Uforia Valentine yang Menghapuskan Sejarah

Istimewa

Pada tanggal 14 Febuari adalah salah satu hari yang sangat di nanti oleh dua sejoli yang kasmaran. Karena pada tanggal ini diperingati sebagai hari kasih sayang atau yang sering kita sebut dengan Valentine Day. Hari saling tukar coklat dan atau kado identik pada hari yang indah ini. Hari raya tersebut juga diminati oleh masyarakat umum Indonesia khusunya Pemuda dan pemudi.

Di balik gemerlap Uforia suasana romantis pada perayaan Valentine Day. Ada suatu peristiwa besar terlupa dalam sejarah Indonesia khususnya oleh kaum pemuda. Yaitu peringatan hari PETA (Pembela Tanah Air). Bak seperti gelombang tsunami yang menghanyutkan semua, begitulah yang terjadi di masyarakat, semua hanyut dalam uforia Valentine.

PETA merupakan tentara sukarelawan yang di bentuk oleh kolonial Jepang. Walaupun demikian, PETA pada akhirnya melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Hal ini bisa dilihat pada 14 Febuari 1945 di bawah pimpinan Supriadi, Peta melakukan aksi perlawanan terhadap tentara Jepang di Blitar. Walaupun pada akhirnya aksi perlawanan ini bisa diredam oleh Jepang.

Banyak tokoh-tokoh besar yang lahir dari Peta semisal, Soeharto presiden RI ke-2, Ahmad Yani mantan Panglima Angkatan Darat, Basuki Rahmat mantan Mendagri dll. Sesungguhnya masyarakat seharusnya lebih mengtamakan peringatan PETA dari pada valentine yang tidak ada alasan mendasar untuk memperingatinya. Apakah tidak ada rasa berdosa karena melupakan sejarah pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan?

Bacaan Lainnya

Peran sejarah bagi generasi bangsa sangatlah besar. Karena sejarah bisa membentuk kepribadian bangsa. tak hanya disitu, sejarah juga bisa menjadi guru pengalaman bagi generasi selanjutnya agar tidak terjerumus dalam lembah yang sama. Menurut Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah disebutkan, sejarah merupakan ilmu yang mempunyai makna sosial yang penting bagi perkembangan dan perubahan msayarakat. Pendapat ini jelas menunjukan pentingnya sejarah.

Lalu apa yang terjadi ketika para generasi penerus tonggak bangsa tidak tahu sejarah negaranya? Bisa jadi, Negara akan hancur karena kehilangan ibrah-ibrah yang bisa diambil dari sejarah. Bahkan generasi bangsa akan kehilangan rasa nasionalis dan lebih bersikap egois atau individual. Karena para penerus bangsa melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan yang dicapai bersama dengan mengedepankan urusan bersama dari pada individu. Tak ayal para pejuan rela memperetaruhkan nyawa demi kemerdekaan yang notabene adalah kepentingan bersama. Hal inilah yang seharusnya mendasari rasa kebhinekaan masyarakat Indonesia.

Melupakan sejarah bukanlah permasalahan sepele melainkan masalah yang akut. Pemerintah harus ikut andil dalam menangani masalah pelupaan sejarah. khususnya Peringatan hari PETA. Tak hanya cukup mengenang dengan menjadikan tanggal tertentu menjadi peringatan. Namun perlu juga diadakan sebuah kegiatan di masyarakat yang mentransfer pengetahuan tentang sejarah agar tak luntur dan tergantikan oleh budaya asing.

Belajar Menghargai Sejarah

Seharusnya bangsa Indonesia belajar kepada bangsa barat. disana sejarah sangat di hargai. terbukti Masyarakat disana banyak yang menghabiskan waktu liburan dengan berkunjung ke tempat sejarah. sebut saja Amerika dengan Gubuk Linclon, Pranscis dengan rumah Napoleon, bahkan mengenai rumah Goethe dan Beethoven di jerman menjadi agenda wajib bagi setiap orang sana.

Hingga mereka tidak mau mati kalau belum melihat rumah tsb. Hal tersbut membuktikan saking mereka menghargai sejarah. Dan perlu diakui Negara-negara tersebut merawat dengan baik tempat-tempat tersebut. Tidak seperti Indonesia yang mempunyai banyak tempat bersejarah. Namun hanya sedikit yang terawat dengan baik.

Indonesia sebagai bangsa yang berlogika seharusnya bertanya, mengapa masyarakat eropa yang besar menjunjung tinggi sejarah? Hal ini dijelaskan salah satu filosuf barat Cicero yang menekankan pentingnya sejarah “Historia Vitae Magestra” yang artinya Sejarah adalah Guru terbaik.

Oleh karena itu perlu adanya agenda pengambilan ibrah-ibrah sejarah yang agar menuntun bangsa sampai Tujuan. Pentingnya sebuah sejarah sebelumnya juga pernah diwaasiatkan sang proklamator Ir. Soekarno “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau sering diakronimkan JASMERAH. Oleh karena itu, mari kita kaji sejarah kita dan mengambil pelajaran dalam setiap setiap peristiwanya Wallahu a’lam bi al-shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *