Mengakhiri Komitmen

Nestapu rindu menjelma menjadi candu-candu, Kenangan ketika bersama seakan menjadi cambuk jiwa. Malam yang indah ketika menyatu menjadi klise-klise yang membingkai gambar. Hari ini adalah hari pertama kali kita bersapa setelah sekian lama kita tak bersapa walau sering bersua. “Aku kira sudah saatnya ini berakhir menjadi derita bagiku dan bagimu. Mari kita sudahi saja air matamu dengan kisah pertemanan. Seperti janji kita yang lalu.” Mulai Saka dalam pembicaraan.

“Ku rasa memang harusnya seperti itu, sudah lama aku terluka dengan sikap egoismu yang mendiamkan akau tanpa ku tahu sebabnya. Berbeda dengan gadis-gadis di luar sana yang kau sapa dan kau goda. Aku sudah berpikir ini sudah berakhir semenjak kau berubah.” Tegas citra dengan nada kekecewaan. “Maafkan saya, Nona. Saya bukanlah laki-laki yang seperti anda pikirkan. Itu Cuma perasaan kamu. Pernah kamu melihat dalam chat WA saya dengan perempuan yang bahasanya tak sewajarnya? Aku bukan seperti itu. Tapi, tidak penting apa yang kamu pikirkan. Aku minta maaf kalau aku tak bisa memenuhi ekspektasimu.” Dengan nada mengakhiri pembicaraan Saka pergi meninggalkan jejak kakinya tepat setelah punggungnya berpaling meninggalakan semua.

“Mengawali dengan janji dan mengakhiri dengan kedustaan apakah ini memang sifat laki-laki? Apakah dia lupa bagaimana mengoyak rasa kokoh di hatiku untuk menerima semua rasa setelah trauma yang mendera sekian lama.” Gumam kian menjadi bongkahan tanda tanya citra tak mengerti bagaimana alur berpikir manusia.

Hubungan yang kian memuburuk membuat dua sejoli ini saling melempar kesalahan yang tak kunjung ada niat untuk saling bertemu. Semua berakhir dengan sia-sia atas segala harapan yang telah dibangun. Hingga suatu saat Citra melihat Saka masuk dalam suatu masjid namun dengan penampilan yang berbeda. Seakan-akan ia mencerminkan sosok yang pendiam. Selain itu ada hal lain ia sibuk dengan Alquran kecil yang selalu dibawa di tas coklat kecil yang diselempangkan di pundaknya ketika kakinya melangkah kemanapun. Melihat Saka yang berbeda dari yang ia kenal dulu. Karena Saka bukanlah sosok yang religius melainkan manusia yang menjalankan sesuatu atas semaunya. Oleh karena itu Citra mencoba mencari tahu apa sebab Saka berubah menjadi manusia agamis.

Bacaan Lainnya

****

“Mas, itu Mas Saka ya?” tanya Citra kepada marbot yang sedang bersih-bersih di emperan Masjid.

“Bukan, Mbak. Itu Mas Arif dia sering datang kesini ketika ada kajian.” Jawab Marbot masjid dengan sambil mengepel lantai.

“Ouh kalau boleh tahu kajiannya hari apa ya, Mas?” tanya citra dengan penasaran.

“Nanti, Mbak. setengah jam lagi. Mbak tunggu aja” Jelas Marbot.

Mendengar hal itu Citra ingin memastikan bahwa yang dilihat itu adalah Saka. Dia pun memutuskan untuk mengikuti kajian tersebut dan menunggu waktu pulang untuk memastikan.

To be Continued

Oleh: Subuh, Sadboy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *