Saat ini, Indonesia mampu bertahan menjadi negara berkembang dan tidak termasuk negara termiskin. Perlu kita ketahui, Indonesia saat ini menduduki Peringkat 101 dengan tingkat PDB sebesar USD12.222 per kapita. (Pierre Lavender/MI). Sekolah Mahal? itulah pertanyaan yang sering muncul dari orang tua. Pendidikan memang mahal. Sangat mahal bahkan. Dan negara mempunyai kewajiban untuk menyediakan segala fasilitas untuk terlaksanakannnya kewajiban itu. Mengingat mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik muda, tua, laki-laki atau perempuan. Kita bisa bandingkan orang yang berpendidikan dan tidak, tentunya banyak perbedaan bukan? mulai dari segi pengalaman, dari segi berpikir, dan ketika menghadapi masalah.
Ibarat orang tidak memiliki pengetahuan itu gambaarannya seperti orang yang berjalan di sepanjang jalan dalam keadaan gelap total. Tidak ada setitik cahayapun yang muncul di pelupuk mata. Sehingga langkahnya akan berjalan ke samping dan dia dengan mudah tertipu oleh setan. Hal ini menunjukkan bahwa bahaya terbesar dalam hidup kita itu terletak pada ketidaktahuan kita akan ajaran islam dan ketidaktahuan kita tentang apa yang diajarkan Al-Qur’an dan bimbingan yang telah dibawa oleh Nabi SAW.
Seperti yang kita lihat, banyak keluarga miskin yang anaknya tidak bisa menempuh Pendidikan Tinggi hanya biaya mahal. Wajar lah kalo Indonesia belum bisa memberi Pendidikan yang 100 % gratis bagi warga negaranya. Lantas bagaimana nasib bangsa kita ini kalo generasi penerusnya terlahir dari negara miskin yang pastinya tidak mampu memberikan gizi yang baik. Masalahnya Persoalan saat ini adalah Negara lepas tangan. Sehingga negara yang tidak melaksanakan syariat Allah ini meletakkan beban berat tersebut di pundak orang tua siswa. Akhirnya biaya pendidikan khususnya sekolah mahal dan memberatkan orang tua siswa.
Coba bayangkan saja saat ini biaya untuk sekolah anak TK saja mencapai jutaan rupiah, belum kalo SD, SMP dan SMA bisa sampai puluhan juta. Itu belum uang sakunya. Apa lagi kalo Kuliah di Perguruan Tinggi yang favorit bisa ratusan juta. Saya cuma ingin bercerita bahwa slogan “orang miskin dilarang sekolah” yang ditulis oleh Wiwid Prasetyo sepertinya memang terjadi di kehidupan nyata. Mengapa ini bisa terjadi kawan? Ada dua sebab. Pertama orang tua tidak memahami tujuan hidup. Untuk apa sebenarnya dirinya hidup. Orang tua seperti ini menganggap bahwa hidup di dunia hanya untuk bersenang-senang kemudian mati. Padahal apa yang kita lakukan sekarang itu akan dipertanggungjawabkan dimasa yang akan datang. Kedua, pandangan tentang sekolah yang bermutu itu sudah pasti mahal. Dengan demikian kalo orang tua tidak mempunyai uang yang cukup, sudah pasti akan tertinggal dalam mendidik anak. Namun manusia bukannya tak punya kekuatan untuk mengubahnya. Tindakan manusia dipagari oleh rasa takutnya sendiri, di sinilah yang menyebabkan tidak adanya revolusi.
Kalo kata Leornardo Da Vinci itu jangan sampai kita jadi kayak besi yang diam, karena sedahsyat apa pun, sekuat apa pun besi kalau dia diam, maka dia akan berkarat. Biarpun ada otak cerdas yang terlahir dari orang miskin maka hasilnya akan sama kalau dia hanya diam dan tidak bergerak untuk mengembangkannya. Begitupun juga dengan pikiran, kalau kita nggak biasa berpikir maka lama-lama otak akan beku. Kalau otak beku sudah pasti tidak bisa dimanfaatkan. Bahkan manusia akan dianggap sama derajatnya dengan hewan. Padahal, Allah itu memberikan segala sesuatu pada kita, dan semua itu tergantung pada usaha yang kita lakukan dengan cara bekerja keras dan juga doa.
Makanya, kalau dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d juz 13 ayat 11 itu temen-temen bisa memperhatikan kata Innallaha la yugayyiru berarti yang mengubah tetap Allah, bukan kita. Tentu akan muncul pertanyaan, terus kapan dong Allah akan merubah kita? Ya jawabannya simpel. Kalau kita yugayyiru, bergerak, berusaha mengubah, nanti Allah akan datang mengubah. Tapi kalau kita diam saja, dan tidak bergerak. Maka Allah tidak akan mengubah. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir semua itu bergantung pada kesadaran diri manusia. Jadi perubahan itu terjadi karena anugrah Allah. Tapi kapan anugrah Allah itu datang teman-teman? Ya jawabannya sama seperti di atas ya kalau kita beraktivitas, kita berusaha bekerja untuk mengubah. Pasti Allah akan datang mengubah makhluknya sesuai apa yang diusahakan. Kalau bermimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi saja tidak berani, sudah pasti orang itu tidak mempunyai orientasi hidup seperti apa kedepannya, kalau ini terjadi terus menerus pada generasi kita, berarti negara harus siap menanggung resiko rakyatnya yang miskin akan pengetahuan. Wallahu a’lam bi al-shawaab.





