Pelataran Gunem tampak sangat bersahaja, kala mega merah sudah menyiram wajah kuyu kami via jendela besar kelas sembilan. Sempurna kependarannya, memikul rasa syukur yang kadung teramu, seraya tersingkap laju menuju cakrawala, melintasi tabir doa-doaku yang kerap dilangitkan ke angkasa. Semoga cerahnya hari ini, mampu melesatkan doaku langsung ke al–arsy-Nya. Aamiin ya Allah.
Alhamdulillah, walau tidak sepelemparan batu dengan mereka yang terus terpaku menatap lembar kerja yang super rumit, sembari mengernyitkan kening, tanda heran bergeming di pikiran. Tak usah heran, aku pun juga demikian. Menilik wajah mereka membuatku terkekeh kecil. Air muka penuh tanya, menengadah ke langit-langit pasrah, bak Si Udik yang berharap pada langit akan jawaban dari runyamnya persoalan hidup yang tengah mereka tempuh.
Kadung menjadi nasib awam bagi angkatan pertama di Planet Nufo. Terpaksa harus mengikuti jejaring alur pendidikan di Muhammadiyah Boarding School di Gunem. Bagaimanapun juga, menjadi berbeda dan terbaik itu bak polemik yang membutuhkan banyak pengorbanan dan masa pemutakhiran yang cukup lama.
Kami, angkatan pertama, kelas 9, layaknya kelinci percobaan Abana dan jejeran guru mulia di Planet Nufo.Tidak mengapa, setidaknya kami cukup bangga menjadi figur yang keren bagi zurah yang lebih muda. Aspek solidaritas, kekompakkan, keharmonisan, kedewasaan, kemampuan, different and the best!
***
Pukul 03:00 dini hari, sudah mandi, sudah melahap sebaskom nasi dan lauk pauk dalam rangka menggugurkan sahur. Ini bulan Ramadhan, tak usah menjelma penghadang yang meyebabkanku bertambah kurus. Jikalau demikian, lantas, apa kata dunia?
“Bang, kok kamu makin kurusan sih?”
“Ai kamu kenapa makin cungkring kitu, Bang?”
“Hahaha, sedang banyak pikiran ya, Bang?”
“Banyakin makan daging di pesantren teh, Bang!” ujar karib kerabatku mencibir, sesampainya aku di kampung halaman. Kilas balikku dua tahun yang lalu, dan aku tak ingin semua itu berdeja vu.
Murottal mulai bersenandung syahdu, memanggil para Nufo citizen untuk segera mendirikan salat tarawih di Gedung Baru. Aku yang usai berbenah diri, langsung keluar dari Rumah Gedhek tanpa rasa ragu.
Astaga, kalap kumelihat mayat-mayat setengah hidup berbaris bak serdadu. Lambat, padat, di atas lajur paving nan padu. Wajah mereka luyu, mata mereka pun masih sayu. Namun, di dalam diri kecekaman itu, tertanam semangat pejuang nan menggebu. Karena ini kadung menjati kepatuhan, daripada harus tersiram rentetan celoteh anarki dari divisi keamanan. Pada akhirnya, salat tarawih pun dimulai.
Syukurlah, salat tarawih kali ini tidak berlangsung lama, karena Ustaz Suud yang mengimami kami. Kata teman seasramaku, Ustaz Suud terpredikati imam tercepat kedua di Planet Nufo, setelah Ustaz Mahfudz. Doa yang dipanjatkan pun tak panjang dan tidak memakan waktu, namun tetap berbobot maknanya. Efektif dan efisien, sehingga Nufo citizen berkenan melaksanakan aktivitas lainnya, seperti sahur, mandi, dan mengaji.
Aku tak sepaham dengan mereka. Aku sudah mandi dan sahur tadi. Jadi, waktu menjelang imsak kuhabiskan untuk menulis dan mengevaluasi frasa dan diksi-diksi di dalamnya. Sebelum diserahkan kepada Ustaz Rahman, salah satu pengampu tim literasi Planet Nufo yang merangkap sebagai ketua Tim Pers Planet Nufo, untuk disebarluaskan di berbagai media daring.
Allahuakbar, allahuakbar..
Azan subuh berkumandang, menggemakan seantero dirgantara Bumi untuk bersegera dalam menunaikan himbauan ajaib Yang Esa. Sekerindangan dengan niat berpuasa yang baru saja kulangitkan penuh tulus. Sebelum akhirnya divisi keamanan menyoraki kami dengan anarkis. Kami semua berkumpul lengkap di Gedung Baru dengan cergas, berkat bala bantuan dari divisi keamanan barusan. Salat subuh didirikan dengan khusyuk.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Abdul hendak menyampaikan sesuatu. Nufo citizen mengindahkan salamnya dengan keras.
“Untuk kelas sembilan, setelah ini akan ada pemadatan mata pelajaran matematika di ruang TU. Sekian, syukron, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” di sudut shaf pertama, Abdul berbicara sedikit lantang, kemudian kembali dijawab oleh Nufo citizen.
Ah, aku melupakan sesuatu yang rawan. Ujian matematika akan berlangsung hari ini, sementara aku belum mempersiapkan perbekalan apapun, sama sekali. Apa boleh buat, semoga pemadatan terakhir mampu menghantam kerasnya dinding di otakku. Sebagaimana yang teman-teman dekatku kenal betul dariku, aku tidak ahli sama sekali dalam mata pelajaran ini.
Ubin pertama dari serambi Gedung Baru telah kupijak. Dingin, menjalar cepat ke sekujur tubuhku yang hanya terbalut sehelai kaos oblong berwarna putih, juga celana training oversized kelabu tampak kumal. Teman-teman sekelasku tengah bersitegang di hadapan papan tulis besar ruang TU, meski tidak sedikit dari mereka yang terantuk-antuk oleh beratnya rasa kantuk. Ustazah Iyah, pengampu pemadatan pagi ini, siap dengan himpunan rumus yang beliau genggam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Ustazah Iyah mengawali, yang kemudian kujawab dengan serius. “Pagi ini, kita akan melanjutkan pemadatan yang sudah Ustazah bagikan kepada kalian ya?”
“Iya, Ust,” jawab kami setengah niat. Untung saja Ustazah Iyah adalah orang yang sangat lembut, terkenal dengan kemustahilannya dalam kata emosional. Nahasnya, anak didik beliau malah menyia-nyiakan laku baik mentornya.
***
Jam biru kecil di Gedung Baru telah menunjukkan pukul 06:00. Pemadatan berakhir, ilmu telah sedikit tersubsidi ke otakku, tinggal mempersiapkan diri untuk menuju medan peperangan yang sebenarnya, SMP MBS Gunem.
Sepasang sepatu vans navy bertali telah terkena di kakiku yang terlindungi oleh sepasang kaos kaki juga selaras warnanya. Bahkan Ezy telah usai dengan segala perbekalannya. Wajar saja, pecinta matematika tak pBapak berkeluh kesah akan soal beranak kelak. Kami berlari menuju halaman depan Rumah Olim, menunggu mobil Mitsubishi Colt datang menjemput kami.
Kuraih pagar besi di atas mobil bak, seraya menarik tubuhku agar bisa berpijak ke permukaan baknya. Syukurlah, semuanya hadir, sehat sentosa, sigap menampik kekalutan di kelas nanti. Mesin dinyalakan, bensin terisi full tank, Mitsubishi Colt tangguh mulai meroda ke jalan beraspal. Menghantarkan para pejuang dengan kecepatan penuh. Angin aerodinamis menyibak rambutku lembut, keelokan alam Dusun Mlagen seraya mendukung petualangan kami untuk menimba ilmu.
Tak lama kemudian, kami pun berpijak di depan musala MBS Gunem. Di mana kami bisa melihat barisan siswa MBS yang disibukkan dengan buku paket matematika mereka. Sesaat lagi ujian akan dilaksanakan. Mungkin saja, kadung menjadi tabiat mereka untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Ah, yang benar saja kawan? Matematika? Tak pernah terlintas dalam pikirku untuk menjamah hingga selangit itu. Ibarat kata, terlalu mustahil bagi punguk mendamba rembulan.
KRINGG!
Bel masuk berbunyi, menghimbau para santri untuk memasuki ruang ujian masing-masing. Bagaimana dengan nasibku kala ujian matematika nanti? Aku pun tak menahu. Berdasarkan soal latihan yang Ustazah Iyah berikan, seharusnya aku dapat melibas tuntas semuanya dengan mudah.
Tiba-tiba datang salah seorang wanita berpakaian Islami, berwajah sedikit boros, namun kacamata setengah ovalnya piawai menutupi penuaan pada dirinya, Bu Ratna namanya, seorang guru di MBS Gunem. Bu Ratna bergilir memberikan lembar kerja dan jawab kepada peleton terdepan, termasuk aku. Selepas itu, peleton terdepan akan mengestafetkan lembar kerja dan jawab kepada peleton lain di belakangnya yang sejajar. Kulekaskan sesi estafet dengan cergas, kuisi kolom nama, nomor peserta, dan mata pelajaran. Ujian pun bermula.
Astaga, sialan sekali. Soal pertama memang cukup mudah untuk dikelarkan. Sekonyong-sekonyong soal selanjutnya menukik kencang kegampangan itu. Otakku hangus, telak kalah olehnya, dan seterusnya masih staknan dengan kesulitan. Tiada penurunan kognitivitas yang begitu signifikan terasa. Ya sudahlah, bak tersurai dengan kepahaman, awur-awuran kusilang indah lembar jawaban itu.
Kubu x yang pro, dan y sebagai kontra, berpadu dalam perseteruan dalam berbagai operasi yang mengandalkan perhitungan nan kritis. Peraduan mereka akan menciptakan suatu kesinambungan pada akhirnya. Namun nyatanya, aku tak kuasa memberi jawaban akan tanda kecocokan itu. Pada akhirnya, aku tetap keluar dari perhelatan bersama angka, menuju serambi musala MBS Gunem yang masih sunyi. Sembari berharap tiada kalut yang mengusik.
“Cuy, bagaimana dengan ujianmu barusan?” tanya Qia, temanku yang sudah selesai lebih dulu, mulai mengejutkanku.
“Parah sih. Rata-rata mengawur, Qi,” jawabku berterus terang.
“Sama. Aku juga banyak yang mengarang. Hehehe,” tukas Qia bak tiada beban, malah tertawa terpingkal-pingkal. Aku sedikit menghela napas lega. Ternyata bukan aku saja yang bernasib demikian. Orang sepintar Qia saja demikian, tak jauh berbeda dengan kawan-kawan.
“Asem lah! Aku ngarang semua, Ndes!” cetus Damar kesal.
“Sudahlah, losskeun wae!” sahut Abdul menimpali.
“Ada beberapa soal yang kuhitung betul sih. Tapi kembali lagi, namanya juga matematika. Sudah menjadi kelumrahan akan jawaban yang ngaco,” balas Asfa, temanku yang paling ulet dan pekerja keras di antara teman sekelas.
Mendengar keluh kesah mereka, aku menjadi lega. Syukurlah, ternyata semuanya hampir bernasib sama sepertiku. Meskipun tanggapan mereka lebih tak meyakinkan dan terkesan pesimis. Setidaknya aku masih punya teman untuk mengarungi keresahan ini.
***
“Kenapa bisa nilai matematika kamu seanjlok itu?” tanya Bapak via pesawat telepon. Aku tertegun sejenak, diambang keraguan dan takut. Entah jawaban apa yang harus kuucap setelahnya. Aku akan dimarahi habis-habisan olehnya.
“Temanku juga banyak yang jeblok kok-“
“Jangan banyak alasan! Masalahmu mutlak menjadi masalahmu, jangan sekali-kali menyeret nama temanmu! Paham? Bahkan nilai Asfa jauh lebih tinggi daripada kamu,” ujar Bapak menyerondong dengan bentakan cukup keras. Aku kembali tercenung akan angkara murka sang Bapak.
“Bapak tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pecundang yang sekadar mampu berlindung di balik nama teman. Sekali lagi, Bapak tidak akan segan-segan memukul keras wajahmu, jikalau kamu hanya menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama. Dengar?”
“Dengar, Pak,” jawabku lirih, mencoba sabar dan tak gentar. Bapak menghela napas beberapa kali, sembari mengucap istighfar dengan jumlah yang tak terhitung. “Mau bagaimana lagi, Pak. Soal matematika itu memang sangat sulit, bahkan otakku saja tidak mampu menangkapnya. Aku bukanlah robot yang memiliki kejeniusan dalah hal numerik.”
“Makanya itu kamu harus belajar keras. Jangan tidur-tiduran melulu. Bapak mengirimmu ke pelosok Rembang bukan untuk memindah posisi tidurmu, Nak. Jadi janganlah kamu sia-siakan kesempatan emasmu di pondok pesantren. Kami sekeluarga tak rugi, namun kamulah yang menampung kerugian itu,” jelas Bapak turun nadanya. Aku hanya bisa mengangguk paham, walau tak terlihat.
Betapa bodohnya aku, menelantarkan kewajiban pada tabir nama baik teman-temanku. Selain mengingkari maksud tulus orangtuaku, tidak secara langsung, aku telah melecehkan diri sendiri dengan tanggung jawab yang kadung kuabaikan. Ujung-ujungnya, kerugian tidak akan berada jauh dari orang yang berlaku demikian. Astaghfirullah, maafkan aku, Bapak, Ibu, adik-adik di rumah. Kakakmu terpaksa berbuat bodoh.
“Maafkan aku, Pak,” dari berjuta-juta bantahan yang hendak kulontarkan pada Bapak, hanya satu yang benar-benar mengetuk nuraniku. Bukankah meminta maaf itu adalah kewajiban absolut bagi mereka yang bersalah?
“Ya sudahlah, Nak. Bapak maafkan kesalahanmu kali ini. Ingat wejangan Bapak, jangan pernah menjadi keledai yang jatuh pada lubang yang sama kembali! Camkan itu, anakku,” lalu Bapak menutup saluran, tanpa mengucap salam penutup. Bapak benar-benar telah kubuat kecewa berat.
Astaghfirullah, betapa banyak dosaku di dalam kefanaan ini, sehingga tak kuasa kumerapal semua rupa darinya. Akankah sebesar Gunung Everest yang raksasa, atau seluas Samudra Pasifik yang sangat gelap dalamnya, atau bahkan laksana langit berserta miliyaran bintang yang bergugus di atasnya? Yang jelas, aku kadung terlahir menjadi seorang pendosa. Tanpa kusadari, air mata membanjiri pipiku. Lekas kuseka, tak ingin terlihat lemah.
Kuambil buku matematika di dalam tas jinjing hitam, aku keluar dari asrama cergas, segera mencari Asfa di manapun ia berada. Berharap ia bisa mewarisi segala ilmu yang sekian lama ia dalami.
“Assalamualaikum, Asfa. Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Waalaikumsalam. Ada apa, kawan? Segera masuk!” kusibak pintu asrama kapsulnya cekatan. Tak lama kemudian, kami saling bercengkrama tentang kekhilafan yang usai kuperbuat barusan. Asfa menanggapi dengan serius.
“Oh, soal matematika kemarin? Kuncinya hanya ada satu,” ucap Asfa, sementara aku masih menunggunya berlanjut.
“Apa itu, Fa?”
“Keuletan yang tinggi. Bahkan pelataran Konstantin yang hegemonial akan terlihat gampil ditaklukan dengan keuletan keras Sultan Mehmet bukan? Apalagi hanya sekadar persoalan deretan angka yang tak sebanding kalutnya dengan peperangan Sultan Mehmet. Lawanlah saja, kawan!” jelas Asfa runtut, penuh keyakinan. Aku termanggut.
“Tapi, bagaimana caranya?”
“Bagaimana kalau kamu belajar sama aku?” Asfa memberikan penawaran kepadaku. Alangkah baiknya ia, orang baik selalu menjadi opsi tak berujung, kerap menjadi solusi di setiap problematika. Kuterima tawarannya, lalu kami belajar bersama.
Gerak semu mentari mulai menyentuh ekuinoksnya, selaras dengan laskar kumulus berlarian ke arah selatan. Ajaibnya, sama halnya dengan lembar demi lembar buku tips ampuh matematika yang kuulik sedemikian rupa. Asfa masih setia membersamai, tak jemu-jemu ia memberikan materi baru kepadaku. Bahkan ia selalu mewejang akan keuletan yang harus tersupremasi. Terus begitu, hingga masa ujian kembali menerpa.
Setelah sekian lama berpisah dengan ruangan penuh kenangan buruk hari itu. Aku bertekad untuk tidak mengulangi keburukan itu kembali, seperti yang Bapak utarakan saat itu. Masih dengan pengampu yang sama, Bu Ratna memberi beberapa helai kertas kepada peleton terdepan, yang kemudian berestafet ke bangku belakang. Ujian pun dimulai.
Aku merasakan sesuatu yang janggal sekali. Keajaiban apa ini? Seketika aku mampu memadukan segala bentuk sengketa yang tertera di semenanjung lembar soal itu. Berbekal doa, sedikit pengetahuan dari Asfa, serta upaya keras, aku bisa menyerahkan lembar jawab kepada Bu Ratna pertama kali. Aku keluar tanpa rasa ragu, menuju serambi masjid untuk mendirikan salat dhuha.
“Satu lagi, kawan. Jangan lupa dengan waktu dhuhamu. Itu adalah waktu mustajab bagi para hamba-hamba Allah untuk bermunajat keras. Bagaimanapun juga, salat dhuha merupakan suatu pengaplikasian dari bertawakal bukan?” terang Asfa dulu, menggaungi telingaku.
***
“Bapak, ini hasil ujian matematikaku yang terakhir,” aku menyodorkan rapor terakhirku kepada Bapak di rumah. Semoga ia terkejut dengan kegigihanku untuk merampungkan rasa kecewanya. Seketika ia terbelalak senang.
“Alhamdulillah, Nak. Kamu tepat mengindahkan kata-kata Bapak,” tukas Bapak sumringah, senyum bahagia nan teduh terukir di bibir ranumnya yang kian menggelap. Lekas Bapak berlari ke dalam rumah. “Ibu, anak kita mendapatkan nilai tertinggi di ujian matematika!”
Ah, inilah kebahagian yang nyata. Saat menilik wajah pahit mereka tersebab kesalahan anaknya, kembali bercahaya terang akan pembalasan budi anaknya pula. Terima kasih, Asfa, kau benar-benar telah berjasa dalam memperbaiki polemik kehidupanku. Tanpa menunggu lama, aku segera menyusul mereka ke dalam rumah. Meninggalkan raporku dengan nilai 100 di kolom matematika. Alhamdulillah.
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Sanja Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon asal Padang, Anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo







