Tepat pada tanggal 5 Februari 2022, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memasuki usia 75 Tahun. Ibaratkan seorang manusia, usia yang tak lagi muda akan menjadikan mudahnya tubuh seseorang untuk terserang berbagai penyakit akibat sudah berkurangnya kekuatan imun tubuh. Pun dalam organisasi, akan rentan juga kehilangan orientasi nilai dan tujuan karena sudah terlalu jauh dari nilai-nilai murni yang disampaikan oleh para founding father pada saat awal-awal mendirikan organisasi tersebut.
Ancaman umum terbesar bagi seorang manusia ketika memasuki usia tua adalah kematian. Penyakit yang semakin lama semakin bertambah, bahkan bisa komplikasi, menyebabkan pemikiran dan fokus seseorang akan selalu ke arah kesehatan dan kematian tersebut. Makanya wajar, dalam berbagai anekdot, kondisi masjid atau musholla hari ini banyak hanya diisi oleh para golongan tua, mengingat persepsi bahwa penyakit dan kematian itu lebih dekat bagi golongan tua. HMI pun demikian, golongan tua sudah mulai banyak yang “turun gunung” untuk terus mengingatkan dan berwasiat supaya “penyakit-penyakit” tidak menggerumuni organisasi ini agar tidak dekat dengan kematiannya.
HMI yang sudah memasuki usia ke-75 sebenarnya sudah sejak lama digerogoti penyakit. Bahkan Nurcholish Madjid pada tahun 2002 sudah merekomendasikan untuk segera membubarkan HMI. Kenapa demikian? Karena nilai-nilai moral yang diturunkan oleh Tuhan tidak lagi menjadi pegangan bagi para anggotanya. Maka dari itu, melihat realitas hari ini yang masih sesuai dengan apa yang disampaikan Cak Nur tersebut, tentu kita juga merekomendasikan supaya 2022 ini menjadi tahun terakhir bagi HMI! kenapa demikian? Saya akan coba gambarkan dalam beberapa poin.
Pertama, Dilema Pola Perjuangan. Seorang pemikir HMI, Said Muniruddin, dalam bukunya yang berjudul Bintang Arasy menjelaskan, bahwa orientasi gerakan HMI mesti dilakukan dengan pola Bottom-Up. Artinya, dari masyarakat ke penguasa. Apa maksudnya? Saya mencoba menarik kesimpulan dengan menempatkan posisi para anggota HMI yang mestinya lebih dekat kepada realitas masyarakat dibanding dengan para-para elit kekuasaan. Memang, secara sadar, kita mengetahui pola perjuangan dan pengabdian seperti itu tidaklah memberikan keuntungan material kepada anggota HMI, akan tetapi, demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT., pola seperti itulah yang mesti dilakukan oleh anggota demi mengupayakan tercapainya tujuan HMI.
Hari ini, pola perjuangan kader HMI sudah tidak lagi berkejelasan orientasinya. Perjuangan HMI yang berfokus pada solidarity maker dan problem solver sudah tidak marak lagi ditemukan dalam tingkat Pengurus Besar, Cabang, maupun Komisariat. HMI hari ini seakan-akan kehilangan para analisator, konseptor, mobilisator, dan eksekutor terlatih buah dari training-training formal yang diselenggarakan. Latihan Kader yang diselenggarakan oleh HMI ternyata hanya mampu membentuk para anggota-anggota pesuruh (budak) partai politik, para pengirim proposal, dan para-para pejuang audiensi untuk mendapatkan dana segar dengan embel-embel “demi kelancaran roda organisasi”.
Kedua, Krisis Eksistensi. Sebagai organisasi yang berstasuskan sebagai organisasi mahasiswa, HMI harus selalu senantiasa menampakkan dirinya kepada masyarakat sebagai mahasiswa yang kritis, dinamis, progresif, dan ilmiah. Dalam hirarki power masyarakat, mahasiswa berada di tingkat tengah – antara masyarakat dan pemerintah. Posisi demikian memberikan tugas dan tanggung jawab kepada seorang manusia untuk bisa menjadi sosialisator berbagai program kebijakan pemerintah supaya mudah dipahami masyarakat, dan juga sebagai aspirator suara-suara masyarakat supaya bisa sampai ke telinga pemerintah.
Namun hari ini, anggota HMI tidak menjadikan konsep tersebut sebagai defenisi. Melainkan saling tonjok-tonjokan untuk klaim kebenaran akan keabsahan dan legalitas diri dan kelompoknya sebagai penguasa yang sah dalam SK kepengurusan. Ya, banyak sekali terjadi dualisme dalam tubuh Himpunan hari ini. Tingkat PB, Cabang, Komisariat di HMI sedang cacat pemahaman tentang konsep kepemimpinan, manajemen, dan organisasi yang keseluruhan itu merupakan materi dasar dalam Latihan Kader I. Nafsu duniawi dan kebutuhan pengakuan sebagai penguasa di HMI selalu merusak sumpah bai’at atas nama Tuhan ketika awal pelantikan. Maka tak sedikit, di tiap kepengurusan HMI, kita akan temukan berbagai pengurusan yang dualisme dan/atau sudah melebihi batas waktu yang ditentukan oleh Kongres HMI. kalau ini terus terjadi, kaderisasi untuk regenerasi akan menjadi akibat yang akan ditimbulkan.
Ketiga, Wajah Otoriter KAHMI. Persoalan ini dari waktu ke waktu selalu menjadi masalah besar. Hubungan dan HMI dan KAHMI yang mestinya menjadi hubungan konsultasi dan koordinasi sering disorientasi menjadi hubungan intervensi dan instruksi. Tentu, nilai-nilai independensi seorang anggota HMI akan rusak dan menjadi bahaya bagi kaderisasi di Himpunan. Namun, tentu hal ini bukanlah sebuah kesalah dari diri Alumni HMI, melainkan saya lebih menilik persoalan ini pada prinsip seorang Kader yang sangat kokoh sehingga mudah ter-intervensi. Ibaratkan rerumputan di atas bukit, kemana angin berhembus kuat, dirinya akan terbawa kearah itu.
Bagi kebanyakan anggota, Alumni HMI merupakan sosok super power yang undebatable. Untuk bertemu dengan seorang Alumni HMI, para anggota hampir selalu tunduk dan patuh baik dari ide maupun pengalaman. Tak jarang, rekomendasi itu seakan-akan langsung bertransformasi menjadi sebuah instruksi. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Bagi saya, bukan senior ataupun alumni yang menjadi penyebab masalah, melainkan kekuatan personal diri seorang anggota yang memang tidak bisa membuat dirinya menyeimbangi power yang dimiliki oleh Alumni/KAHMI, baik secara ide maupun pengalaman.
Terakhir, saya mengatakan bahwa ide membentuk UIC merupakan sarana penghancur bagi HMI. Ya, Universitas Insan Cita yang digagas oleh para senior HMI sebagai solusi menghadapi tantangan zaman saat sekarang bagi saya tak lain dan tak bukan hanya akan memberikan efek negatif terhadap kaderisasi HMI. HMI tidak pernah menjalani proses kaderisasi secara eksklusif. Secara singkat, bisa dilihat berbagai kampus yang memiliki latar belakang dominasi kepada suatu organisasi namun mahasiswa dengan benderanya tersebut tidak berpengaruh kuat bahkan ada yang minoritas dibanding organisasi berbendera berbeda. Lafran Pane pun meminta para anggota untuk aktif dan mengabdi dimanapun, tidak secara eksklusif maupun fakultatif.
Itulah berbagai alasan yang memberikan wacana baru bagi saya untuk mendoakan 2022 menjadi tahun terakhir bagi HMI eksis sebagai organisasi mahasiswa. Gelar organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia ternyata tidak memberikan refleksi bagi para pejabat-pejabat di HMI untuk sadar dan terpukul dengan kondisi yang terjadi hari ini. Bahkan, masih banyak dari mereka yang terus menjual harga diri HMI guna mendapatkan kepentingan pribadi. Tentu, jika diteruskan, HMI semakin tidak memiliki power di masa depan, dan hari inilah momen yang tepat untuk sekali lagi mengucapkan, mari kita bubarkan HMI kalau masalah internal ini tidak bisa kita selesaikan.
Oleh: Adjie Surya Kelana, Anggota HMI





