Perlunya Pembelajaran Tatap Muka

Sejak muncul pertama kali di Indonesia pada Maret 2020 lalu, pandemi covid-19 telah mengambil banyak hal dari masyarakat. Mulai dari pembatasan kegiatan sosial masyarakat sampai waktu makan. Dan yang seharusnya juga yang menjadi perhatian adalah perubahan kegiatan belajar mengajar yang semula tatap muka menjadi serba online. Dengan peralihan ini muncul beragam masalah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh manusia.

Pada 19 September lalu, Indonesia mendapatkan dorongan dari WHO dan Unicef untuk segera menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) di setiap sekolah. Dari penyampaian pers disebutkan data murid yang terdampak adanya penutupan sekolah akibat covid-19 ini. Ada 60 juta murid yang terdampak. Dorongan ini juga tetap mengharuskan penerapan protokol kesehatan dengan baik. Mengingat bahwa murid merupakan bagian dari masyarakat yang tidak menutup kemungkinan dapat terjangkit virus covid-19.

Perlu disadari bersama bahwa tidak sedikit anak yang berada di luar sekolah yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik. Bahkan tindak kriminal. Berdasarkan data dari CNBC Indonesia, tercatat adanya peningkatan perkawinan usia dini dan kekerasan yang terjadi. Dispensasi menikah naik tiga kali lipat dari tahun 2019 sampai 2020, yaitu dari 23.126 menjadi 64.211. Hal ini tentu sangat memperihatinkan. Oleh karena itu, pembukaan PTM menjadi hal yang urgen.

Walaupun sebagian pembelajaran jarak jauh ini efektif, namun tak sedikit yang masih mengalami kendala. Dari survei tiga bulan terakhir tahun 2020 terdapat lebih dari separuh anak yang masih mengalami kendala koneksi internet. Ada sebanyak 57,3 persen dari jumlah keseluruhan provinsi atau daerah. Dengan kesulitan koneksi internet ini tentu akan semakin menurunkan pemahaman murid atas materi yang didapatkan.

Pembelajaran tatap muka harus segera diadakan kembali. Dengan harapan agar generasi ini tidak semakin mengalami ketertinggalan. Adanya PJJ atau pembelajaran jarak jauh yang berkepanjangan dikhawatirkan akan menjadikan murid mengalami learning loss. Menurut penilaian Kominfo, jika PJJ terus berkepanjangan akan mengakibatkan angka putus sekolah semakin meningkat, capaian prestasi siswa mengalami degradasi, dan mendegradasi mental dan psikis murid.

Usaha untuk segera memberlakukan PTM yang aman dan sesuai perlu dukungan dari seluruh pihak. Dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah mesti merancang dengan baik bagaimana agar PTM walaupun di daerah yang masih mengalami lonjakan covid-19 tetap berjalan dengan baik. Masyarakat memaksimalkan penjagaan dengan mematuhi protokol kesehatan dengan baik.

Pembelajaran tatap muka juga harus dimaksimalkan dengan terus meningkatkan mutu dan kualitas pendidik. Sebab, jika diadakan PTM tetapi dengan tenaga pendidik yang kurang mutu, maka tidak akan maksimal. Masalah pendidikan di Indonesia ini tidak hanya soal cara atau metode pembelajaran yang dilakukan, tetapi juga guru yang seharusnya memiliki kemampuan yang memadai.

Dari masalah yang telah disebutkan, siswa membutuhkan pembelajaran yang efektif dan terstruktur dengan baik. Agar bisa mengejar ketertinggalannya selama lebih kurang 18 bulan ini. Dengan usaha terus meningkatkan kualitas guru semoga pendidikan di negeri ini bisa mengalami kemajuan. Wallahu a’lam bi al-shawaab

Oleh: M. Faiz Mubarok, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *