Oleh : Laskar Hidzib, Seseorang yang tidak begitu paham dengan AD dan ART HMI, juga tidak cakap Literasi seperti kader-kader HMI yang hebat dalam beretorika
Yunda, lewat tulisan ini, akan kuceritakan kepadamu; tentang awal mula, sebuah perjuangan, juga sebuah pertemuan yang maha luar biasa. Tentang bagaimana sepasang lajur kereta api yang selalu beriringan, senantiasa bersama dalam teriknya matahari dan gigilnya udara malam. Beberapa kisah yang akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Sebuah cerita tentang perjalanan waktu. Biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku Laskar Hidzib, dan aku adalah juru dongengmu.
Hidup tidak melulu soal bagaimana kita berjuang, namun juga bagaimana kita harus belajar. Terkadang perjuangan yang kita lakukan tidak selalu menemukan hasil yang dicari, malah tidak jarang berbelok berlawanan arah pada apa yang telah direncanakan. Saat itulah kita belajar tentang arti hidup dan makna kehidupan yang mungkin akan membawa kita lebih bijaksana.
Hahaha, Yunda masih disana untuk menyimak ceritaku, kan? Jangan-jangan karena introku yang panjang, Yunda lebih memilih untuk memutar serial drama Korea. OK? Dengarkan baik-baik ceritaku ini, Yunda. Semoga setelah ini, ceritaku masih tetap akan menjadi dongeng pengantar tidurmu.
Siang itu cuaca sangat terik sekali. Semesta seakan menahanku untuk tetap berbaring di kamar. Sambal masih menguap, aku buka IG dan mengetikkan kata dayana di kolom pencarian. Beberapa postingan yang berisi foto dan video Dayana pun berjejer rapi. Alhasil, mataku pun tertarik untuk menonton salah satu video. Klik, spontan muncul sosok Dayana yang sedang mengobrol bersamasalah satu Youtuber Indonesia. Tepat saat Dayana tersenyum malu, seketika sekitarku menjadi gelap.
“Brukkkkkk”, aku terjatuh di sebuah lubang yang dalam. Gelap. Tak ada cahaya sama sekali. Aku arahkan pandanganku ke sekitar. Akhirnya aku menemukan setitik cahaya di arah barat daya. Aku berjalan menyusuri lorong tersebut dan sampai di satu ruangan besar yang didominasi oleh warna hijau-hitam.
Sampai disini, Yunda bisa membayangkan apa yang aku alami, kan? Ok, aku lanjutkan ceritanya.
Di ruangan tersebut, aku menjumpai 3 monitor besar yang berjejer rapi. Masing-masing memutar video yang berbeda-beda. Diatas masing-masing monitor tersebut, terdapat lambang sebuah organisasi. Iya, aku tahu lambang apa itu. Itu lambang HMI.
Di monitor pertama, aku melihat beberapa sosok yang dengan gagahnya sedang mengevakuasi korban banjir. Dari beberapa sosok yang ada di sana, aku bisa mengenal dua diantaranya. Kedua sosok tersebut adalah Kanda Sadam dan Arya. Iya, aku pastikan keduanya adalah mereka. Sebab tempo hari aku melihat poster keduanya kerap menghiasi time line IG dan Facebookku.
Meski keringat keduanya terus bercucuran, namun semangat untuk berjuang dan meringankan beban korban banjir patut diacungi jempol. “Ayo semangat, teman-teman. Pantang pulang sebelum senyum tersungging tanpa beban”, ucap Kanda Sadam. Tak mau kalah, Kanda Arya pun menimpalinya dengan kepalan tangan kanan ke atas. Diikuti oleh puluhan orang yang ternyata adalah pengurus PB HMI.
Di monitor kedua, aku melihat seorang perempuan muda yang membawa sebuah kardus bertuliskan “HMI Tanggap Bencana”. Disampingnya, dengan gagah ada seorang laki-laki yang menenteng toa. Keduanya adalah Yunda Naila dan Kanda Sadam. Masih sama seperti di monitor yang pertama, mereka juga tidak sendirian. Namun diikuti oleh puluhan kader-kader HMI yang lain.
Di seberang jalan, tepatnya dibawah lampu lalu lintas, terlihat Kanda Arya sedang meminta tolong kepada salah seorang temannya. “Bang Taufan, minta tolong ambilkan satu box masker lagi. Nanggung nih, mumpung masih semangat”, ucap Kanda Arya. Tanpa banyak bicara, laki-laki yang dipanggil bang taufan tersebut langsung membawakan sekardus box. Tak kalah semangat dengan Kanda Sadam dan Yunda Naila, Kanda Arya dan Kanda Taufan pun dengan penuh semangat membagikan masker kepada para masyarakat yang sedang berlalu lalang.
Di monitor yang terakhir, terlihat erupsi sebuah gunung berapi yang membuat masyarakat kalang kabut. Ada yang terlihat sedang tergopoh-gopoh menyelamatkan hewan ternak. Ada pula yang sedang sibuk menenangkan anaknya. Diantara kerumunan masyarakat tersebut, tampak terlihat Yunda Naila sedang sibuk menghibur seorang gadis kecil yang matanya tampak sayu. Tak ada air mata yang keluar. Dugaanku, gadis tersebut sudah mengalami musibah yang memilukan.
Di belakang Yunda Naila, tampak Kanda Arya dan Kanda Taufan sedang sibuk memapah seorang laki-laki yang sudah udzur. Tidak jauh dari sana terlihat Kanda Sadam sedang sibuk menuntun seekor sapi yang badannya sudah kurus. Meski begitu, tampaknya Kanda Sadam kesulitan untuk menaikkannya ke atas truk. Meski sudah berulang kali beruhasa, tetap saja sapi tersebut tidak mau naik ke atas truk.
Kemudian ada seorang laki-laki gagah yang membantunya. Abdul Muiz namanya. Aku tahu nama tersebut dari name tag yang ada di atas saku kiri baju yang dia kenakan. Setalah mencoba tiga kali, akhirnya sapi tersebut berhasil dinaikkan ke atas truk. “Akhirnya selesai sudah. Hufr, capek sekali hari ini. Semoga Tuhan meridhoi perjuangan ini”, ucap Kanda Sadam sambal ngos-ngosan. Karena kelelahan, Kanda Muiz pun duduk di sebelah sapi tersebut. “Cuuuurrrrrrrrrrr”, tiba-tiba sapi yang tadi dinaikkan nguyoh dengan sangat derasnya.
“Lhoh, koq basah? Owalah, ternyata kamarku kebocoran. Hahahaha”
Yunda masih mau mendengarkan ceritaku? Kalau bosan bilang saja ya, Yunda. Pesanku, “Lambaikan tangan jika kamu memang tak mam(p)u berjuang. Tak perlu menjadikan keputusan semesta sebagai sebuah alasan, untuk meninggalkan“.








Dualisme teroooosssssss
Tuhan menciptakan dua tangan untuk baku hantam