HMI, Literasi dan Perjoeangan Kita

Baladena.ID/Istimewa

Sudah 73 tahun lamanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir menemani perjalanan bangsa Indonesia. Sudah selama itu pula organisasi mahasiswa islam tertua itu berjibaku dalam berbagai aktivitas pembangunan nasional. Berbagai masalah pun pernah dihadapi, mulai dari paling sederhana hingga yang paling rumit seperti upaya pembubaran HMI ketika masa Orde Lama dahulu.

Dan untuk sampai pada hari ini, tentu bukanlah hal yang mudah. Perjalanan menyusuri ruang-ruang dinamika dan pergolakan nasional menjadi tantangan yang besar dan serius. Tantangan itu bak kerikil tajam yang menghadang para pendaki untuk pergi menuju puncak gunung. Bagaimanapun, tantangan itu harus dilewati dan tidak ada pilihan lain kecuali melaju untuk melanjutkan perjoaengan.

Pada masa awal, perjuangan HMI untuk berdiri tidak lah mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Meski Indonesia sudah merdeka kala itu, secara umum, gejala kolonialisme dan imperialisme masih menempel di baju para pemuda bangsa Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Sutan Sjahrir dalam bukunya berjudul Perjoeangan Kita. Ia berkata bahwa saat negara Indonesia didirikan, rata-rata orang yang mengemudikannya adalah bekas pegawai dan pembantu Jepang.

Sjahrir menyebutnya akibat dari “Penyakit Jepang”. Penyakit yang menyebabkan jiwa pemuda yang dapat menerima perintah saja, tunduk dan mendewa-dewakan. “…seperti jepang tunduk pada Tenno dan mendewa-dewakannya”. Sehingga pada akhirnya, pemuda Indonesia saat itu tidak diajari cakap bertindak, dan pengetahuan tentang keindonesiaan sangat minim.

Bacaan Lainnya

Wajar saja pada masa itu kondisi politik di Indonesia mengalami polarisasi. Tarik ulur kepentingan sangat kuat. Mereka pihak pemerintah yang dipelopori oleh Partai Sosialis (pimpinan Syahrir-Amir Syarifuddin), oposisi oleh Masyumi (Pimpinan Soekiman-Wali Al fatah), PNI (Pimpinan Mangunsarkoro-Suyono Hadinoto) serta Penyayangnya Tan Malaka, berusaha saling mendominasi satu sama lain.

Hasilnya dari polarisasi yang terjadi berujuang pada dominasi dari partai sosialis di kalangan mahasiswa. Dominasi itu menimbulkan masalah berupa perbedaan pandangan dalam beberapa hal yang menurut sebagian mahasiswa sangat fundamental. Mahasiswa yang berpaham sosialis saat itu cenderung dan berorientasi pada sosialis sekuler kebarat-baratan. Bagi kalangan mahasiswa yang menjunjung tinggi ajaran agama hal itu tidak bisa diterima, sebab sekularistik adalah produk kaum penjajah. Dan jika dibiarkan sama artinya dengan membiarkan negara Indonesia dijajah terus menerus.

Tantangan lain yang terjadi saat itu adalah kondisi umat islam tengah mengalami kemunduran. Pemahaman dan penghayatan keagamaan mengalami degradasi dan perlahan hilangentah kemana terkhusus di kalangan elit, mahasiswa. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan jika terus terjadi tanpa suatu penyelesaiaan.

Jika membaca ulang sejarah Indonesia jauh sebelum kemerdekaan, umat islam sendiri telah dihantui oleh para penjajah dengan misi terselubung. Misi khusus dari upaya penjajahan itu ialah semboyan yang dikenal dengan 3G (Gold, Glory, Gospel). Gold, memiliki arti kekayaan. Pada abad pertengahan rempah-rempah merupakan komoditas utama perdagangan dunia. Negara-negara eropa memiliki keadaan geografis yang tidak memungkinkan untuk memiliki rempah-rempah. Alhasil mereka pun mencari daerah pengasil rempah-rempah dan satu diantaranya adalah Indonesia.

Ternyata dalam misi mendapatkan komoditas itu tidak melulu soal mendapatkan rempah-rempah lalu membawa kembali ke negara asal. Ada misi untuk mendapatkan komoditas sekaligus menguasi perdagangan (sistem ekonomi) dan daerah perdagangan itu sendiri. Maka dilakukanlah pendudukan dan penaklukan untuk meraih kekuasaan (Glory). Hal ini terjadi pada bangsa Indonesia yang dijajah oleh Portugis pada mulanya, lalu belanda, jepang dan sekutu menyusul kemudian.

Lalu yang tak kalah penting adalah Gospel. Bangsa penjajah menerapkan praktik kolonialisme dan imperialisme dengan motif untuk menyebarkan agama tertentu yaitu agama Katolik dan Kristen. Penyebarannya itu dilakukan berbarengan dengan upaya penaklukan. Jika suatu daerah telah ditaklukan maka ketika itu pula penyebaran ajaran pun dilakukan.

Prinsip 3G itu ternyata masih ada dan menjalar di Indonesia sampai setelah kemerdekaan berlangsung. Upaya kristenisasi dan pendidikan yang dibangun ala eropa (sekuler) terus saja dilakukan. Tentu hal ini menjadi persoalan serius yang mesti ditangan bersama seluruh elemen bangsa. Namun kala itu kekuatan bangsa Indonesia masih lemah dan belum menemukan sistem yang tepat sehingga pergerakan pun dilakukan di runag-ruang kecil sederhana dan itu dialukakan oleh Lafran Pane.

Lafran Pane berfikir keras bagaimana memecahkan permasalahan bangsa Indonesia yang cukup kompleks itu. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Belanda pada saat itu terus memperkuat diri dengan mengumpulkan kekuatan dan mengrim senjata.  Hingga terjadilah Agresi Militer Belanda I alalu disusul Agresi Militer belanda II beberapa tahun selanjutnya.

Bangsa Indonesia butuh para aktor perjuangan untuk menggerakan segenap elemen bangsa dari berbagai latar belakang. Lafran Pane menjadi bagian dari itu untuk mengatasi permasalahan bangsa Indonesia dan umat islam indonesia. Maka dengan segenap daya upaya bersama 14 mahasiswa lain dari Sekolah tinggi Islam/STI (Sekarang Universitas Islam Indonesia/UII), pada tanggal 5 Februari 1947  Himpunan Mahasiswa Islam resmi berdiri.

Meski bernama Himpunan Mahasiswa Islam, tidak lantas urusan yang diselesaikan masalah keislaman saja. Oleh Lafran Pane, HMI didesain dengan berdasarkan prinsip Keindonesiaan dan Keislaman.

Sebagai bukti, prinsip dasar keislaman dan keindonesiaan tertuang dalam rumusan awal HMI didirikan. Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam. Sampai pada kongres pertama pun tujuan tersebut masih cenderung sama, hanya ada perubahan sedikit saja, yaitu “Mempertegak dan Mengembangkan Agama Islam, Mempertinggi Derajat Rakyat dan Negara Republik Indonesia”(Kongres I HMI, Yogyakarta, November 1947).

Perjoeangan Kita

Kini perjalanan terus berlanjut. Apa yang telah dilakukan Lafran Pane dan para pendahulu tidak seharusnya menjadi catatan sejarah semata. Pengorbanan harta pikiran dan jiwa raga untuk mengukuhkan himpunan ini perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengetahui nilai-nilai dari perjuangan tidak lain adalah dengan membangun budaya literasi bagi setiap kader HMI.

Kondisi lesu perkaderan yang setiap saat bisa terjadi tidak lantas membuat kita khawatir dan takut. Justru akibat kehawatiran itu seharusnya menjadi penyemangat untuk terus berjuang mengembalikan ruh HMI seperti yang telah dilakukan oleh para Pendiri HMI.

HMI terlahir dengan perjuangan dan para kadernya pun dicetak untuk menjadi pejuang. Pejuang yang memiliki ruh pejuang sejati yang totalitas dalam berhimpun. Dan dalam konteks kepemimpinan bangsa mampu menjadi pemimpin-pemimpin teladan dan bijaksana.

Tentu untuk mewujudkan itu semua harus dengan memenuhi dengan prasyarat tertentu. Syarat itu adalah tetap berpegang teguh pada petunjuk dan tuntunan al-Qur’an dan Hadist dan selalau membawa nilai Keindonesiaan dan Keislaman. Sehingga satu waktu nanti akan mampu mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, Insyaaá Allah.

Oleh: Muhamad Irsad Satriya (Ketua Umum HMI Komisariat Syari’ah Walisongo Semarang Periode 2018-2019)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *