Timbunan sampah menjadi masalah yang harus ditangani tepat. Pasalnya, timbunan sampah dapat memberikan banyak dampak negatif dari segi ekologi maupun kesehatan. Fokus utama masyarakat rata-rata ketika ditanya sampah jenis apa yang paling banyak dihasilkan oleh manusia? Jawaban teratas ada pada sampah plastik. Namun, kenyataannya penelitian Bappenas tahun 2021 menunjukkan sampah sisa makanan menduduki sampah yang paling banyak dihasilkan yaitu sekitar 23-48 juta ton per tahun. Dari realita tersebut, patut kita bertanya sebagai konsumen pertama yang menyumbang sampah sisa makanan paling banyak, sudahkah kita peduli pada lingkungan?
Mengenai masalah sampah baik itu sampai organik maupun anorganik pada hari ini masih berfokus pada penanganan bagaimana sampah tersebut dapat dikelola kembali dengan baik. Padahal menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga memerlukan edukasi yang ekstra dan membutuhkan perhatian yang lebih. Termasuk dalam mengedukasi bagaimana individu dalam mengahsilkan sampah sisa makanan. Namun, agaknya persoalan ini belum disadari banyak pihak.
Allah berfirman dalam surah al-Isra ayat 27
إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Kebanyakan, yang tidak disadari oleh manusia sebagai konsumen pertama adalah merasa baik-baik saja ketika makanan yang dikonsumsi bersisa dan terbuang bergitu saja. Sampah sisa makanan yang tertimbun tidak hanya menimbulkan bau yang tidak sedap, taipi juga mengahsilkan gas metana yang berbahaya bagi lapisan ozon yang melindungi bumi dari paparan sinar UV.
Perilaku seperti ini patut menjadi perenungan bagi masing-masing individu. Siapa yang tidak membutuhkan makanan untuk mendapatkan energi yang cukup, sehingga dapat melakukan aktifitas dengan baik? Semua orang membutuhkan itu. Namun, terkadang manusia dikuasai nafsu untuk menginginkan lebih, sehingga ketika yang lebih tersebut tidak terpakai, maka itu menjadi suatu pemborosan dan pasti terdapat dampak didalamnya.
Mengambil porsi cukup harus ditanamkan dalam diri masing-masing individu, sehingga tidak menjadikan seseorang berlabel pemboros sebagaimana dalam al-Isra ayat 27 yang telah disebutkan diatas. Begitupun dalam semua lini kehidupan, karena berperilaku boros baik dalam gaya hidup hingga hal terkecil seperti makanan akan memberikan efek negatif bagi diri sendiri, orang disekitar, dan juga lingkungan sebagai tempat tinggal.







