Kebangkitan Nasional, Perjuangan Kaffah Melawan Corona

Hingga saat ini, wabah pandemi Covid-19 yang mengancam dunia masih belum tuntas. Memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, corona masih menjadi perbincangan. Ini tentu tidak dapat dihindari, maka pikiran positif pun harus selalu kita tanamkan. Saat sebuah wabah muncul (yang saat ini adalah corona), disitu pula ada ujian bagi umat manusia. Sebab, ramadhan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi covid 19 menjadi alasan perbedaan suasana dan juga kondisi dalam menjalani bulan ramadhan kali ini. Maka, sudah seharusnya kita bersatu untuk melawan virus ini.

 

Perjuangan yang Kaffah

KH Ahmad Sahal, menyatakan bahwa, ada sebuah falsafah hidup penting untuk dihayati. Sebab, terdapat banyak nilai berharga dan akan mempengaruhi pola pikir seseorang. Selain itu, dengan falsafah ini, kita juga akan mendapat pelajaran kehidupan, berupa nilai-nilai luhur, nasihat, juga falsafah hidup yang merupakan bekal kita untuk menjalani kehidupan ini.

Bacaan Lainnya

Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. Hidup ini penuh dengan perjuangan. Bahwa dalam berjuang janganlah ragu-ragu untuk mengorbankan harta, tenaga, fikiran bahkan seluruh hidup. Berjuanglah dengan segala yang kita punya; waktu, tenaga, pikiran semua dikerahkan.

Makna dari kalimat bahasa Jawa tersebut secara bahasa yakni “Harta, tenaga, dan pikiran, kalau perlu nyawanya juga sekalian.” Menurut Kyai Sahal, seseorang dalam berjuang haruslah all out atau tidak boleh tanggung-tanggung, harus kaffah. Bahkan, nyawa menjadi taruhan demi keberhasilan perjuangan. Karena sejatinya, tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan dan tak ada artinya pengorbanan tanpa kesungguhan.

Sebagaimana dalam Surah al-Hujurat ayat 15“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”

Ini juga berlaku dalam menghadapi virus covid-19 saat ini. Berbagai upaya pencegahan dan penanganan terhadap wabah ini terus dilakukan. Namun, terlebih dahulu kita harus yakin terhadap perlawanan ini, bahwa kita bisa. Tidak boleh panik, karena panik hanya akan membawa kepada rasa kekhawatiran yang semakin tinggi. Minimal dengan melakukan upaya-upaya dari yang kecil, selama itu berguna untuk meminimalisir penyebaran wabah virus corona.

Begitu dibutuhkan semangat dari kita sebagai warga negara Indonesia untuk melawan pandemi Covid-19. Terlebih, ketika ini bertepatan dengan momentum puasa Ramadan dan peringatan Hari Kebangkitan pada 20 Mei. Sudah seharusnya warga negara untuk menjadikan keduanya sabagai penyemangat untuk bersama dalam menghadapi wabah ini. Momentum 20 Mei sebagai Hari Kesadaran Nasional, harus kita manfaatkan dalam upaya melawan Corona. Sehingga rasa persatuan rakyat dan kebangkitan nasional dapat kembali bangkit.

 

Menumbuhkan sikap peduli sosial

Dibulan yang penuh berkah ini, kita bisa lebih peduli untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tentu harus disalurkan secara merata, agar perekonomian masyarakat dapat sejahtera secara menyeluruh.

Pemerintah dan juga orang yang diberi rezeki yang berlebih mempunyai tanggungjawab untuk memberikan pertolongan. Bagaimana manusia menjadi khoirunnnas, yaitu yang paling berguna bagi orang lain. Akan menjadi suatu ancaman, apabila terjadi ketidakpedulian dari kaum kaya terhadap kaum miskin. Ini bahaya dan akan mengancam kehidupan bermasyarakat. Sehingga, apabila ini dibiarkan terus menerus, maka kesenjangan sosial akan semakin melebar.

Saling membantu sesama merupakan keniscayaan, khususnya bagi umat Islam. Dengan saling membantu, maka keharmonisan masyarakat akan tercipta. Sehingga, terpenuhilah kebutuhan dan manfaat masyarakat yang mereka dapatkan dari tiap orang yang saling membantu. Karena muslim itu kamatsali al-jasadi (bagaikan satu tubuh), yang apabila satu bagian merasa sakit, bagian lainnya turut menderita.

Namun, harta yang telah diperoleh juga merupakan ujian. Allah menguji kita dengan harta. Darimana dan kemana harta tersebut akan dipakai. Apakah dipakai untuk keperluan sosial atau bukan. Yang terpenting ialah, hati kita bisa tergerak untuk memiliki kepedulian sosial dengan membantu orang-orang yang membutuhkan. Menumbuhkan kepedulian sosial yaitu dengan selalu memiliki rasa ingin membantu kepada sesama manusia.

Manusia tidak bisa hidup sendiri, maka kepedulian sosial pun harus selalu hadir dikalangan masyarakat. Sesama muslim harus saling membantu dan menolong dalam kesulitan. Membantu semampu dan sebisa mungkin. Sehingga Allah akan ridlo pada kita. Pandemi Covid-19 menjadi sebuah panggilan rasa peduli yang kemudian menggerakkan masyarakat dalam saling memberi. Mereka beramai-ramai melakukan aksi penggalanan.

Spirit untuk meraih ketakwaan puasa kita di tengah wabah corona jangan sampai menurun. Yakinlah, bahwa Indonesia bisa berjuang melawan corona. Maka, dalam menghadapi wabah ini, kita harus bersatu. Jadikan momen hari kebangkitan agar kita menjadi semangat lagi. Dengan mengerahkan segala upaya untuk mengantisipasi dan menangani Covid-19.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *