Nunchi Untuk Perbaikan Sejak Dini

Pembahasan pola asuh memang sangat sering dan penting dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, pola asuh sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan anak Ketika kecil sampai dewasa. Dalam mendidik anak, orang tua sebaiknya benar-benar memberikan arahan yang baik dalam lingkungan hidup. Selain itu, konsisten harus diajarkan sejak dini kepada anak.

Pola asuh yang diberikan orang tua terhadap anak tentunya berbeda-beda karena anak juga memiliki cara berperilaku yang berbeda-beda. Orang tua harus mengetahui apa yang dibutuhkan setiap anak. Jangan sampai pola asuh hanya dijadikan sebagai bahan percobaan untuk keadaan anak kedepannya.

Proses pola asuh mempengaruhi perkembangan anak dari berbagai aspek, diantaranya aspek fisik, kognitif, emosional, social, dan lain sebagainya. Aspek fisik ini dapat dilihat dari pertumbuhan tubuh anak. Pertumbuhan ini bisa diatasi dengan gizi yang diberikan kepada anak tersebut.

Aspek kognitif yaitu berkaitan dengan kemampuan anak dalam hal intelektual. Sedangkan aspek emosional dan social ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengenali lingkungan sekitar. Tergantung bagaimana kita menerapkan pola asuh tersebut. Kebanyakan orang tua, lebih menekankan pola asuh untuk meningkatkan intelektual anak. Itu tidak salah, tapi peningkatan emosional juga diperlukan dalam pola asuh yang diberikan.

Korea Selatan telah menerapkan pola asuh yang hasilnya akan meningkatkan emosional anak. Pola asuh itu adalah pola asuh Nunchi. Dilansir dari The Guardian, penulis buku The Power of Nunchi: The Korean Secret to Happiness and Success, Euny Hong, yang juga merupakan seorang jurnalis Korea-Amerika, mengungkapkan bahwa Nunchi adalah “Seni memahami apa yang orang pikirkan dan rasakan”. Kemampuan ini merupakan sebuah kualitas yang dipegang oleh mereka yang peka terhadap dinamika dalam kelompok tertentu.

Dalam penerapan pola asuh Nunchi ini emosional anak akan semakin meningkat karena para orang tua telah menanamkan dan memberitahukan bahwa “Ini bukan hanya tentang kamu”.

Contoh gampang ternyata sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja respon yang diberikan orang tua berbeda. Contoh respon yang diberikan orang tua dalam pola asuh Nunchi ini seperti  seorang ibu sedang berbelanja dengan anaknya yang berusia 4 tahun. Rupanya mereka sudah menunggu lama karena sedang mengantre, lalu anak tersebut sudah tidak sabar karena merasa lapar.

Ketika dalam posisi tersebut, ibu biasa mungkin akan menjawab, “Oh anak malang! Maafkan Ibu, ya. Ini ada beberapa buah anggur yang bisa menahan rasa lapar.”

Namun ibu Korea tidak akan menjawab demikian. Ia justru akan mengatakan, “Lihatlah semua orang banyak yang mengantre seperti kita. Nah, apakah di antara mereka tidak ada yang merasakan kelaparan seperti kamu?”

Nunchi dapat menjadi kekuatan bagi orang tua atau anak yang cenderung introvert. Dengan metode Nunchi ini, seseorang dapat melawan kecemasan sosial dan mengelola stres dengan baik.

Selain itu, kecepatan dan ketepatan juga sangat dibutuhkan dalam pola asuh. Oleh karena itu, orang tua harus mengasah kemampuan anak secara langsung dan berkala.

Masyarakat tentunya bertanya-tanya kenapa harus emosional dulu yang diutamakan? Kenapa tidak intelektualnya dulu? Pertanyaan seperti itu pastinya ada berbagai versi jawaban dari setiap orang tua.

Menurut Dr. Mohammad Nasih, M.Si seorang doctor ilmu politik pascasarjana UI orang yang mengatakan kecerdasan emosional sangat penting dibandingkan kecerdasan intelektual itu karena kecerdasan intelektualnya sudah terpenuhi. Kecerdasan intelektual menjadi dasar atau modal untuk kecerdasan yang lain. Bisa dikatakan, kebanyakan orang Korea intelektualnya sudah terpenuhi karena lebih mengutamakan kecerdasan emosional. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *