Mengenal Syawal dan Teman Kenal(an)

Halal Bihalal dan Momentum Rekonsiliasi di Era Pandemi Covid-19

Bulan Syawal terletak sesudah bulan Ramadhan dan sebelum Dzul qa’dah. Dalam Mengenal Nama Bulan pada Kalender Hijriyah secara kebahasaan, Syawal berasal dari kata bahasa Arab yang berarti `peningkatan’, `meningkat’, atau `terbit’.

Dalam Kitab Ensiklopedia Islam dijelaskan, bagaimana Syawal serta bulan-bulan lainnya yang dijalani suku-suku bangsa Arab pada zaman Jahiliyah. Nama ke-12 bulan di era pra-Islam, sebagaimana kita kenal sekarang, jamaknya sudah umum di kenal pada masa sebelum kenabian Rasulullah SAW. Misalnya, bulan Ramadhan berasal dari bahasa Arab yang berarti `panas sangat terik’. Sebab, pada bulan tersebut musim panas di Jazirah Arab sedang terik-teriknya.

Kata orang bijak, ada dua hal yang akan sulit ditemukan di akhir zaman. Yaitu, penghasilan yang halal dan teman sejati. Lantas, siapa teman sejati bagi manusia kala berada di dunia?.

Imam Syafi’i berkata “Carilah sahabat yang setia dalam duka. Bukan dalam suka, karena hidupmu senantiasa berputar antara suka dan duka.” Itu adalah nasehat pertama Imam Syafi’i tentang sahabat. Secara logika, jika seseorang mendekati, menyayangi, mempedulikan kita saat senang saja, maka hal itu tidak lebih dari sekedar keegoisan belaka. Mereka hanya mau enaknya.

Lebih jauh, apabila kita tidak menemukan seseorang yang demikian, maka Imam Syafi’i mengungkapkan “Bila engkau tidak menemukan sahabat yang takwa, jauh lebih baik kamu hidup menyendiri daripada harus bergaul dengan orang-orang jahat.” Pernyataan Imam Syafi’i di atas sudah sangat jelas mengenai persahabatan yang tidak layak bagi kita.

Ada sebuah ungkapan yang pesan moralnya kira-kira begini “Jika kau bersahabat dengan seorang pandai besi, maka engkau juga akan merasakan panasnya. Sedangkan, jika engkau bersahabat dengan penjual minyak wangi, maka engkau juga akan merasakan harusnya.”

Maksud perkataan Imam Syafi’i tidaklah jauh berbeda dengan ungkapan tersebut, karena apabila kita bersahabat dengan orang yang tidak bertakwa, lemah iman, maka kemungkinan besar kita juga akan tergelanyut dalam kehidupan sahabat kita yang tidak bertakwa itu.

Begitu juga dengan Teman kenalan, dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, kita harus Berhati-hati terhadap mereka karena kita tidak mengenal keburukannya kecuali dari orang yang telah dikenal. Seorang teman adalah orang yang bisa membantumu, sedangkan seorang awam tak akan berpengaruh bagimu. Sesungguhnya keburukan itu semuanya berasal dari para kenalan yang menampakkan persahabatan lewat lidahnya.

Apabila terpaksa bertemu dengan mereka di kampus, masjid, pasar, dan tempat yang lainnya. Kita tidak boleh menghinakan mereka. Sebab, bisa jadi mereka lebih baik daripada kita. Dan jangan pula mengagungkan dunia yang mereka miliki karena kita bisa menjadi binasa. Sebab, dunia dan isinya dalam pandangan Allah Swt. sangat kecil. Betapapun hebatnya penduduk dunia menurut kita, mereka tetap jatuh di mata Allah Swt.

Jangan merasa senang dengan penghormatan, sanjungan, dan kecintaan yang mereka berikan. Karena, sebenarnya satu persen pun hal itu tak ada dalam hati mereka. Jangan sampai kaget dan marah kalau mereka mencela ketika kita tidak ada.

Jangan pula bersikap tamak terhadap harta, kedudukan, dan bantuan mereka. Karena, orang yang tamak akan gagal pada hari kemudian. Sikap tamak tersebut betul-betul hina. Jika kita meminta kebutuhan pada seseorang, lalu ia memenuhinya, maka berterima kasihlah pada Allah dan padanya. Tapi manakala orang itu tak bisa membantu, jangan engkau mencela dan mengeluhkannya karena hal itu bisa menimbulkan sikap permusuhan.

Jadilah seorang mukmin yang selalu pemaaf. Jangan menjadi seorang munafik yang hanya mencari salah. Katakanlah, “Dia memang tak bisa memberi karena alasan tertentu yang tak kuketahui.”

Jangan sekali-kali menasihati seseorang sebelum terlebih dahulu melihat tanda-tanda bahwa ia akan menerimanya. Jika tidak, ia tak akan mendengar dan hanya akan menjadi musuh. Jika mereka berbuat salah dalam satu persoalan dan mereka tetap tak mau belajar, maka jangan mau mengajari mereka. Sebab mereka hanya akan memanfaatkan ilmumu dan akan menjadi musuhmu.

Kecuali jika sikap mereka itu terkait dengan maksiat yang mereka lakukan, maka ingatkan mereka pada kebenaran secara lemah lembut dan tidak kasar. Jika mengetahui sikap mereka baik, bersyukurlah kepada Allah yang telah menjadikan dicintai oleh mereka. Tapi kalau mereka bersikap buruk, maka serahkan diri mereka kepada Allah Swt. Dan berlindunglah engkau pada Allah Swt. dari keburukan mereka itu.

Berkenaan dengan masuknya bulan Syawal bukan malah mengendorkan ibadah, bahkan menguranginya. Tetapi berusaha untuk melipatgandakannya. Semangat Ramadhan harus ditingkatkan, paling tidak dipertahankan.   “Dalam sebuah syair dikatakan, ‘Hai Pelayan jasad sebelas bulan melayani jasad sehingga kita lupa siapa kita. Dari barat ke timur, lebih banyak mengurusi jasad, urusan insaniyah kita kecil sekali, redup dan mungkin hilang’

Kita harus memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, jangan hanya pada bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan lain.  “Artinya, semangat beribadah sekaligus berbuat amal kebaikan sepanjang bulan, sepanjang tahun dan yang paling terpenting jangan sampai salah memilih teman” Wallahu’alam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *