Oleh: Yasmine Sophia, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024 asal Cabang Palembang
Urutan kelahiran dalam keluarga biasanya terdiri dari anak sulung, anak kedua (tengah), dan anak bungsu. Sementara itu, anak yang tidak memiliki saudara kandung, baik kakak maupun adik, disebut anak tunggal. Setiap urutan kelahiran ini memiliki dinamika tersendiri, baik dari segi hubungan keluarga maupun dalam perkembangan psikologis anak.
Bagi pasangan suami istri (pasutri) yang baru pertama kali menjadi orang tua, kelahiran anak pertama selalu disambut dengan persiapan yang matang. Mereka mempersiapkan diri secara finansial, mental, dan emosional, karena kelahiran anak pertama merupakan pengalaman yang baru dan penuh tantangan. Perayaan besar biasanya diadakan, sebagai tanda kebahagiaan menyambut anggota keluarga baru.
Namun, situasi ini berbeda ketika anak kedua atau ketiga lahir. Setelah anak pertama, orang tua sudah memiliki pengalaman dalam mengurus anak, sehingga kelahiran anak kedua tidak lagi disambut dengan euforia yang sama. Orang tua sudah lebih tenang, meskipun mereka tetap memberikan perhatian yang besar. Meskipun begitu, anak kedua sering kali merasa kurang dihargai atau kurang mendapatkan perhatian yang sama dibandingkan anak pertama.
Anak kedua sering berada di posisi yang terjepit, di antara kakak yang lebih tua dan adik yang lebih muda. Hal ini membuat mereka cenderung merasa tidak dihargai, baik dalam hal perhatian maupun kasih sayang. Sebagai contoh, anak kedua sering kali harus mengalah untuk kakaknya yang lebih tua atau adiknya yang lebih muda. Bahkan, dalam hal materi seperti pakaian, anak kedua sering kali hanya mendapatkan barang bekas dari kakaknya, sementara adik atau kakaknya mendapatkan yang baru.
Seiring bertumbuhnya anak kedua, ketidakadilan ini bisa berkembang menjadi kebiasaan dalam keluarga. Perasaan anak kedua seringkali terabaikan, baik pendapatnya, kemauannya, bahkan keberadaannya diabaikan. Akibatnya, anak kedua dapat tumbuh dengan rasa pemberontakan dan merasa kurang dihargai, yang pada akhirnya membuat mereka lebih cenderung mencari penghargaan dan perhatian di luar keluarga.
Peran orang tua dalam memberikan kasih sayang yang adil dan merata sangat penting dalam perkembangan anak. Kasih sayang yang cukup bagi anak dapat diibaratkan seperti sebuah tangki air. Jika tangki tersebut tidak penuh di rumah, anak akan mencari orang lain untuk mengisinya. Namun, tidak semua orang yang ditemui memiliki niat baik, dan ini bisa menempatkan anak pada situasi yang lebih buruk.
Sebagai orang tua, menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan saling menghargai antara saudara kandung dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi individu yang kuat dan sehat emosionalnya, tanpa merasa terpinggirkan atau dilupakan. Anak kedua, meskipun tidak mendapatkan perhatian sebanyak anak pertama, tetap membutuhkan kasih sayang yang cukup untuk tumbuh menjadi individu yang sehat secara emosional. Ketidakadilan dalam perhatian dan kasih sayang dapat berdampak besar pada perkembangan psikologis anak kedua.
ketika anak tersebut mencoba untuk bercerita kepada orang tua atau mencoba membuka omongan, tetapi respon dari orang tua tersebut seperti tidak mendengar atau bahkan memarahi anak tersebut. hal akan berpengaruh ketika anak tersebut berada di lingkungan masyarakat misalnya di sekolah dia akan turut menutupi kesedihan yang terjadi di dalam rumah tersebut. output yang diberikan pada lingkungan sekolah yaitu dia akan menjadi anak yang periang, pada kenyataannya orang yang paling sering tertawa adalah orang yang paling kesepian.





