Agama Adalah Komitmen (Refleksi Idul Adlha)

Salah satu hari raya terpenting dalam catatan sejarah umat Islam adalah Idul Adlha. Sebab, pada hari itu terdapat kisah yang sangat inspratif.  Berbicara soal sejarah tentu kita ingat perkataan Bung Karno, yaitu Jasmerah (Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah), sehingga pada kesempatan kali ini khatib ingin menyampaikan sejarah Idul Adlha dan pelajaran yang bisa diambil di dalamnya.

Berdasarkan literatur sejarah Islam, cikal bakal Idul Adlha dimulai dari kisah Nabi Ibrahim a.s. yang waktu itu melakukan ibadah kurban seperti tidak biasanya. Kisah ini dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Shaaffaat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (al-Shaaffaat: 102).

Bacaan Lainnya

Di dalam QS al-Shaaffaat ayat 102 tersebut, terdapat dialog interaktif antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail. Dalam dialog tersebut. Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya kepada Ismail bahwa ia menyembelih Ismail. Dengan demikian, Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa ia diminta oleh Allah untuk mengorbankan putranya yang selama ini dinanti-nantikan dan putranya pun bersedia.

Jika dilihat dari peristiwa sebelumnya, perintah untuk menyembelih putranya itu sebenarnya adalah buah dari  pernyataan Nabi Ibrahim yang waktu itu dalam kitab “Misykatul Anwar” konon disebutkan bahwa Nabi Ibrahim mempunyai kekayaan 1000 ekor kambing, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta yang dikurbankan. Kemudian Nabi Ibrahim pun berkata bahwa korban yang dilakukannya itu sesungguhnya belum seberapa. Bahkan seandainya ia dikarunai anak laki-laki dan Allah menginginkan agar mengorbankannya, maka ia akan melakukannya. Sebegitu komitmennya Nabi Ibrahim kepada Allah sampai-sampai sesuatu yang didamba-dambakan rela dikorbankan.

Di samping itu, pernyataan Nabi Ibrahim yang bisa disebut nadzar tersebut adalah responnya terhadap ujian bahwa sudah sangat lama berumah tangga dengan istri keduanya, yaitu Siti Hajar, tetapi belum mendapatkan momongan. Tanpa kenal putus asa, Nabi Ibrahim terus berdo’a, alhasil baru pada usianya yang sudah sangat lanjut, Allah memberikan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail. Putra yang sudah lama dinanti-nantikan tersebut merupakan kebahagiaan yang sangat besar bagi Nabi Ibrahim, karena ia berharap putranya itu dapat melanjutkan estafet perjuangannya.

Namun, manakala putra yang dicintai tersebut menginjak usia 7 tahun, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih putranya yang sudah puluhan tahun ia nantikan itu. Setelah mimpi yang pertama, Nabi Ibrahim berpikir apakah itu hanya mimpi biasa, ataukah mimpi yang merupakan wahyu Allah SWT. Karena itulah, hari setelah malam yang di dalamnya ia bermimpi atau tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijjah itu disebut hari tarwiyah yang berasal dari kata rawwâ-yurawwî, berarti berpikir-pikir dan merenungkan.

Kemudian pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim bermimpi yang sama. Setelah mimpi kedua itu, Nabi Ibrahim menjadi yakin dan tahu (‘arafa) bahwa mimpinya itu benar-benar merupakan wahyu dari Allah SWT.. Maka, hari setelah Nabi Ibrahim bermimpi, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah  disebut dengan hari ‘arafah. Pada malam berikutnya lagi, Nabi Ibrahim bermimpi yang sama, sehingga membuatnya merasa harus menyegerakan perintah di dalamnya, yang merupakan nadzar yang pernah diucapkannya.

Sebagai bentuk kebijaksanaannya, sebelum melakukan penyembelihan, Nabi Ibrahim mengajak putranya berdialog, meminta pandangannya tentang perintah tersebut. Karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah, putranya yang oleh al-Quran disebut al-halim (penyantun) itu, sama sekali tidak menolak apa yang dikatakan oleh ayahnya. Bahkan meminta kepada ayahnya untuk  segera mennjalankan perintah penyembelihan tersebut. Karena itulah, 10 Dzulhijjah disebut sebagai hari penyembelihan (yawm al-nahr).

Manakala Nabi Ibrahim hendak menunaikan komitmennya untuk menyembelih putranya, kemudian Allah mengganti putranya itu dengan seekor sembelihan yang besar. Hal dijelaskan dalam QS As-Saffat ayat 107.

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

“Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (Aṣ-Ṣāffāt [37]:107)

Dari kisah Nabi Ibrahim kita dapat mengambil pelajaran bahwa agama itu adalah komitmen. Ketika kita sudah bersaksi dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, maka apapun yang Allah hendaki, kita harus rela dan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Soal agama adalah komitmen ini sudah ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Agama adalah komitmen.” Kami bertanya, “Untuik siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]

Hadits ini sering disalahpahami dengan arti agama adalah nasihat. Jika diartikan demikian tentu sangat fatal, karena masak iya kita menasehati Allah, kitab-Nya, dan Rasulnya? Maka, arti yang cocok itu agama adalah komitmen. Hal ini diperjelas dalam beberapa ayat di al-Quran, salah satunya adalah QS Yusuf ayat 11 yang berbunyi.

قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّ۫ا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنٰصِحُوْنَ

“Mereka berkata, Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan komitmen baginya.” (QS Yusuf: 11)

Pada ayat tersebut diceritakan bahwa saudara-saudara Yusuf  lobby kepada Ayahnya untuk bisa membawa Yusuf pergi dengan mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk menjaga Yusuf. Penggalan kata naasihun di ayat tersebut memiliki arti kami berkomitmen. Maka, sangat relevan jika hadits  الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ diartikan sebagai agama adalah komitmen. Wallahua’lam bil al-shawab

Oleh: Abdurrahman Syafrianto, M.H.*

*Disampaikan saat khutbah Idul Adlha 1444 H di Planet Nufo Mlagen, Rembang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *