Berbicara tentang pendidikan, siapa sangka orang pertama kali yang mendirikan pendidikan formal Perguruan Tinggi adalah seorang perempuan? Bahkan seorang muslimah. Perempuan yang dahulu kedudukannya sangat direndahkan, menjadi beban keluarga, hingga kesempatan untuk merasakan bangku pendidikan pun pupus, ternyata menjadi salah satu pelopor berdirinya lembaga pendidikan, bahkan dalam kategori paling tinggi.
Kontribusi besar seorang muslimah asal Fez, Maroko, Fatimah al-Fihri telah membawa cahaya baru dunia terlebih Islam dalam bidang pendidikan pada abad ke-9 yang pada saat itu Eropa dalam keadaan dimasa-masa kegelapan. Hal ini menunjukkan bahwa bukan orang Eropa atau orang-orang Barat lainnya yang menjadi pelopor berdirinya universitas pertama di dunia.
Fatimah al-Fihri lahir pada tahun 800 M. Ia merupakan salah satu putri pertama dari dua bersaudara seorang saudagar kaya raya dari Qairuwan (sekarang Tunisia) bernama Muhammad Al-Fihri. Fatimah dan keluarganya merupakan imigran asal Tunisia yang pindah ke kota Fez, Maroko. Mereka berpindah sebab pada saat itu daerahnya, Tunisia, Qairuwan sedang terjadi pemberontakan yang bertepatan pada tahun 818 M.
Pemberontakan terjadi pada penduduk setempat Qairuwan yang menyerang gubernur Aghladib. Akan tetapi pemberontakan tersebut mengalami kegagalan yang membawa dampak bagi masyarakat setempat, yaitu diusirnya 2000 keluarga penduduk dari Qairuwan termasuk keluarga Fatimah al-Fihri. Akhirnya Muhamamd al-Fihri harus memboyong keluarganya untuk keluar dari Qairuwan dan mencari tempat tinggal baru. Kemudian sampailah mereka disebuah tempat bernama Fez yang terletak di Maroko.
Sebuah keberuntungan bagi keluarga Fatimah, Fez merupakan salah satu tempat yang strategis untuk perdagangan. Titel sebagai seorang saudagar pun melekat kembali pada keluarga Muhammad al-Fihri setelah 10 tahun pengusiran dari Qairuwan. Hidup bergelimang harta tidak menjadikan keluarga Fatimah al-Fihri untuk hidup berfoya-foya. Hartanya selalu digunakan dalam jalan kebaikan. Kegiatan-kegiatan bakti sosial bersama masyarakat pun sering digelar sampai keluarganya mendapat titel sebagai orang dermawan.
Namun, tak lama kemudian berita duka menghampiri keluarganya, Allah menjemput Muhammad al-Fihri untuk berpulang ke alam abadi. Dalam jarak yang dekat pula, suami Fatimah al-Fihri menyusul mertuanya. Berita duka beruntun menghampiri keluarga Fatimah, akan tetapi hal ini bukanlah kesempatan Fatimah untuk beralasan berhenti tidak berkarya. Justru Fatimah merupakan salah satu penduduk yang selalu memberikan kontribusi kepada masyarakat, seperti bakti sosial dan kegiatan-kegiatan amal yang lain.
Keluaga Fatimah bukanlah keluarga yang gila harta. Harta warisan dari ayahnya, ia gunakan untuk kepentingan umat dan sebagai amal jariyah keluarga. Pada tahun 859 M Fatimah membangun masjid yang bernama Qairuwan yang diperkirakan selesai dua tahun. Adiknya, yang bernama Maryam pun mendirikan masjid di Spanyol yang bernama Al-Andalus. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang hanya digunakan sebagai tempat ibadah, masjid yang didirikan oleh Fatimah difungsikan juga sebagai tempat pendidikan. Tidak hanya sekedar ilmu agama, bahkan ilmu bumi, astronomi, kedokteran, dan bahasa dan sastra juga diterapkan dalam pembelajaran tersebut.
Sejak saat itu, pendidikan di Qairuwan semakin berkembang pesat. Hal ini menjadi latar belakang berdirinya universitas pertama dan tertua di dunia yang bertempat di Maroko, yang bernama al-Qarawiyyin. Kemudian baru muncullah universitas-universitas lain, seperti al-Azhar, Harvard, Oxford, dan unversitas-universitas lainnya. Berdasarkan literatur Barat, Qarawiyyin mencapai puncak kejayaan saat Daulah Muwahhidun dan Daulah Mariniyah yang berhasil menguasai Afrika Utara pada Abad 12 dan 15.
Kejayaan Universitas al-Qarawiyyin tidak terlepas dari peran para guru dalam membumikan pendidikan yang berkualitas. Ibnu Khaldun, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, Al-Biruji, Ibnu Khatib, Ibnu Hazmi, dan Ibnu Rusyd merupakan guru-guru yang berhasil membawa universitas terkemuka sampai dunia barat. Lebih dari itu, tidak hanya sebagai universitas, Al-Qarawiyyin merupakan salah satu perpustakan tertua di dunia yang memiliki kurang lebih 400 manuskrip al-Qur’an yang berbeda-beda sejak abad ke-9 hingga abad 12. Universitas yang didirikan oleh anak seorang saudagar kaya raya ini telah melahirkan tokoh-tokoh terkemuka. Diantaranya, Mahdi Bin Barka, seorang Perdana Menteri Maroko pada masa Sultan Muhammad V, Allal al-Fasi, pejuang yang membebaskan Maroko dari kolonialisme Prancis, Leo Afranicanus, seorang penulis dan pengelana terkenal, dll.
Fatimah al-Fihri sangat memberikan pengaruh dalam memajukan pendidikan. Fatimah berhasil membuka mata bagi peran perempuan dalam Islam, yang dahulu segala aktivitas perempuan sangat dibatasi, termasuk dalam kajian pendidikan. Fatimah disebut juga sebagai orang yang pertama kali mendesain baju dan topi wisuda. Topi yang di desain berbentuk segi empat itu melambangkan bentuk bangunan ka’bah sebagai pusat ibadah umat Islam.
Fatimah berpulang ke rahmatullah pada tahun 880 M di kota Fez. 80 tahun dedikasi Fatimah sangat luar biasa dalam mencerdaskan umat. Menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat strategis. Menghilangkan budaya-budaya jahiliyah yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang tidak bisa diuntungkan. Menjadikan figure bagi para pemuda untuk terus menyelami pendidikan selama hidup dan membiasakan diri sebagai orang yang tidak menghambur-hamburkan harta.







