Menjadi seorang yang dapat memimpin suatu bangsa sesungguhnya orang itumendapatkan
kesempatan yang sangat luar biasa untuk dapat mengemban amanah tersebut. Di samping itu
menjadi seseorang yang dapat memimpin dibutuhkan harta yang banyak serta kedermawaan
yang luar biasa. Akan tetapi hal tersebut masih akan kalah jauh dengan orang yag memiliki
kekuasaan. Karena orang yang memiliki harta banyak dan kedermawanan yang luarbiasa
hanya mampu membantu banyak orang, sedangkan dengan kekuasaan , bisa membantu
semua orang. Hal ini lah yang dijelaskan dalam al-Qur’an sebagaimana fungsi dari kekuasaan
itu sendiri.
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا
نَصِيرًا
Artinya:” Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula)
aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang
menolong. (al-Isra’: 80)
Di dalam surah al-Isra ayat 80 ini tertera bahwa funngsi dari kekuasaan ialah sebagai alat
untuk menolong. Mengapa demikian? Karena dengan kekuasaan yang ada padanya, dan
kekuasaan itu dapat digunakaan sebagai alat untuk membuat kebijakan politik yang baik. Hal
demikian nantinya akan dapat membantu semua orang. Sebab, ketika ada sebagian pihak
maupun elemen yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan yang ada ataupun aturan yang
ada yang dirasa kurang tepat atau bahkan secara kasar bisa dibilang dholim, maka dengan
kekuasaan inilah nantinya orang yang berkuasa diharapkan untuk mengubah dan
membetulkan dari sisi kebijakan yang salah. Inilah yang dinamakan dengan kekuasaan yang
membantu semua orang.
Fungsi dari kekuasaan yang demikian membuat orang yang dirasa mampu dan kuat untuk
memikul Amanah menjadi bersaing untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Hal ini terjadi
tidak hanya pada saat ini. Pada zaman Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman dulu, mereka berdua
juga meminta kekuasaan mengingat fungsi yang ada pada kekuasaan tersebut. Sebagaimana
yang ada pada kisa Nabi Yusuf, beliau melakukan negosiasi kepada raja Mesir, agar
diberikan kepadanya kekuasaan untuk mengurus perbendaharan negara. Karena dengan
kekuasaan tersebut, Nabi Yusuf dapat menolong umatnya dari tahun paceklik.
Kisah tersebut terdapat dalam q.s Yusuf: 55.
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Artinya: Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku
adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Yusuf: 55)
Pada saat itu kaum Nabi Yusuf mengalami paceklik selama beberapa tahun sehingga pada
saat itu juga para umat Nabi Yusuf mengalami kesusahan untuk memenuhi kebutuhan sehari
hari. Maka dengan meminta kekuasaan lah Nabi Yusuf berharap dapat mengubah kaumnya .
Akan tetapi tidak semua pemimpin itu dapat menjalankan kekuasaannya dengan baik. Jika
dilihat dengan keterangan tadi, pemimpin ideal dapat diartikan sebagai orang yang baik yang
memiliki keterampilan khusus untuk mentranformasikan nilai nilai kebenaran ke dalam
kebijakan politik yang dibuatnya. Jika seorang pemimpin memiliki tabiat yang baik, akan
tetapi tidak memiliki keahlian dalam memimpin, maka itu belumlah cukup dalam bidang
politik. Lantaran, dalam partai politik terdapat trik, intrik, dan juga tipu daya yang hanya
orang-orang tertentu saja yang mampu mengidentifikasinya dan membuat strategi yang baik.
Jika dilihat dari pandangan al-Qur’an, untuk menjadi pemimpin yang memiliki kekuasaan
yang baik harus mampu memahami ibrah dari penyampaian al-Qur’an tersebut. Selain itu,
sebagai umat muslim sudah pasti memiliki pandangan tentang keislaman dalam segi
kepemimpinan yang baik tanpa ada unsur tipu daya apalagi sogok menyogok.





