Puasa Ramadhan sebentar lagi selesai. Selesainya momentum bulan puasa nanti, semua masyarakat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Terlepas tujuan puasa yaitu menjadi orang yang bertakwa tercapai atau tidak, semuanya akan bergembira merayakan Hari Raya. Terkadang juga disebut hari Lebaran.
Lebaran mengandung makna lebar, lebur. Luber dan labur. Lebar artinya umat Islam dapat lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, keberkahan dari Alloh Swt. Kemudian labur artinya bersih karena bagi orang yang benar benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati akan dilabur menjadi bersih tanpa dosa.
Dahulu, di Jawa bahkan mungkin di hampir wilayah Indonesia khususnya di desa-desa, tradisi lebaran seringkali dihiasi dengan dilabur atau dicat rumah masing-masing. Banyak rumah yang dipercantik, dibersihkan agar nyaman dan bersih. Bersih-bersih dan mengecat rumah merupakan tradisi menjelang lebaran yang telah berlangsung turun-temurun.
Tradisi labur rumah tidak hanya dilakukan oleh orang yang mampu secara keduangan. Banyak juga masyarakat yang tidak berkecukupan melakukan tradisi membersihkan rumah, missalnya dengan menggunakan bahan kapur (gamping) karena harganya murah.
Masyarakat menganggap bahwa kebiasan labur rumah terasa menyenangkan dan terasa nyaman menghadapi Hari Raya. Harapannya saat lebaran para tamu yang datang baik dari keluarga maupun tetangga, melihat rumah asri dan rapi. Tentunya akan menjadi kebahagiaan sendiri.
Namun demikian, belakangan tradiri Labur rumah semakin punah, khususnya di perkotaan. Hanya di daerah perdesaan khususnya pegunungan yang masih banyak masyarakat yang masih melakukan tradisi Labur rumah.
Sebenarnya Labur rumah di samping untuk menjadikan rumah yang bersih, rapih, sehingga enak dipandang dan tentunya nyaman untuk ditinggali, juga dapat dimaknai secara simbolik. Labur rumah sebagai bentuk menciptakan semangat baru setelah lebaran dalam bekerja dan beraktivitas. Apabila yang dilabur kantor atau tempat kerja, tentunya juga untuk lebih menciptakan lingkungan kerja yang bersih, rapi dan nyaman.
Labur rumah memberikan inspirasi untuk merubah wajah yang penuh dosa menjadi bersih. Bahkan dalam konteks kantor atau tempat kerja, dapat dimaknai sebagai symbol merubah wajah birokrasi menjadi bersih dan santun dalam melayani masyarakat, bersih dari perilaku korupsi.
Nuansa Labur rumah dalam konteks yang lebih luas juga menjadikan komentum kebaikan bagi bangsa Indonesia. Labur dapat dimaknai sebagai upaya mewujudkan jati diri bangsa sebagai bangsa yang ramah, santun, dan amanah dalam pembangunan, sehingga Indonesia mewujud sebagai bangsa yang Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur ( negeri yang baik yang diampuni Allah Swt. ) atau dalam falsafah jawa adalah Gemah Ripah Loh Jinawi.
Puasa sendiri merupakan sebuah perjalananan spiritual bagi umat muslim yang melaksanakan ibadah selama sebulan penuh. Semua berharap agar dosa yang melekat pada setiap insan manusia muslim dapat terkubur dan hilang dengan menjalankan puasa Ramadhan.
Hampir umat muslim seluruh dunia merasakan magnet kebajikan dari bulan puasa. Selama sebulan, semua kegiatan aktivitas muslim diorientasikan untuk memberikan yang terbaik kepada Allah Swt. Dampak positif yang diharapkan adalah adanya kesadaran untuk melakukan kebaikan, peningkatan kualitas hidup.
Moment ibadah dan dampak kebaikan yang dirasakan dari puasa Ramadhan harapanya tidak berhenti sampai dengan berakhirnya bulan Ramadhan 1442 H. Idealnya tidak sekedar momentum pelatihan sebulan, ataupuan ritual tahunan. Semangat Ramadhan perlu terus dibawa sampai kepada Ramadhan selanjutnya.
Semangat Ramadhan idealnya melekat kepada setiap muslim apapun profesinya. Dampak Ramadhan dapat melabur ke dalam jiwa masing-masing dan mengimplementasikan dalam profesi, sehingga memberikan peningkatan berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
*Dikutip dari berbagai sumber.
Oleh: Dr. Imawan Sugiharto, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal





