Misteri Pendengar yang Baik

Baladena.ID/Istimewa

Memiliki banyak sahabat merupakan hal menyenangkan bagi seorang perempuan ketika duduk di bangku SMA. Memiliki banyak sahabat berarti memiliki banyak hati untuk berbagi rasa, pikiran, dan impian. Ketika SMA dahulu, banyak kawan yang suka bercerita kepada Wortelina tentang impian mereka. Kata mereka, Wortelina selalu mendengarkan setiap patah patah kata yang mereka ungkapkan dengan penuh perhatian serta memberikan respon penuh kebijaksanaan. Mungkin itu salah satu alasan mengapa kawan-kawan Wortelina mengatakan bahwa, Wortelina adalah pendengar yang baik.

Menjadi seorang pendengar yang baik bukanlah hal yang sulit. Bagi Wortelina, meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan cerita dari kawan-kawannya merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan agar ia mendapatkan banyak pembelajaran serta bisa menarik berjuta kesimpulan dari dinamika kehidupan. Begitupun dengan memberikan respon penuh kebijaksanaan. Berkata bijak mengenai permasalahan seseorang adalah hal yang mudah. Namun, berkata bijak kepada diri sendiri ketika masalah datang merupakan drama yang berakhir dengan sia-sia.

Hingga suatu hari, ketika salah seorang kawan Wortelina yang bernama Pilik ingin berbagi cerita, Wortelina memberikan respon lain. Jangankan mendengarkan dengan seksama, baru dua patah kata Pilik ucapkan, Wortelina melenggang pergi tanpa permisi. Air mukanya berubah seketika. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang berani bertanya mengapa sikapnya berubah. Setelah kejadian itu, tidak ada lagi yang berani meminta Wortelina menjadi pendengar.

Siang itu, ketika jam pelajaran Bahasa Indonesia, guru melihat ada yang berbeda. Biasanya, siswi bernama Wortelina akan bercerita tentang Negeri Madani lengkap dengan boneka mini di kedua tangan untuk memberikan suntikan semangat bagi kawan-kawannya. Guru itu menunggu Wortelina melangkah dan memulai dongengnya. Lima menit, tujuh menit, sepuluh menit berlalu. Sia-sia. Suara derap langkap tak jua terdengar.

“Engkau tidak ingin memulai dramamu, Wortelina?”

“Mengapa saya harus melakukannya?”

“Bukankah itu rutinitas yang selalu kau sukai?”

“Jika saya mengatakan saya tidak lagi menyukai rutinitas itu, apa saya masih perlu melakukannya?”

Setelah kalimatnya selesai diucapkan, Wortelina melangkahkan kaki. Bukan untuk bercerita di depan kelas. Kaki itu terus melangkah melewati pintu. Meninggalkan berjuta pertanyaan di benak kawan-kawan dan juga gurunya. Salah seorang siswa melangkah menuju tempat duduk Wortelina. Ia menemukan buku kecil yang masih terbuka. Dengan jelas ia dapat membaca kalimat di buku itu. Kalimat yang baru saja ditulis Wortelina.

Melati akan tetap wangi, meskipun tangkainya bertuliskan Raflesia Arnoldi

*bersambung…

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *