseorang yang memiliki fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan.
Sekilas menilik perjalanan berpikir manusia, teringat tentang penciptaan seorang laki-laki yang kemudian diminta menyebutkan semua benda yang ada di sekitarnya. Kemampuan menyebutkan benda-benda dengan baik atas izin Yang Maha Pandai menjadikan derajatnya naik dibanding makhluk lain yang jauh lebih dulu diciptakan.
Maka seorang muslim yang berpikir dengan kadar intelektualitas yang tinggi, jelas dan pasti akan membentuknya menjadi makhluk paripurna bukan menjadi “hakim” yang selalu menentukan benar dan salahnya perilaku manusia lain.
Mengulas kembali pelajaran matematika dasar, kita pernah mengenal bahwa perputaran sudut dimulai dari satu hingga tiga ratus enam puluh derajat. Pelajaran itu nyatanya mampu diaplikasikan dalam memaknai cara berpikir seorang intelektual. Maksudnya, mampu memahami permasalahan serta menjadi problem solver dengan banyak sudut pandang bukan hanya satu sudut pandang.
Pola berpikir dengan wawasan lebih dari satu sudut pandang mampu menjauhkan dari berpikir sempit serta fanatisme berlebihan pada diri sendiri dan kelompok pribadi.
Menanggapi realitas demikian, Islam sebagai agama yang menjunjung misi kenabian bergerak secara sadar dengan menyeimbangkan dimensi kecerdasan intelektual dan spiritual dengan misi mentransformasikan wahyu serta akal dalam kehidupan sosial. Inilah yang disebut dengan intelektual profetik.
Intelektual profetik adalah wujud penyandingan antara ilmu dan agama, antara saintifik dan teologi, antara orientasi dunia dan akhirat serta antara hubungan horizontal dan vertikal.
Intelektual profetik nyatanya mampu mengaplikasikan pelajaran matematika dengan baik. Menalar, menilai, mencipta serta merumuskan arah berpikir secara spesifik dengan banyak sudut pandang sesuai koridor agama bukan pada asumsi pribadi semata, sehingga mewujudkan pencapaian atau penyelesaian masalah yang sempurna.
Maka inteletual profetik merupakan pengejawantahan dari konsepsi tauhid serta menjadi parameter dalam berpikir untuk menanggapi permasalahan umat dan bangsa secara kaffah (menyeluruh)dan komprehensif).





