Jika kamu terlahir miskin, itu bukan salah mu. Tapi jika kamu mati miskin, Itu salah mu.” kalimat yang dikemukakan oleh Billgates untuk merubah pola pikir masyarakat bahwa miskin itu adalah takdir. Billgates mengungkapkan bahwa memang terlahir miskin adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Namun, Jika engkau mati dalam keadan miskin, itu bukan takdir, tetapi itulah kesalahan mu.
Jika memang engkau terlahir dari orang yang miskin. bukan berarti engkau juga akan mati sebagai orang miskin. Tuhan Yang Maha Esa menentukan takdir dari setiap hambanya berbeda dari hambanya yang lain. Jikalau semua orang terlahir dari keluarga kaya, maka rasa syukur akan hilang dan kufur akan merajalela. Mengapa? karena orang-orang tidak sadar bahwa kekayaannya adalah sebuah anugrah dari Allah.
Dengan adanya perbedaan nasib tersebut seharusnya dapat menjadi dorongan agar senantiasa dilakukan usaha-usaha untuk merubah nasib. Ada pepatah lama yang mengatakan “Banyak anak, Banyak Rezeki”. Kebanyakan orang akan menganggap “Berarti kalau punya anak banyak, hartanya tambah banyak dong.” Anggapan tersebut sudah dipastikan keliru. Jika kita berpikir secara rasional, tak ada sangkut pautnya antara anak dengan mendapatkan harta yang melimpah.
Jika menginginkan harta yang banyak, maka bekerjalah dengan giat dan sungguh-sungguh. karena anggapan yang salah tadi akibatnya banyak orang miskin yang memiliki banyak anak. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan, anak yang tadinya dianggap sebagai pendatang rezeki malah menjadi beban yang harus ditanggung.
Malah bisa juga anak-anak dari orang-orang miskin tersebut dijadikan alat pencari uang. anak tersebut yang seharusnya menempuh pendidikan yang layak serta menikmati masa-masa kecilnya dengan indah, dirusak dengan tanggung jawab yang harus dibawa untuk membantu perekonomian orang tuanya. Konsep dari anggapan yang salah tersebut tentunya masih memiliki banyak dampak, diantaranya.
Menghambat Perkembangan serta Kemajuan Negara
Masa depan negara ditentukan oleh generasi-generasi mudanya. jikalau orang-orang miskin ikut andil dengan memperbanyak anak mereka. Bukannnya hal tersebut dapat meningkatkan lahirnya orang-orang yang berintelektual tinggu malah menjadikan anak-anak mereka itu beban negara. Sebab jika orang tua dari anak-anak tersebut miskin dapat dipastikan bahwa asupan gizi anak kemungkinan besar kurang.
Asupan gizi tentu saja penting untuk kecerdasan serta daya pikir anak apalagi pada usia-usia anak tumbah dan berkembang yang sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk memaksimalkan petumbuhan serta pekembangan anak tersebut. Jika orang tua anak tersebut miskin, tentu hal ini akan diabaikan mengingat untuk makan sehari-hari saja kurang apalagi memenuhi gizi anak.
Salah satu faktor yang menjadi sebab gizi anak diabaikan adalah mahalnya harga dari makanan yang mengandung banyak gizi. Banyak pakar gizi yang menyarankan daging sapi agar dijadikan hidangan sehari-hari, guna meningkatkan kecerdasan anak pada usia pertumbuhan. Namun, daging sapi memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan daging ayam. membeli susu bubuk saja susah apalagi mau beli daging sapi untuk kecerdasan anak.
Karena kurangnya asupan gizi yang diberikan. membuat presentase kebodohan anak meningkat. hal ini memungkinkan meningkatkan presentase kemiskinan karena orang-orang miskin kebanyakan orang-orang yang bodoh. selain asupan gizi yang baik yang harus diperhatiakan adalah pendidikan yang baik pula. Pendidikan merupakan hal yang paling banyak menentukan perkembangan anak selain faktor genetik yaitu pubertas.
Kedewasaan dari diri seorang anak akan terus berkembang seiring berjalannya waktu atau berdasarkan seiring bertambahnya usia anak. Anak akan belajar dari kehidupan sekitarnya dan juga pengajaran dari orang lain. Jika anak tersebut putus sekolah karena harus membantu perekonomian, akan sangat disayangkan mengingat masa-masa pekembangan kedewasaan harus didampingi dengan landasan ilmu yang kuat, agar nanti anak tersebut tidak terjerumus dalam perbuatan yang melanggar norma, karena wawasan ilmunya yang kurang.
Apabila anak tersebut tidak cerdas serta tidak mendapat pendidikan yang layak, maka sudah dapat dipastikan presentase anak tersebut untuk ditipu serta diperdaya layaknya budak sangat tinggi. Jika hal ini terus-menerus berulang, maka akan semakin memperlambat kemajuan negara disebabkan lahirnya calon-calon warga negara bermental budak.
Meningkatkan Kasus Kekerasan Pada Anak
Seringkali orang-orang miskin melakukan tindakan kekerasan terhadap anaknya, dibanding dengan orang-orang yang berkecukupan. Pastinya disebabkan oleh faktor tekanan batin yang tinggi karena kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Orang miskin lebih sering tidak menuruti keinginan anak karena memang mereka tidak memiliki daya untuk itu. jika anak tersebut tidak memiliki kecerdasan spiritualitas maka dapat dipastikan anak tersebut akan memberontak dan tidak peduli kepada orang tuanya.
Meninkatkan Potensi Kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak
Tidak sekolah sebab diharuskan untuk bekerja, membuat anak-anak orang miskin akan lebih berani melakukan tindakan kriminal demi memenuhi kebutuhan keluarga atau hanya sekedar memenuhi keinginannya. Akan sangat mengawatirkan lagi jika anak-anak tersebut terpengaruhi oleh pergaulan yang tidak sehat. Tak hanya kekerasan saja namun juga pelecehan.
Dengan mempertimbangkan sebab akibatnya, maka bisa disimpulkan memiliki anak banyak tak selalu dapat mendatangkan rezeki bahkan hanya bisa memberatkan, jika sebagai orang tua masih kesulitan dalam aspek ekonominya. Bahkan lebih baik, orang-orang miskin mengikuti gerakan childfree , Demi menghindari penambahan penderitaan. Atau jikalau memang ingin sekali memiliki anak, maka satu saja.
Berkeinginan memiliki keturunan banyak, harus siap secara mental dan juga finansial. Jika tidak, maka orang tersebut akan menjadi masalah bagi anak-anak saja. Mungkin saja anak-anaknya akan menyesal telah dilahirkan kedunia. Sekian terima kasih.
Oleh: Muhammad Eden Luqmanul Hakim, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang Jurusan Pendidikan Kimia





